Renungan Harian CAHAYA SABDA 17 Juli 2017, Mat 10:24-11:1

Senin Pekan Biasa XV

Bacaan Pertama : Kel 1:8-14.22
Marilah kita bertindak terhadap orang Israel dengan bijaksana, agar mereka jangan semakin bertambah banyak.

Mazmur : Mzm 124:1-3.4-6.7-8
R:8a Pertolongan kita dalam nama Tuhan.

Bait Pengantar Injil : Mat 5:10
Berbahagialah orang yang dikejar-kejar karena taat kepada Tuhan, sebab bagi merekalah Kerajaan Allah.

Bacaan Injil : Mat  10:34-11:1
Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius:

Pada suatu hari
Yesus bersabda kepada keduabelas murid-Nya,
"Jangan kalian menyangka,
bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi.
Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang.
Sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya,
anak perempuan dari ibunya,
menantu perempuan dari ibu mertuanya,
dan musuh orang ialah seisi rumahnya.
Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih daripada-Ku,
ia tidak layak bagi-Ku.
Dan barangsiapa mengasihi puteranya atau puterinya lebih daripada-Ku,
ia tidak layak bagi-Ku.
Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikuti Aku,
ia tidak layak bagi-Ku.
Barangsiapa mempertahankan nyawanya,
ia akan kehilangan nyawanya,
dan barangsiapa kehilangan nyawanya demi Aku,
ia akan memperolehnya kembali.

Barangsiapa menyambut kalian, ia menyambut Aku,
dan barangsiapa menyambut Aku,
ia menyambut Dia yang mengutus Aku.

Barangsiapa menyambut seorang nabi sebagai nabi,
ia akan menerima upah nabi,
dan barangsiapa menyambut seorang yang benar
sebagai orang benar,
ia akan menerima upah orang benar.

Dan barangsiapa memberi air sejuk secangkir saja
kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia murid-Ku,
Aku berkata kepadamu, sungguh ia takkan kehilangan upahnya."

Setelah Yesus selesai mengajar keduabelas rasul-Nya,
pergilah Ia dari sana
untuk mengajar dan memberitakan Injil di dalam kota-kota mereka.

Demikianlah Injil Tuhan.

Renungan:
Nyawa adalah yang membuat tubuh hidup dan dinamis serta bergairah. Maka nyawa juga berarti cita-cita, dambaan, harapan dan impian. Kehilangan nyawa berarti tidak mengikuti cita-cita, dambaan, harapan dan impian pribadi melainkan mengikuti kehendak dan perintah Tuhan sebagaimana Ia tegaskan dalam Injil-Nya hari ini. "Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya."
           Kehilangan nyawa karena Tuhan berarti merelakan apa yang menjadi cita-cita, dambaan, harapan dan impiannya diintegrasikan pada kehendak dan perintah Tuhan.
           Kehendak dan perintah Tuhan antara lain dapat kita temukan dalam aneka tatanan dan aturan yang terkait dengan panggilan dan tugas pengutusan kita masing-masing serta panggilan untuk senantiasa memperhatikan dan mengasihi mereka yang kecil, miskin dan berkekurangan. Memperhatikan dan mengasihi mereka yang kecil, miskin dan berkekurangan juga tidak hanya mengikuti kemauan dan keinginan diri kita sendiri. Pertama-tama dan terutama kita harus hidup dan bersama dengan mereka yang kecil, miskin dan berkekurangan, dan kemudian bersama-sama dengan mereka bangkit untuk mengentaskan diri dari kekecilan, kemiskinan dan kekurangan. Untuk mampu memperhatikan dan mengasihi yang kecil, miskin dan kekurangan harus bersikap mental inkarnasi, yaitu meneladan Allah yang melepaskan ke Allahan-Nya dan menjadi manusia seperti kita, sama dengan manusia kecuali dalam hal dosa.

"Berani kehilangan nyawa karena Tuhan, akan beroleh kehidupan yang kekal bersama-Nya"

0 komentar:

Posting Komentar

Popular Posts Widget