CAHAYA SABDA, 06 Februari 2017

Senin Pekan Biasa V
PW S. Paulus Miki dan teman-temannya, Martir

* Bacaan Pertama
Kej 1:1-19, Allah bersabda dan terjadilah demikian.
* Mazmur : Mzm 104:1-2a.5-6.10.12.24.35c

* Bacaan Injil : Mrk 6:53-56
Semua orang yang menjamah Yesus, menjadi sembuh.
* Renungan:
Dalam bacaan Injil dikisahkan bahwa banyak orang berusaha datang menjumpai Yesus, "Berlari-larilah mereka ke seluruh daerah ini dan mulai mengusung orang-orang sakit di atas tilamnya kepada Yesus, di mana saja kabarnya Ia berada". Buah perjumpaan mereka dengan Yesus: " Semua orang yang menjamah-Nya menjadi sembuh". Mereka sungguh yakin akan kuasa penyembuhan-Nya sehingga cukuplah bagi orang-orang sakit menjamah jumbai jubah-Nya, mereka pasti sembuh. Mereka penuh iman akan Yesus, dengan menjamah jubah-Nya berarti menjamah Yesus sendiri. Perjumpaan dengan Yesus dan mengalami kehadiran Allah itu sunggguh mengalami sukacita.
    Bagaimana dengan kita? Apakah masih berusaha untuk senantiasa menjumpai Yesus dan membawa segala sesuatu yang kita miliki pada-Nya? Beban hidup, saki penyakit, baik fisik maupun spiritual? Zaman sekarang semakin rumit dengan berbagai macam penyakit yang dialami oleh masyarakat dan makin canggih pula penanganan penyakit, namun tetap masih makin banyak penyakit yang menggerogoti manusia. Selanjutnya, apa yang harus kita lakukan? Marilah mencari Yesus Sang Penyembuh dan menjalin relasi dengan-Nya secara mesra, akrab dan intim. Dialah jawaban segalanya. Relasi yang mendalam akan menghasilkan buah yang berkualitas.

"Jumpailah Yesus, agar Dia menjamah kita dengan rahmat keselamatan-Nya."


CAHAYA SABDA, Minggu, 05 Februari 2017

Minggu Biasa V 
PW S. Agata, Perawan dan Martir

📖 Bacaan Pertama  : Yes 58:7-10
Terangmu akan merekah laksana fajar.

📖 Mazmur : Mzm 112:4-5.6-7.8a.9
R:4a  Bagi orang benar Tuhan bercahaya laksana lampu di dalam gulita.

📖 Bacaan Kedua : 1Kor 2:1-5
Aku menyampaikan kepadamu kesaksian tentang Yesus Kristus yang disalibkan.

📖 Bait Pengantar Injil : Yoh 8:12
Akulah terang dunia. Barangsiapa mengikut Aku, ia akan mempunyai terang hidup.

📖Bacaan Injil : Mat 5:13-16
Kamu adalah terang dunia.

Renungan:

" Kamu adalah garam dunia...kamu adalah terang dunia...hendaklah terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik, dan memuliakan Bapamu yang ada di surga."  Ditegaskan dalam bacaan Injil hari Minggu ini, bahwa para murid ialah "garam" dan "terang" bagi dunia. Pernyataan ini kerap mendorong orang agar berusaha sekuat tenaga menggarami dan menerangi dunia. Dunia ini seakan-akan tempat yang hambar dan gelap gulita dan karena itu perlu diselamatkan. Itukah yang hendak diajarkan kepada para murid? Injil sebenarnya mengajarkan hal lain, yakni agar para murid tidak membiarkan identitas diri luntur dan bakal didiamkan orang.
     Garam sungguh terasa bila menyatu dengan makanan, dan makanan tanpa garam akan hambar rasanya. Yesus menekankan cita rasa khas dalam kehidupan kita sebagai Katolik, harus dirasakan orang. Sebagai pengikut  Kristus kita seyogianya mampu menghidangkan cita rasa iman yang khas dan istimewa kepada seluruh umat dan masyarakat di mana saja berada. Tanpa ada cita rasa, maka hidup kekatolikan akan hambar. Yesus berpesan, agar kita mampu menjadi garam dan terang dunia. Cara hidup tidak menjadi hambar atau tawar. Perbuatan baik kita harus bercahaya di hadapan banyak orang. Keluarga Katolik dapat kehilangan asinnya, manakala pewarisan nilai-nilai Katolik tidak diperjuangkan dalam keluarga, komunitas atau di sekitar karya pelayanan. Komunitas kita yang berlebel Katolik akan kehilangan asinnya manakala spirit dasar tidak sampai mengubah dan menggerakkan hati orang untuk berbuat baik. Hal ini bisa kita wujudkan mulai dari tengah-tengah keluarga, komunitas, karya, maupun sekitar kita sehingga berdaya ubah bagi masyarakat. Masih sanggupkah kita menjadi garam dan terang di dalam masyarakat majemuk dan yang rumit pada zaman ini?

"Jadilah garam dan terang dunia agar sekitarmu mendapatkan rasa dan kehangatan hidup."

Memancarkan Terang Bagi Sesama

(*) Renungan

Memancarkan Terang Bagi Sesama

:) Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapa-mu yang di sorga. (Mat. 5:16)
Ketika lampu dinyalakan di suatu ruangan yang gelap, ruangan itu tidak lagi menakutkan, karena sinar lampu itu telah menerangi ruangan tersebut.
:) Sahabat, Yesus mengajak kita untuk menjadi seperti lampu yang dapat memancarkan terang di mana pun kita berada kepada orang lain, agar semakin banyak orang yang menerima dan merasakan terang Kristus dalam kehidupan mereka.
:) Kita diajak untuk menjadi murid-Nya yang dengan berani dan siap untuk mewartakan karya-Nya kepada sesama. Hal itu dapat kita lakukan melalui perbuatan-perbuatan yang kita lakukan setiap hari. Misalnya; membantu orang lain dengan tulus, menghindari pertengkaran, mendekatkan diri kepada Tuhan, mengasihi sesama, dan memancarkan kebaikan kepada orang lain. Intinya kita melakukan perbuatan-perbuatan yang berkenan di mata Allah.
:) Oleh karena itu, lakukanlah hal-hal yang baik dan tunjukkanlah kepada semua orang bahwa Allah turut bekerja dalam perbuatan kita, dan Allah ingin agar semua umat-Nya, dapat menjalani hidupnya seturut dengan kehendak-Nya, agar kita semua dapat beroleh keselamatan. (y) 

PERCIKAN HATI<3
Minggu, 05 Februari 2017


via GIPHY

CAHAYA SABDA, Sabtu 04 Februari 2017

Bacaan Liturgi 04 Februari 2017

Sabtu Pekan Biasa IV

📓 Bacaan Pertama: Ibr 13:15-17.20-21
Semoga Allah damai sejahtera memperlengkapi kamu dengan segala yang baik.

📓Mazmur : Mzm 23:1-3a.3b-4.5.6
R:1 Tuhanlah gembalaku, aku takkan berkekurangan.

📓Bait Pengantar Injil : Yoh 10:27
Domba-domba-Ku mendengar suara-Ku, sabda Tuhan. Aku mengenal mereka, dan mereka mengikuti Aku.

📓 Bacaan Injil
Mrk 6:30-34
Mereka itu bagaikan domba-domba tak bergembala.

Pada waktu itu Yesus mengutus murid-murid-Nya mewartakan Injil.
Setelah menunaikan tugas itu mereka kembali berkumpul dengan Yesus dan memberitahukan kepada-Nya semua yang mereka kerjakan dan ajarkan.
Lalu Yesus berkata kepada mereka, "Marilah ke tempat yang sunyi,
supaya kita sendirian, dan beristirahatlah Sejenak!"
Memang begitu banyaknya orang yang datang dan yang pergi,
sehingga makan pun mereka tidak sempat. Maka pergilah mereka mengasingkan diri dengan perahu ke tempat yang sunyi. Tetapi pada waktu mereka bertolak banyak orang melihat, dan mereka mengetahui tujuannya. Dengan mengambil jalan darat segeralah datang orang dari semua kota ke tempat itu dan mereka malah mendahului Yesus.
Ketika mendarat, Yesus melihat jumlah orang yang begitu banyak,
Maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu mulailah Yesus mengajarkan banyak hal kepada mereka.

Demikianlah Injil Tuhan.

Renungan:
Pepatah berkata "Keberhasilan yang tidak direfleksikan tidak pantas dihidupi." Demikianlah isi bacaan hari ini dengan pengalaman sukses yang dialami oleh para murid dalam tugas perutusannya. Pada umumnya jika orang mengalami kesuksesan maka akan mendapat pujian, tepuk tangan, dan sanjungan. Namun para murid tidak menerima sanjungan itu dari Yesus, malah sebaliknya. Dengan demikian Yesus mengajarkan bahwa dalam hidup ini perlu keseimbangan antara karya dan doa. 
Sekalipun situasi saat hening dan refleksi mendalam, Yesus tidak menutup kemungkinan akan kebutuhan orang banyak yang mencari Dia. Dalam suasana itu, Yesus memutuskan untuk melayani dan berbuat baik. Yesus senantiasa mempunyai hati untuk mengutamakan orang yang sedang membutuhkan pertolongan.
    Dalam tugas dan pekerjaan yang berat orang perlu membagi waktu dan mengatur diri dengan baik. Yesus dan para murid berusaha untuk beristirahat dan berdoa dalam tugas pelayanan. Kiranya dengan hal itu mereka masih mempunyai hati yang peka menanggapi kebutuhan umat. Pada zaman ini, kitapun diundang oleh Yesus untuk pertolongan kita yaitu orang terlantar, orang cacat, orang yang diperlakukan tidak adil, orang sakit, tertindas, miskin, korban narkoba, dan lain sebagainya. 

"Keberhasilan yang direfleksikan akan menghasilkan buah yang melimpah bagi sesama."

Awali Harimu Dengan Hati Yang Gembira

(*) Motivasi Kerja dan Usaha

Awali Harimu Dengan Hati Yang Gembira 

"Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang." (Amsal 17:22)

:) Sahabat, awali harimu dengan hati yang gembira dan kamu akan merasakan bahwa hari yang akan kamu jalani menyenangkan.

:) Keberhasilan kita hari ini, itu bisa juga berpengaruh pada apa yang kita rasakan pada pagi hari ketika kita bangun.

:) Ketika kita bangun dengan hati yang penuh rasa syukur dan gembira, maka hal itu bisa memancing semangat kita untuk menjalani hari ini, dan akan semakin mudah bagi kita untuk dapat mengerjakan tugas dan pekerjaan kita.

:) Bayangkan, jika kita sudah mengawali hari ini dengan marah-marah, pasti semangat kita untuk menjalani hari ini, hilang seketika. Kemarahan menguasai pikiran dan perasaan kita, dan akan muncul pikiran-pikiran negatif dalam pikiran kita dan apa yang akan kita rasakan hari ini, itu hanyalah penyesalan saja.

:) Karena itu, marilah kita mengawali hari ini dengan hati yang gembira, agar supaya hari ini bisa memiliki arti dan makna yang baik bagi diri kita sendiri. Pergunakanlah hari ini dengan baik, dan kamu akan mendapatkan keberhasilan yang kamu inginkan.

:) Jika kamu ingin berhasil, maka buatlah hari-hari yang akan kamu jalani, memiliki arti dan makna bagi dirimu sendiri. Masa depanmu, itu tergantung pada apa yang akan kamu lakukan hari ini, besok, dan selanjutnya. (y)

PERCIKAN HATI<3
Jumat, 03 Februari 2017



CAHAYA SABDA, Jumat 03 Februari 2017

Jumat Pekan Biasa IV
PF S. Ansgarius, Uskup, PF S. Blasius, Uskup dan Martir
Bacaan Pertama: Ibr 13:1-8
Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya.
Mazmur: Mzm 27:1.3.5.8b-9abc
R:1a Tuhanlah terang dan keselamatanku.
Bait Pengantar Injil: Luk 8:15
Berbahagialah orang yang menyimpan sabda Allah dalam hati yang baik dan tulus ikhlas,
dan menghasilkan buah berkat ketabahannya.

Bacaan Injil: Mrk 6:14-29
Yohanes yang sudah kupenggal kepalanya, kini bangkit lagi.
Renungan:
Gengsi dalam kehidupan ini bisa menghancurkan orang yang tidak bersalah. Hal ini bisa kita temukan di mana-mana. Kebenaran semakin menjauh dari kehidupan masyarakat pada zaman sekarang ini. Demikianlah Herodes memenggal kepala Yohanes demi menyenangkan hati keluarganya dan menjaga gengsi peibadinya karena sudah terlanjur terikat dengan janji. Herodes menjadi buta akan kebenaran dan lumpuh untuk berpihak pada kebenaran.
Herodes dan Herodias yang dikisahkan dalam Injil hari ini, adalah gambaran yang mewakili kebanyakan sifat manusia saat ini. Ketika mereka melakukan kesalahan dan Yohanes menegur, mereka justru menyingkirkan Yohanes. Kerapuhan Herodes menjadikan Herodias sakit hati dan menaruh dendam pada Yohanes, menjadi leluasa untuk menyingkirkan dia dan bahkan membunuhnya. Dendam yang berkecamuk telah membutakan dan menggelapkan segala maksud baik dan kebenaran. Bagaimana dengan kita saat ini, apakah kita masih berani berjuang untuk memihak kebenaran atau sebaliknya?

"Memaafkan itu menghidupkan dan menjauhkan kita dari kegelapan akan kebaikan dan kebenaran"

Membayar Mahal

(*) Motivasi Rohani

Membayar Mahal

:) Tidak jarang saya menemukan seorang ibu yang mati-matian bekerja demi orang-orang yang disayangi, yakni anak-anaknya. Bahkan kalau boleh, ibu ini berani mati untuk mereka yang disayang. Ini dapat kita renungkan dari  “Kisah Burung Pelikan” yang disebut juga sebagai lambang pengorbanan pada abad pertengahan. Yang lagunya kira-kira demikian, “Pelikan yang kudus, Yesus Tuhanku”.
 
:) Dalam kisah “Ramayana”  demi membebaskan Shinta, Rama berani membayar mahal dengan mengorbankan bala tentara kera yang tidak tanggung-tanggung jumlahnya. Di belahan kisah yang lain, kita kenal Perang Troya yang  terjadi karena “Helena” istri Menelaus yang diculik oleh Paris. Perang ini pun mengerahkan seribu kapal dan seratus ribu prajurit. Ya, harus membayar mahal.
:) Sebuah hasil karya besar dan “masterpiece” tidak dikerjakan semudah membalik tangan, tetapi harus diperjuangkan hingga berdarah-darah. Demikian pula kita yang memunyai cita-cita tinggi harus memperjuangkannya dengan sungguh-sungguh, yang oleh Sejarawan kondang Prof. Dr. Sartono Kartodirdjo (1921 – 2007) disebut dengan istilah “mesu budi” atau  “askese intelektual”.  Ya, harus membayar mahal.
:) Karena itu “Illiad” dan “Odysseus”, epos yang konon digubah oleh Homerus (± 850 seb. M) tidak hanya bercerita tentang penaklukan dan penjelajahan, tetapi juga tentang pengorbanan. Tokoh Achilles  –  misalnya – turun ke medan perang dengan sadar bahwa ia akan mati muda. Tetapi ia ingin membalas kematian orang yang dikasihinya yakni Patroclus.  Dengan kata lain, ia – berbeda dengan tokoh Gilgamesh dalam epos tua dari Sumeria – tidak mengutamakan kekekalan hidup.

:) Masing-masing kita memiliki tujuan hidup. Dan tujuan itu harus dibayar dengan mahal. Dan pada akhirnya kita bisa bersyukur dengan berkata, “Finis coronat opus” – mahkota sebuah tugas adalah ketika tugas tersebut berhasil diselesaikan dengan baik. (y)

PERCIKAN HATI<3
Kamis, 02 Februari 2017

CAHAYA SABDA, KAMIS 02 Februari 2017

Pesta Yesus Dipersembahkan di Kenisah

Bacaan Pertama
Mal 3:1-4
Tuhan yang kamu cari itu akan masuk ke bait-Nya.

Mazmur : Mzm 24:7.8.9.10
R:10b Tuhan semesta alam, Dialah Raja Kemuliaan.

Bacaan Kedua : Ibr 2:14-18
Dalam segala hal Ia harus disamakan dengan saudara-saudara-Nya.

Bacaan Injil : Luk 2:22-40
Mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu.

Renungan:
Hari ini kita merayakan pesta Yesus dipersembahkan di Kenisah. Pesta ini persis dirayakan 40 hari setelah hari raya Natal. Menurut Hukum Taurat pada hari ke-40 harus diadakan pentahiran. Artinya bahwa Yesus yang adalah Tuhan, rela dan mau mengikuti tradisi keagamaan pada saat itu yaitu Hukum Taurat. Demikian juga Maria dan Yosef ingin memenuhi kehendak Allah sebagai mana tertera dalam hukum-Nya. Tradisi yang baik mempunyai dimensi Ilahi dan manusiawi. Pesan Injil hari ini adalah mengingatkan bahwa betapa pentingnya bagi kita untuk mengikuti aturan yang ada demi kehendak Allah dan demi kebaikan hidup bersama. Merupakan anugerah besar bagi kita, bahwa Yesus mau menjadi manusia dan bagian dari hidup kita.
     Persembahan hidup itu tidak menyerahkan tanggung jawab kepada Allah, tetapi adalah utuh sebagai peristiwa diri sendiri, bersama Dia yang selalu mencintai kita. Bahagia, sedih dan luka menjadi irama dan warna-warni Ilahi, sebagai nilai sembah bakti. Hidup yang dipersembahkan berarti kita datang berbagi dengan Yesus, sebagai Saudara sulung.
Meskipun sakit tetap sama, hidup lebih ringan dan aman dalam menanggung beban salib. Kalau waktu itu panjang berantai, maka seluruh hidup kita dioenuhi simpul sukacita membawa persembahan kepada Sang Persembahan, kepada Bapa sumber segala berkat. Yesus menjadikan hari-hari persembahan kita menjadi kurban indah karena kehadiran-Nya.

"Persembahan terbaik yang berkenan untuk Tuhan adalah diri, hidup dan karya bakti."





via GIPHY




CAHAYA SABDA, RABU 01 Februari 2017

Rabu Pekan Biasa IV
Bacaan Pertama: Ibr 12:4-7.11-15
Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya.

Mazmur: Mzm 103:1-2.13-14.17-18a
R:17 Kekal abadilah kasih setia Tuhan atas orang yang takwa.

Bacaan Injil: Mrk 6:1-6
Seorang nabi dihormati di mana-mana kecuali di tempat asalnya sendiri.

Renungan:
Iman yang kuat dan hidup menggerakkan hati Yesus untuk menyembuhkan anak Yairus maupun wanita yang pendarahan. Dengan kepercayaan akan kuasa Yesus yang menyala dalam hati wanita yang sakit pendarahan dan Yairus kepala rumah ibadat telah mengarahkan diri untuk berjumpa dan menyentuh Yesus. Mengarahkan pandangan kepada Yesus adalah cara yang tepat dan terpuji. Yesus telah memberikan pengharapan kepada dua orang yang memohon kepadaNya. Iman yang kuat telah menghantar mereka bertemu dengan Yesus dan berani mendekati dan bahkan memohon agar dibebaskan dari penyakit. Iman dan pengharapan akan Yesus mampu mengatasi rasa putus asa dan beban berat.

     Melalui renungan ini kita disadarkan, bahwa dengan keyakinan dan kepercayaan  akan Penyelenggaraan Yesus dalam hidup, maka Yesus Pasti melakukan dan memberikan apa yang kita butuhkan. Yesus pasti memberikan yang terbaik bagi kita dengan melepaskan hidup dari beban berat, keputusasaan dan menyembuhkan penyakit.

"Iman dan pengharapan akan Yesus, memberi rasa percaya diri dan menjauhkan diri dari putus asa dan beban berat."

Saling Menghargai

(*) Hidup Keluarga
Saling Menghargai

:) Dalam hidup berkeluarga dibutuhkan suatu usaha dan kerja keras, untuk dapat mempertahankan keharmonisan keluarga kita masing-masing.
:) Usaha itu akan nampak jika setiap anggota keluarga saling menghargai satu sama lain. Sikap saling menghargai akan nampak jika suami, istri maupun anak-anak saling mendengarkan, menciptakan suasana kasih dalam keluarga dengan menghindari kata-kata kasar maupun sikap kasar yang bisa menyakiti hati orang lain.
:) Pasangan adalah belahan jiwa, anak adalah buah hati dan berkat yang diberikan Tuhan bagi pasangan suami dan istri. Karena itu, perlakukanlah mereka dengan baik, berilah perhatian, dan berusahalah untuk memenuhi kebutuhan mereka.
:) Kebahagiaan keluarga kita terletak dari diri kita sendiri, jika kita ingin keluarga yang bahagia, maka tumbuhkanlah sikap saling menghargai antar anggota keluarga, dan semoga cinta yang selalu kita pupuk dalam keluarga kita masing-masing selalu diberkati oleh Tuhan. (y)

PERCIKAN HATI<3
Selasa, 31 Januari 2017

Popular Posts Widget