Tampilkan postingan dengan label Catatan Pengalaman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan Pengalaman. Tampilkan semua postingan

*KISAH LAGU ABIDE WITH ME* _( Lukas 24 : 13-35 )_ *[ MADAH BAKTI 559 ]*

*KISAH LAGU ABIDE WITH ME*
_( Lukas 24 : 13-35 )_
*[ MADAH BAKTI  559 ]*

*Lagu Abide With Me ini dituliskan liriknya oleh Henry Francis Lyte pada tahun 1847 dan akhirnya diberi nada oleh William Henry Monk pada tahun 1861*

*Karena menderita TBC (Tuberculosis) maka Henry terinspirasi untuk menuliskan lagu yang sangat menyentuh hati ini sehingga menjadi salah satu lagu favorit Mahatma Gandhi*

_Liriknya jika ditelusuri, maka sangat menggambarkan pengalaman hari yang akan berakhir : menjelang petang, kegelapan yang makin dalam, redup, dan kemuliaan yang memudar yang jika diinterpretasikan maka bisa sebagai akhir dari hidup_

*Henry Francis Lyte menyelesaikan lirik lagu ini pada hari Minggu terakhir pelayanan yang sudah dijalani selama bertahun - tahun yang akhirnya harus ditinggalkan karena penyakit yang dideritanya*

Dia akhirnya meninggal di Nice, France 3 minggu setelah menuliskan lagu ini. Ia meninggal dalam perjalanan menuju Italia untuk menyembuhkan penyakitnya.

*_Pada khotbah terakhirnya, Henry mengambil dari Lukas mengenai Yesus yang berjalan bersama 2 murid-nya menuju Emaus_*

*Yesus yang beberapa hari sebelumnya meninggal di kayu salib, akhirnya dia bangkit dari kematian dan berjalan bersama mereka. Pada akhirnya murid Yesus tersebut sadar bahwa itu Yesus*

Lukas 24:29 Tetapi mereka sangat mendesak-Nya, katanya: "Tinggallah bersama-sama dengan kami, sebab hari telah menjelang malam dan matahari hampir terbenam." Lalu masuklah Ia untuk tinggal bersama-sama dengan mereka.

Luke 24:29 But they urged him strongly, "Stay with us, for it is nearly evening; the day is almost over." So he went in to stay with them.

_*Jika ingin sedikit berimajinasi, maka kita dapat mendengarkan lagu tersebut saat di tepi pantai menjelang matahari terbenam, kita dapat merasakan perasaan sang penulis yang sudah "di ujung akhir (sore)" hidupnya namun dapat meninggal dengan tenang karena dia tahu siapa yang dia percayai*_

Kesaksian Sr. Carol dari Suriah Penerima Penghargaan Internasional Wanita Tangguh 2017

***Kesaksian Sr. Carol dari Suriah Penerima Penghargaan Internasional Wanita Tangguh 2017***

Selamat Paskah! Beberapa hari lalu saya menulis: "Bangga...bukan berarti sombong (...). Bangga...berarti terdorong untuk berbuat lebih, lebih, dan lebih baik lagi". Saya terinspirasi oleh Suster Carolin Tahhan Fachakh dari Suriah, penerima Penghargaan Internasional Wanita Tangguh 2017 (International Women of Courage Award). Biarawati Salesian dari Kongregasi Puteri-puteri dari Maria Penolong Orang-orang Kristen (Congregatio Filiarum Mariae Auxiliatricis) ini menerima penghargaan dari tangan First Lady dari Amerika Serikat, Melania Trump.

Sr. Carol, biasa dipanggil, lahir di Aleppo, Suriah, dan kesaksiannya yang amat mengharukan dalam melayani dan membantu orang-orang yang terkena dampak konflik Suriah dan komitmennya untuk melindungi dan mendukung mereka yang paling rentan, terutama anak-anak, pengungsi, dan para perempuan pengungsi, membuatnya terpilih untuk menerima penghargaan internasional itu. Dengan menempatkan hidupnya sendiri pada risiko, Suster Carolin telah menjadi tanda harapan bagi umat Islam dan Kristen. Selain memimpin Sekolah Taman Kanak-kanak (TK) dan menyediakan lingkungan yang aman bagi anak-anak yang mengalami trauma, ia juga memimpin sebuah lokakarya (kursus) menjahit untuk memberikan keahlian profesional untuk perempuan-perempuan yang paling rentan.

Suster Carol mengatakan: "Saya sadar bahwa penghargaan ini bukan hanya untuk saya tetapi untuk Gereja di Suriah, yang adalah SATU dan kami sangat bersatu. Perang ini telah membuat kami semakin bersatu. Tak satu pun dari kami ingin meninggalkan negara ini sejak awal perang. Suriah saat ini adalah negara yang hancur, tidak hanya dalam perekonomian tetapi dalam budaya, dalam akar-akarnya. Suatu hari di sekolah seorang anak telah mengeluarkan bunyian dengan mulutnya dan saya bertanya apa itu. Dia menjawab itu suara bom, yang berbeda dari suara rudal. Saya tidak bisa berpikir bahwa anak-anak Suriah saat ini belajar untuk membedakan senjata dan tidak bermain, belajar dan tumbuh sebagai anak-anak 'normal' lainnya."

"Allah telah menciptakan dunia bagi kita. Kita tidak bisa tetap acuh tak acuh terhadap kehancuran dari dunia... . Mari kita semua, pria dan wanita, semua menjadi pembawa damai. Karena perdamaian itu mungkin. Amin." Demikian harapan dan ajakan Sr. Carol yang diyakininya.

(Shirley Hadisandjaja / UNIONE INTERNAZIONALE DELLE SUPERIORE GENERALI 12 Apr 2017)

"RENUNGAN MASA TUA"

"RENUNGAN MASA TUA"

1. Sisα hίdυρ semakin pendek,
» yg bisa dan baik kita makan, makanlah;
» yg bisa dan baik kita pakai, pakailah;
» yg baik dan Ingin kita beli, belilah;
» kalau masih bisa memberi, berilah;
» masih bisa berbagi, berbagilah.

Karena semua yg ada tidak bisa kita bawa ke kubur. Jangan khawatir dg ahli waris, Tuhan yg akan mengatur rezeki selagi mereka berusaha. Nikmatilah hίdυρ ini dg pasangan kita selagi masih ada.

2. Dulu berusaha keras utk memiliki yg kita cintai. Saatnya berusaha keras utk ikhlas melepas yg kita cinta. Karena pada akhirnya harta, tahta, Anak, Istri akan kembali kepada NYA. Percayalah kebahagian tdk akan kita rasakan tanpa keikhlasan.

3. Sehari berlalu, umur berkurang sehari. Bila kita lewati hari ini dengan berbahagia kita sangat beruntung, berbuat baiklah dan selalu mengucap syukur, karena kita tidak tahu kapan kita akan dipanggil.

4. Waktu cepat berlalu, hidup itu sangat singkat dan susah. Dlm sekejap kita kini memasuki masa tua, dan dlm sekejap nanti kita berada di Pusara. Itu PASTI !

5. Bila membandingkan ke atas kita akan selalu merasa kurang; membandingkan ke bawah kita merasa lebih; bila kita bisa merasa cukup dan mensyukuri apa yang kita punya, kita pasti bahagia. Bersyukurlah dengan apa yg kita punya.

6. Harta, kekayaan, kedudukan, jabatan, kehormatan --- semua itu hanyalah sementara, hanya titipan. Yang terbaik dan terpenting adalah Perilaku yang Baik, bisa membantu orang, tidak berbuat hal2 tercela, kontrol diri. Jangan MENYAKITI hati orang lain dan melatih diri agar selalu sehat lahir dan bathin. Karena KESEHATAN adalah KEKAYAAN kita dan modal utama menikmati kebahagiaan hίdυρ ini.

7. Kasih orang tua kepada anak tidak ada batasnya ! Kasih anak terhadap orang tua ada batasnya.
Sadarlah ! Anak sakit, hati orang tua teriris; orang tua sakit anak cuma nengok dan bertanya2. Anak2 memakai uang orang tua sudah seperti keharusan, tetapi orang tua memakai uang anak pasti tidak bisa leluasa ! Oleh karena itu, CUKUPILAH diri sendiri dan berikanlah pada anak se-BIJAKSANA mungkin.

8. Rumah orang tua adalah rumah anak, tetapi rumah anak bukanlah rumah orang tua. Orang tua selalu memberi tanpa pamrih. Tetapi tidak semua anak akan berbakti kepada orang tua.

9. Orang tua selalu mendoakan anak, Tetapi anak karena kesibukannya tidak selalu mendoakan orang tua. Maka bekali kubur anda dgn amal yg banyak, tidak hanya bergantung pada doa anak.

10. Kebaikan dan keburukan akan selalu datang sebagai ujian tidak akan berakhir sampai mati. Maka sikapi dengan syukur dan sabar. Semoga Hari Tuamu Bahagia.

"SELAMAT BERBAHAGIA DI MASA TUA"

Mendidik Anak

Anak-anak yang dididik dalam keluarga yang penuh kesantunan, etika tata inkrama & sikap kesederhanaan akan tumbuh menjadi anak-anak yang tangguh, disenangi & disegani banyak orang..

Mereka tahu aturan makan table manner di restoran mewah.
Tapi tidak canggung makan di warteg kaki lima..

Mereka sanggup beli barang-barang mewah.
Tapi tahu mana yang keinginan dan kebutuhan..

Mereka biasa pergi naik pesawat antar kota bahkan antar benua.
Tapi santai saja saat harus naik angkot kemana-mana...

Mereka berbicara formal saat bertemu orang berpendidikan.
Tapi mampu berbicara santai bertemu orang jalanan...

Mereka berbicara visioner saat bertemu rekan kerja.
Tapi mampu bercanda lepas bertemu teman lama...

Mereka tidak norak saat bertemu orang kaya.
Tapi juga tidak merendahkan orang yg lebih miskin darinya...

Mereka mampu membeli barang-barang bergengsi.
Tapi sadar kalau yang membuat dirinya bergengsi adalah kualitas & kapasitas dirinya, bukan dari barang yang dikenakannya...

Mereka punya...
Tapi tidak teriak kemana -mana...

Kerendahan hati yang membuat orang lain menghargai dan menghormati dirinya.

Jangan didik anak dari kecil dengan penuh kemanjaan, apalagi sampai melupakan kesantunan & etika tata krama.

Hal-hal sederhana tentang kesantunan seperti :
Pamit saat pergi dari rumah, permisi saat masuk ke rumah teman (karena ternyata banyak orang masuk ke rumah orang tidak punya sopan santun, tidak menyapa orang orang yang ada di rumah itu),
kembalikan pinjaman uang sekecil apapun, berani minta maaf saat ada kesalahan & tahu berterima kasih jika dibantu sekecil apapun.
Kelihatannya sederhana,
tapi orang yang tidak punya attitude itu tidak akan mampu melakukannya.

Bersyukurlah kalau kita terlahir di keluarga yang mengajarkan kita kesantunan, etika, tata krama & kesederhanaan.

Karena ini jauh lebih mahal daripada sekedar uang.

semoga bermanfaat..🙏🙏🙏😇😇😇😍😍😍

GEMBIRA DALAM DERITA

     By. Rm. Januar Kado, Pr

Saya teringat akan seorang bapak di paroki tempat saya bertugas. Keadaan strokenya sangat parah sehingga ia tampak tak berdaya sama sekali. Badannya kaku hampir tidak dapat digerakkan dan yang dapat dilakukannya hanyalah duduk di sebuah kursi, sepanjang siang dan pada malam hari dia terbaring kaku di atas tempat tidur. Jika orang hendak mengunjunginya, ia bahkan tidak dapat memutarkan kepalanya untuk mengadakan kontak mata.
    Bilamana saya datang mengunjunginya tuk memberikan komuni kudus, saya selalu menyapa, “Hallo bapak, apa kabar hari ini ?”
            Dan jawabannya pun selalu sama, “Baik-baik saja, Romo. Terimakasih !”
            Mulanya, di lubuk hatiku ada keinginan bahwa setiap kali saya berbicara kepadanya, saya sebenarnya hendak mengatakan “Bukan hanya kamu yang mengalami penderitaan, tapi saya juga banyak mengalami hal buruk di dalam melaksanakan tugas-tugasku sebagai seorang imam”. Tetapi setelah menyaksikan orang ini menderita dan menjawab pertanyaan saya dengan begitu riang, saya akhirnya lupa dengan apa yang saya alami dan muncul suatu makna baru dalam hatiku bahwa semuanya harus dihadapi dengan senyum gembira. Akhirnya setiap kali selesai melayani komuni kudus untuknya, saya selalu meninggalkan rumahnya dengan penuh kegembiraan.

Refleksi : Tobit 2 : 10-23

            Kitab suci tidak kurang bercerita tentang orang yang menderita dan sedih. Tetapi dalam kesedihannya, mereka mengangkat doa pada Tuhan dan Tuhan pun mendengarkan keluh-kesah hati mereka.
            Tidak dapat dipungkiri bahwa penderitaan merupakan bagian integral dari kehidupan setiap insan manusia tanpa terkecuali. Dan Tobit orang saleh dalam Kitab Suci yang hidup dalam pembuangan, yang begitu setia kepada Tuhan dan berbuat baik pada sesama pun juga mengalami apa yang dinamakan penderitaan. Penderitaannya begitu luar biasa. Ia terpaksa harus melarikan diri, kehilangan harta bendanya, dan tertimpa sakit lalu menjadi buta. Sampai-sampai isterinya pun mengutuk dia karena sudah tidak lagi mengerti hubungan antara kesalehan dan penderitaan. Isterinya tidak mendugai Penyelenggaraan Ilahi yang sedang berjalan. Kadang kita pun ingin cepat mendapat hasil dari doa, kesalehan, perbuatan amal, dan tidak lagi memperdulikan kebenaran bahwa doa yang paling berkenan kepada Tuhan ialah penyerahan diri tanpa pamrih. Dan Tobit adalah contoh bagaimana belajar setia dan berkanjang pada Tuhan dalam penderitaan.
            Tobit tidak memberontak, tetapi sabar mengakui dosa yang ada pada dirinya dan pada bangsanya, serta sabar menyerahkan segalanya pada bimbingan Tuhan. Dengan demikian ia membiarkan Tuhan yang bekerja di dalam dirinya dan mengatur hidupnya sesuai rencana Penyelenggaraan Ilahi yang maha agung, luhur dan bijaksana. Karena itu, Tobit tetap percaya, sabar penuh harapan dan setia berkanjang, meski menurut pandangan umum ini tak masuk akal karena Tuhan rupanya tak kunjung datang menolong umat-Nya.
            Seperti dalam kisah Tobit, Penyelenggaraan Tuhan kadang-kadang berjalan berliku-liku tapi kita harus menanti dengan percaya, tetap setia berkanjang pada kebenaran meski nampak ditertawakan nasib karena Tuhan tahu yang terbaik untuk kita yang setia kepada-Nya, dengan mengatur jalan hidup kita menjadi keselamatan dan kebahagiaan.

Popular Posts Widget