Rabu, 1 Desember 2010
Peringatan St. Eligius
Mat.15:29-37; “Mujizat itu Nyata bila...”

“Mujizat adalah anugerah Tuhan, tapi sayangnya,
banyak orang yang diperkenankan melaluinya mujizat terjadi,
berbuat seakan-akan dialah pembuat mujizat.”

          Kelaparan menjadi masalah abadi sepanjang masa. Bagaimana tidak bila  kita memperhatikan di layar televisi; banyak orang dengan pakaian mewah bisa memilih apa saja yang bisa dimakan sementara yang lain harus mencari makan pagi, siang dan malam mereka di tempat-tempat sampah. Di Manila, kenyataan seperti ini sungguh menjadi sebuah pengalaman biasa yang mungkin sudah dianggap biasa sehingga pikiran tidak pernah berpikir dan hati tidak pernah merasakan bahwa ada masalah serius yang sedang terjadi di antara kita.

            Injil hari ini menampilkan peristiwa mujizat perbanyakan roti. Mujizat ini terjadi karena keprihatinan Yesus akan nasib banyak orang yang akan lapar dan bahkan bisa terjadi sesuatu kepada mereka bila mereka dibiarkan pergi mencari makan sendiri setelah seharian mendengarkan pengajaran-Nya. Hati-Ku tergerak oleh belas kasihan kepada mereka, demikian ungkapan keprihatinan Yesus. Keprihatinan ini membuat-Nya berpikir tentang bagaimana Ia dan murid-murid-Nya harus berbuat sesuatu kepada mereka yang sedang lapar ini. Langkah selanjutkanya, Yesus meminta roti dan ikan yang ada pada para murid, mengangkat syukur kepada Sang Bapa, dan kemudian meminta para murid membagi-bagikan roti dan ikan itu kepada ribuan orang itu, dan mereka makan sampai kenyang. Wow, mujizat telah terjadi.

            Kini, kita bertanya; Apa yang bisa kita perbuat kepada mereka yang duduk di pinggir jalan, yang mengais rezeki dari mereka yang melewati jalan itu? Apa yang kita bisa perbuat ketika sebagian orang harus telanjang tanpa pakaian? Apa yang bisa kita buat ketika banyak orang putus asa dan frustrasi? Dan, masih ada banyak realitas sosial yang membuat kita bertanya; “Apakah mujizat bisa terjadi lagi di zaman ini bagi si lapar dan haus? Bagi mereka yang telanjang? Bagi mereka yang sakit? Bagi mereka yang putus asa? Aku mau yakinkan Anda sekalian bahwa “pasti mujizat masih bisa terjadi.” Bagaimana dan siapa yang membuatnya? Jawabanku; Yang bisa berbuat mujizat di zaman ini adalah saudara dan aku. Bagaimana caranya? Caranya ialah ketika saudara dan aku rela berbagi apa yang kita miliki. Masa sih? Iya, jawabku. Tuhan sedang memakai saudara dan aku untuk melakukan mujizat itu bila kita rela mengeluarkan sekeping coin dari dompet kita dan memberikan kepada pengemis yang mengais rezeki di pinggir jalan; Mujizat itu bisa terjadi bila saudara dan aku rela membagikan sepiring nasi jata makan kita kepada si lapar; Mujizat itu bisa terjadi bila kita mau memberikan sebotol air kepada yang haus; Mujizat itu bisa terjadi bila kita rela menemani yang putus asa dan kehilangan pegangan hidup. Mujizat itu sungguh nyata bila saudara dan aku mau.


Selamat memasuki bulan baru.

Teriring salam dan doa kecilku untukmu selalu,

Rinnong