*_Gajah dipelupuk mata tidak nampak_*, *_kuman diserang lautan tampak_

Ada peribahasa
*_Gajah dipelupuk mata tidak nampak_*,
*_kuman diserang lautan tampak_*

Begitu pun kita diajar
_“Hai orang munafik_,
_keluarkanlah dahulu balok dari matamu sendiri_,
_maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar dari mata saudaramu.”_
*(Mat 7:5)*

Dengan peribahasa ini bisa kita lihat *kecenderungan sikap* dari banyak orang bila *menilai suatu kesalahan orang lain*,
kita *sangat begitu mudah menunjuk kesalahan* kecil (selumbar/kuman) orang lain
dan *lebih mengabaikan* kesalahan diri sendiri yang lebih besar (gajah/balok).

Kita cenderung sering mudah menfonis orang lain
daripada memeriksa diri/merefleksi diri;
lebih gampang menyalahkan orang lain
daripada menyalahkan diri sendiri.

Kecenderungan ini telah begitu mewabah dalam kehidupan masyarakat kita pada masa sekarang ini.

Dengan kecenderungan dan kebiasaan seperti ini bisa memperoleh:
*Pertama*,
Ada kesombongan dalam diri banyak orang.
Merasa dirinya benar
dan orang lain salah;

Merasa diri sempurna
sedangkan orang lain banyak kekurangan.

*Kesombongan* itu bagaikan balok besar yang menghalangi mata untuk melihat dirinya sendiri.

Coba kita perhatikan
orang yang sombong
cenderung *sangat mudah melihat orang lain sebagai penyebab*
terjadinya kesalahan,
terjadinya kekeliruan atau
terjadinya kegagalan,
daripada melihat pada dirinya sendiri.

*Kedua*,
kebiasaan menyalahkan orang lain menunjukkan bahwa
adanya *ke-tidak-mau-an* dan *ke-tidak-mampu-an* me-refleksi-diri/me-koreksi dari hidupnya.

Kebiasaan *me-refleksi* atau *melakukan pemeriksaan batin* merupakan kesempatan bagi setiap orang untuk *melihat kembali* lagi bagaimaba dirinya,
dalam berpikir,
berkehendak,
bersikap,
berperilaku dan
bertindak atau berbuat.
Apakah sudah benar dan baik?
Apakah selaras dengan iman dan norma2?

Ke-tidak-manpu-an dalam ber-refleksi menumbuhkan kesombongan,
kesombongan2 yang selalu muncul akhirnya menjadi balok besar yang menyumbat mata hati yang meng-akibat-kan hilangnya daya pandang rohani pada jarak dekat,
bahkan tidak mampu lagi melihat dengan jelas
kekurangan,
kelemahan dan
kesalahan diri sendiri.
Bila sudah demikian
maka akan terhambatlah perkembangan kehidupan rohaninya.

Mari senantiasa kita *cungkil* balok kesombongan yang selama ini ada di dalam mata,
sehingga kita *berkemampuan melihat jarak dekat* secara rohani dan
mampu melihat diri sendiri dengan jelas dan
mampu dengan mudah melihat kekurangan/kesalahan diri sendiri.
Berkah Dalem *†*

0 komentar:

Posting Komentar

Popular Posts Widget