Renungan Harian Cahaya sabda 08 Juli 2017, Mat 9:14-17

Sabtu 08 Juli 2017 Pekan Biasa XIII

Bacaan Pertama Kej 27:1-5.15-29
Yakub menipu saudaranya dan merampas berkat anak sulung.

Mazmur : Mzm 135:1-2.3-4.5-6
R:3a Pujilah Tuhan, sebab Ia baik.

Bait Pengantar Injil ; Yoh 10:27
Domba-domba-Ku mendengar suara-Ku, sabda Tuhan. Aku mengenal mereka, dan mereka mengikuti Aku.

Bacaan Injil Mat 9:14-17
Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laku-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka?

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius: 

Sekali peristiwa datanglah murid-murid Yohanes 
kepada Yesus dan berkata, 
"Kami dan orang Farisi berpuasa, 
tetapi mengapa murid-murid-Mu tidak?" 
Jawab Yesus kepada mereka, 
"Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita 
selama mempelai itu bersama mereka? 
Tetapi akan tiba waktunya mempelai itu diambil dari mereka, 
dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa." 

Tak seorang pun menambalkan secarik kain yang belum susut 
pada baju yang tua, 
karena jika demikian, 
kain penambal itu akan mencabik baju itu, 
lalu makin besarlah koyaknya. 
Begitu pula 
anggur yang baru tidak diisikan ke dalam kantong kulit yang tua, 
karena jika demikian 
kantong itu akan koyak sehingga anggur itu terbuang 
dan kantong itu pun hancur. 
Tetapi anggur yang baru disimpan orang dalam kantong yang baru, 
dan dengan demikian, terpeliharalah kedua-duanya." 

Demikianlah Injil Tuhan.


Renungan:
Puasa dilakukan oleh berbagai macam bangsa maupun agama di dunia ini mulai dari bangsa Mesir, Yunani, Tionghoa, bangsa Arab maupun bangsa Yahudi, agama Islam, Kristen dan Katolik juga mengenal puasa. Hanya motivasi, bentuk, macam dan caranya masing-masing agama tentu berbeda-beda. Bagi umat Katolik, biasanya puasa atau pantangan (tidak melakukan atau makan dan minum sesuatu yang disukainya) berlangsung selama 40 hari.
     Puasa adalah latihan mental yang bertujuan mengubah sikap dan kejiwaan manusia. Oleh karenanya, puasa adalah sakral, karena dihubungkan dengan niat mendekatkan diri kepada Tuhan. Salah satu cara bertobat adalah dengan berpuasa. Orang Yahudi berpuasa dua kali seminggu, yakni Senin dan Kamis. Namun dalam Injil hari ini dikisahkan bahwa murid-murid Yohanes bertanya kepada Yesus: "Mengapa kami dan orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?" Jawab Yesus kepada mereka: "Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka? Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa."
    Dikisahkan bahwa semasa Yesus hidup, murid-Nya tidak berpuasa, karena Yesus, Sang Pengantin, sedang berada bersama mereka. Yesus berada dekat dengan mereka bukankah puasa itu dilakukan supaya kita lebih dekat pada Tuhan. Maka ketika bersama Yesus para murid selalu bergembira ibarat sedang gembira dalam "pesta kawin". Namun sesudah Yesus wafat dan bangkit, para murid berpuasa. Umat Kristen  berpuasa agar mengalami pertobatan batin. Karena itu, bukan hanya hari, jam atau jumlah makanan yang penting dalam berpuasa, tetapi mutunya. Yang utama bukan kuantitas, tetapi kualitas.


"Dengan pertobatan batin mendalam, kita mengerti arti pentingnya berpuasa."

0 komentar:

Posting Komentar

Popular Posts Widget