MATA SANG ROMO DAN PAHA PUTIH


“MATA SANG ROMO DAN PAHA PUTIH”



Perjalanan menuju kapel kecil di kota Manila untuk merayakan misa sore, diselingi sebuah peristiwa kecil ini;

“Dari kejauhan, mata memandang, hati mengingini dan akhirnya otak berpikir tentangnya. Bagaimana mungkin tidak bila aku menyadari bahwa aku adalah seorang pria yang masih mempunyai  keinginan dan nafsu layaknya seorang laki-laki. Apa yang membedakan aku dengan pria lain, adalah gelar dan pakaian putih alias jubah yang menjadi tanda bahwa aku adalah seorang  romo.


Kakinya yang panjang, putih mulus, serta betisnya yang indah seakan membuat mata para pria tak berkedip memandangnya. Darah tentunya mengalir deras ke otak dan denyutan jantung berdetak kenyang semilir hembusan angin sore. Apalagi bentuk tubuhnya yang sexy bagaikan biola, sulit untuk menyangkal bahwa gelora nafsu mata setiap pria yang melihatnya akan memandang dengan penuh hasrat untuk menyentuh bahkan untuk memilikinya.


Kudekati makluk cantik nan sexy itu dengan malu-malu dengan sebuah pertanyaan yang kiranya menjadi alasan untuk memandang wajah di balik tubuh yang berdiri membelakangi semua yang lewat di situ.


Aku pun menyapanya; Hai?

Dia pun membalas lembut; Hai?

Kulanjutkan; Bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?

Ia berbalik badan dan berkata; Boleh saja, pa?

(Wow...kedua bola mata indahnya sungguh menggoda, apalagi bibir sexynya membuatku tak mengatupkan mata  untuk memandangnya)

 Aku bertanya; “Bolehkah engkau menunjukkan jalan tersingkat ke alamat ini?

Ia pun menjawab lembut  selembut kulitnya; “Jangankan menunjukkan jalan, aku akan dengan senang hati mengantarmu sampai ke sana (Maklum tempatnya tidak terlalu jauh).

(Wow...Apakah ini mimpi di siang bolong? Seakan aku mendapatkan berkat  tercurah bagaikan curahan hujan sore karena si cantik ini menawariku untuk  menjadi teman jalanku).


Sebelum berangkat, tiba-tiba aku mendengar sebuah jeritan yang menggelora-menggelegar darinya; Arai...(dalam bahasa Tagalog-bahasa Filipina), aduh dalam bahasa Indonesia. Rupanya seekor semut menggigit jari kakinya. Aku pun tersentak karena suara jeritannya kendengaran seperti bunyi suara deruman bas atau sekurang-kurangnya bariton. Ternyata.............dia adalah seorang  BENCONG. Mati aku, kataku dalam hati. Sebelum dia berbalik melihatku, aku telah berada di dalam jeepney (mobil angkot ala Filipina) dan berlalu darinya. Di dalam jeepney, aku menepuk dada sambil berkata; “Syukur, aku terhindar dari si bencong itu.”



Pikiranku tampak kacau, bukan karena aku telah berhasil meloloskan diri dari si bencong itu, tapi karena aku telah melakukan sebuah tindakan tidak terpuji atas nilai-nilai kemanusiaan yang kujunjung tinggi dan kuajarkan setiap saat. Apakah aku harus membela diri bahwa “seorang romo hanyalah seorang  manusia?” Rasanya ini hanyalah alasan untuk berlari dari kenyataan bahwa aku tidak menerima dan mencintai orang lain apa adanya.  Ketika rasa bersalah menyergap jiwaku, aku hanya berguman; Kawan, maafkanlah aku karena aku belum bisa menerima engkau apa adanya sebagai seorang manusia, yang diciptakan oleh Satu Pencipta.



Hatiku sungguh tidak tenang karena pengalaman kecil ini. Aku berpikir, seandainya dia adalah seorang gadis, maka tidak mungkin aku akan menolak menerima jasa yang ditawarkan olehnya. Tapi sayang, bahwa aku menolaknya hanya karena dia adalah seorang bencong. Sungguh, sebuah ketidak-adilan dari seorang yang mengajarkan tentang kejujuran dan cinta kasih. (Untuk diketahui bahwa status para bencong di Manila diakui secara sah oleh masyarakat, sehingga mereka pun tanpa malu menampilkan diri sebagai bencong di hadapan umum. Celakanya, sudah ada di dalam benak dan hatiku penolakan terhadap orang-orang seperti ini). Aku mencoba untuk menerima mereka apa adanya, tapi sampai saat ini aku masih mengalami kesulitan untuk mengubah apa yang telah tertanam dalam otak dan hatiku.



Sekarang aku menuliskan semuanya ini kepadamu, sahabat-sahabat mudaku agar kita sama-sama bermenung dan belajar tentang hal-hal berikut ini berdasarkan kisah kecil sore tadi.

o   Banyak  cinta dan bantuan kita sangatlah tergantung pada rasa suka atau tidak suka; pada rasa senang atau tidak senang, dan bukan pada kenyataan bahwa orang lain adalah manusia seperti kita. Banyak kali cinta kita terhambat dan bahkan tidak terberikan karena ukuran atau standard yang kita tanamkan di dalam otak dan hati kita bahwa hanya mereka yang memenuhi kriteria seperti inilah yang berhak menerima bantuan dan cinta kita. Apakah kita seorang pencinta sejati seperti Sang Guru cinta kita, Yesus Kristus, yang mengatakan; “Jika kamu ingin menjadi murid-Ku, hendaklah kamu saling mencintai.” Cinta adalah tanda nyata bahwa kita adalah murid-murid Kristus. Akan tetapi ketika cinta menjadi sesuatu yang sulit untuk terberi dengan bebas dari kita, apakah kita masih berani menyebut diri sebagai seorang pencinta, sebagai seorang murid Yesus? Mungkin alangkah baiknya kita berdoa; “Tuhan, tambahkanlah imanku.”


o   Selama kita masih menentukkan ukuran dan standard untuk mencintai atau menolong orang, maka kita tidak akan menjadi seorang pencinta sejati dalam arti sesungguhnya. Muder Teresia dari Calcuta telah menujukkan bahwa cinta sejati harus terberi sampai si pencinta merasa terluka. Itulah tindakan pengorbanan. Karena itu, jika seorang pencinta tidak relah berkorban, apakah ia masih berhak disebut seorang pencinta sejati? Renungkanlah, kawan! Ketika kita tidak mampu meyangkal diri dalam tindakan cinta, maka cinta kita akan menjadi sesuatu yang bersyarat  dan tidak mampu menjadi cinta yang tak bersyarat seperti Sang Guru cinta, Tuhan kita Yesus Kristus.


o   Cinta hendaknya tidak tergantung pada siapa mereka, atau apa status mereka, tetapi pada kenyataan bahwa mencintai mereka sama dengan mencintai Yesus. Itulah sebabnya Yesus pernah bersabda: “Barang siapa tidak mampu mencintai salah satu saudara-Ku yang paling hina ini, ia tidak bisa mencintai-Ku secara sempurna. Cinta seharusnya mengalir bagaikana aliran air yang hanya tahu mengalir dan tidak pernah memperhitungkan resikonya jika ia harus menjadi kotor akibat apa yang dilaluinya.



Sahabat-sahabatku,


Karena itu, di balik cerita pendek ini, kuajak jiwa engkau, sahabatku; Mari kita membuktikan diri bahwa kita adalah para pencinta sejati. Tepiskanlah segala penghalang di dalam jiwa untuk memberikan cinta yang tak bersyarat. Memang kita lemah sebagai manusia, namun Sang Guru cinta telah mengatakan bahwa kita pun mampu untuk mencintai sesama sama seperti Diri-Nya ketika Ia mencintai saudara dan aku tanpa batas. Yang Ia tahu hanya mencintai engkau dan aku dengan sebuah pengorban yang  tiada taranya tanpa bertanya siapakah engkau dan aku. Marilah, kita tingkatkan rasa hormat kita kepada orang lain, bukan karena keadaan mereka, bukan karena status dan jabatan mereka, tetapi karena kenyataan bahwa mereka adalah manusia, sama seperti engkau dan aku.


Di atas semuanya, Sang Maha Cinta selalu ada dalam setiap wajah yang kita jumpai dalam hidup kita. Wajah Sang Pencinta Sejati selalu merindukan saat di mana engkau dan aku tanpa bertanya siapakah mereka, tetapi hanya mencintai dan mecintai tanpa syarat. Aku hanya berbisik di akhir renunganku; “Tuhan, mampukanlah aku untuk dapat mencintai orang lain apa adanya sebagai mana Engkau lebih dulu mencintaiku tanpa memperhitungkan siapakah aku dan apa saja dosa-dosaku.” Tuhan, aku lemah, tapi aku mau menjadi seorang pencinta sejati seperti Diri-Mu. Aku tahu, Engkaulah pencinta sejati, maka berikanlah aku seberkas hati untuk dapat mencintai seperti Engkau.” Amin.



Salam rindu dari seorang sahabat untuk para sahabat,

Rinnong

0 komentar:

Posting Komentar

Popular Posts Widget