Tidak ada yang mustahil bila Engkau Percaya

Rabu, 8 Desember 2010
Perayaan MARIA DIKANDUNG TANPA NODA DOSA
Luk 1 :26-38 ; “Tidak ada yang mustahil bila Engkau Percaya”


“Manusia berpikir tentang ketidakmungkinan
namun hanya ada kemungkinan dalam Allah jika kita percaya.”


          Tentang Maria sepertinya tidak ada kata akhir. Setiap kata akhir selalu menjadi awal bagi sesuatu yang baru; entahkan itu terekspresi lewat kata-kata, lewat lagu dan syair, lewat tulisan pun lewat puisi dan film. Semuanya mau menegaskan bahwa memang Maria terberkati di antara semua wanita, bahkan semua anak manusia, dan lagi bahwa seruan hatinya “semua generasi akan memujinya,” sungguh terbukti dari saat ke saat.

            Hari ini kita merayakan “MARIA DIKANDUNG TANPA NODA DOSA.”  Sebuah ungkapan iman Gereja terhadap peranan Maria yang telah mengandung Yesus, putranya, yang adalah Putra Allah sendiri. Apa yang indah dari iman gereja yang kemudian dijadikan ajaran resmi ini bahwa “tidak mungkin Dia yang kudus membiarkan rahim dan darah yang mengalir ke dalam tubuhnya tercemar oleh dosa.” Dengan kata lain, tercemarnya Maria karena dosa bisa membuat Dia yang ke dalam tubuhnya mengalir darah Maria, juga tercemar dosa. Atau lebih tepatnya kita mengatakan bahwa “Dia yang Kudus, Yang ada dalam rahim Maria itulah yang mengudukan Maria, bukan hanya sesaat sebelum Dia masuk ke dalam rahim Maria dan akan berakhir setelah Ia dilahirkan, melainkan sejak awal ia telah disucikan dan untuk selamanya ia akan selalu disucikan agar ia menjadi tanda bahwa “bagi Allah tidak ada yang mustahil.”

            Perayaan Maria tak bernoda mengingatkan kita bahwa kekudusan itu  bisa kita gapai bila kita percaya dan mengusahakannya. Kalau Allah memanggil kita menjadi putra-putri-Nya, maka kekudusan sebagai syaratnya, tidak menjadi sesuatu yang tidak mungkin, melainkan mungkin dan bisa digapai oleh anak-anak manusia sehingga kita bisa kembali kepada Sang Pencipta dalam kekudusan. Seperti Maria yang mendapatkan kehormatan dari malaikat Allah (Allah sendiri) maka peristiwa ini mau mengatakan bahwa setiap orang bernilai di hadapan Allah. Kita bernilai karena Allah mencintai kita, dan betapa rindunya hati Allah untuk hidup bersama dengan ciptaan-Nya dalam keabadian.


Salam dan doa kecilku untukmu selalu,

Rinnong



Saya sertakan juga keterangan tentang Perayaan Maria dikandung tanpa noda dosa agar menjadi bahan bacaan.


8 Desember
Hari Raya SP Maria Dikandung Tanpa Dosa
Semua manusia lahir di dalam belenggu dosa asal yang diwariskan Adam dan Hawa. Oleh karena itu, semua manusia dinyatakan 'berdosa' sejak lahir. Oleh karena warisan dosa asal itu melekat erat pada kemanusiaan kita, kita tampaknya lebih cenderung dan mudah untuk berdosa dan melakukan kejahatan daripada melakukan kebajikan-kebajikan. Kita kelihatan lamban sekali melakukan kebajikan-kebajikan. Kita lebih cenderung menjauhi Tuhan daripada mendekatiNya untuk menikmati kebaikan dan cintaNya.

"Pada hari ini terbitlah setangkal tunas dari akar Jesse; pada hari ini pun Maria dikandung tanpa cela dosa," demikian bunyi antifon Magnifikat. Gereja merayakan 'perkandungan Maria tanpa noda dosa' untuk mengingatkan kepada seluruh umat betapa luhurnya martabat Maria sebagai Bunda Penebus. Maria adalah satu-satunya manusia yang dikecualikan Allah dari warisan Adam itu. Sesungguhnya dara murni ini adalah manusia biasa sama seperti kita; ia juga keturunan Adam. Sebagaimana kita, ia pun hidup di dalam dunia yang penuh dosa ini. Namun ia punya keistimewaan yang tidak dimiliki siapa pun juga. Ia sudah sejak kekal ditentukan Allah untuk menjadi Bunda PuteraNya, Sang Penebus dunia. Ia ditentukan untuk melahirkan Yesus, Anak Allah, dan karena itu sejak awal hidupnya, ia dipersiapkan untuk mengemban tugas luhur ini.

Melalui dialah, Tuhan menyalurkan rahmat penyelamatanNya kepada manusia. Tuhanlah sumber rahmat, sedang Maria hanyalah 'saluran'nya. Sebagai saluran rahmat Allah bagi manusia, maka sudah selayaknya Maria itu penuh rahmat dan suci tak bercela. Demikian ia ditebus dengan cara yang paling sempurna: diperkandungkan tanpa noda dosa, suci dan tak bercela di hadapan Allah.

Dalam rahim Maria, Perawan yang murni, Allah menemukan singgasana yang pantas bagi PuteraNya. Melalui Maria kutuk dosa diganti dengan berkat bagi manusia. Oleh karena itu, pada hari raya ini patutlah kita berdoa: "Ya Maria, dengan senang hati kami merenungkan rahasia kepilihanmu menjadi Bunda Penebus. Engkau telah dibebaskan Allah dari kutuk dosa yang telah menimpa umat manusia. Jiwamu diperkaya dengan rahmat Allah dan memancarkan semarak kemuliaan Allah. Ya Maria yang dikandung tanpa dosa, doakanlah kami yang berlindung kepadamu."

Siapkan Hati

Minggu, 5 Desember 2010
Advent II
Mat 3:1-12 ; “Siapkan hati”


"Kata-kata selalu manis dalam pendengaran,
namun menjadi saksi adalah apa yang mereka paling butuhkan."

Menyebarkan Injil atau kabar baik adalah tugas utama atau misi  kita sebagai pengikut Yesus. Ini tertulis jelas dalam Matius 28:19, "Karena itu, pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka untuk mentaati segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah Aku akan menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman "

Hari Minggu Adven kedua ini ditandai dengan kedatangan Yohanes Pembaptis dalam liturgi. Dia datang ke Sungai Yordan dan memberitakan kepada orang-orang di situ, Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat " Dan Matius melihat Yohanes Pembaptis sebagai pemenuhan nubuat Yesaya ketika Yesaya berkata: Sebuah suara berseru dari padang gurun: "Siapkan jalan Tuhan, luruskanlah  jalan-Nya "

Hari ini, ketika Anda mendengar kata-kata di atas, Anda harus menyadari bahwa hari kedatangan Tuhan kita Yesus Kristus begitu dekat. Ini adalah kunjungan Tuhan kepada umat-Nya. Dan kau tahu, Tuhan akan datang kepada Anda, tetapi pertanyaan yang harus dijawab adalah "Apakah ada tempat di hati kita untuk Dia?

Yohanes Pembaptis memberi kita cara indah tentang bagaimana kita harus mempersiapkan hati kita untuk Tuhan yang akan datang. Bertobatlah ... bertobat... tidak hanya dengan kata-kata yang bisa dikatakan, tapi tindakan nyata yang harus dilakukan adalah "pergi kepada imam dan akuilah dosa-dosamu secara pribadi. Cara lain hasilkanlah buah yang baik sebagai bukti pertobatan Anda. Apa artinya? Cintailah Allah dan sesamamu sama seperti dirimu sendiri. Ukuran tindakan mencintai tidak tergantung pada bagaimana Anda dapat mengasihi orang lain, melainkan pada bagaimana orang lain dapat mengalami kebahagiaan sejati karena cinta Anda, kehadiran Anda, kata-kata Anda dan sikap Anda di antara mereka.

Hari ini, hendaknya kita sadari bahwa Allah ingin mengunjungi kita dengan mengirimkan Anak-Nya yang tercinta. Ini bukan tentang apakah Allah akan mengampuni kita atau tidak, tapi apakah kita mau bertobat atau tidak; Ini bukan tentang Tuhan yang akan mengampuni kita atau tidak tetapi tentang bagaimana kita menyadari kasih Tuhan atau tidak.

Saat ini, kata-kata Yesaya, "Siapkan jalan bagi Tuhan, buatlah jalan lurus untuk Dia," hadir dalam pendengaran kita. Ini menjadi tanda bahwa Allah akan segera melawat kita. Karena itu, ingatlah bahwa Dia akan segera datang, tapi apakah ada tempat di hatimu untuk dia?


Teriring salam dan doa kecilku untukmu,

Rinnong

Tunjukkan Kasih Sayang Selagi Sempat

Ada seorang pengusaha muda yang pagi itu terburu-buru berangkat kantor karena ia bangun rada kesiangan. Sementara pagi itu ia ada meeting dengan rekan bisnis-nya. Karena terburu-buru, ia tidak sempat menikmati sarapan pagi buatan isterinya. Ia lalu memutuskan untuk mampir ke sebuah toko untuk membeli roti sebagai ganti sarapan pagi. Pikirnya, “Nanti roti ini dimakan di kantor saja”.

Ketika ia sedang memilih roti yang hendak dibelinya, matanya tertarik mengamati seorang anak kecil berusia kira-kira sepuluh tahun yang sedang memilih bunga di toko sebelah. Anak kecil ini terlihat sedang tawar menawar harga bunga dengan pelayan toko tersebut.

“Mbak, harga bunga ini berapa?” tanyanya kepada pelayan toko.

“Lima puluh ribu rupiah”, jawab sang pelayan.

Kemudian ia memilih bunga yang lain dan bertanya kembali,

“Kalau bunga yang ini berapa?” .

“Ini lebih mahal lagi, seratus lima puluh ribu rupiah!” jawab sang pelayan.

“Kalau yang ini berapa?” tanyanya sambil menunjukkan bunga yang lebih bagus lagi.

“Ini harganya dua ratus lima puluh ribu, nak!” jawab sang pelayan.

Anak ini terlihat bingung karena harga bunganya bertambah tinggi, sementara ia tidak menyadari bahwa bunga yang ia tunjuk itu bunga yang paling bagus.

Dengan sedih ia bertanya, “Adakah bunga yang harganya lima ribu?”

Anak ini ternyata hanya memiliki uang lima ribu rupiah walau keinginannya untuk mendapatkan bunga itu sangat besar. Belum sempat pelayan toko itu menjawab, pengusaha muda ini segera bertanya kepada sang anak, “Nak, kamu mau beli bunga buat siapa?”

Kemudian anak ini menjawab, “Saya mau beli bunga buat mama, karena hari ini mama ulang tahun!” Pengusaha muda ini tersentak, dalam hatinya ia berkata, “Wah… mati aku, aku lupa! Hari ini isteriku ulang tahun. Aku belum mengucapkan selamat ulang tahun kepadanya. Kalau sampai aku lupa, ia bisa marah!” Segera ia berkata kepada pelayan toko, “Mbak, saya beli bunga ini. Saya beli dua ikat. Satunya buat anak ini. Tolong nanti antar bunga ini ke alamat rumah saya,” katanya sambil memberikan kartu namanya. Kemudian pengusaha muda itu memberikan bunga tersebut kepada sang anak dan mengucapkan terima kasih sudah mengingatkannya bahwa hari ini ternyata isterinya juga berulang tahun. Anak itu kemudian pergi.

Pengusaha ini segera bergegas ke mobilnya dan melanjutkan perjalanan ke kantor. Ketika ia sedang mengendarai mobil, ia melewati anak kecil tadi sedang berjalan. Iapun berhenti dan bertanya apakah ia satu jurusan dengannya. Anak kecil itu mengiyakan dan kemudian masuk ke dalam mobilnya.

Sampai di suatu tempat yang agak sepi anak ini minta turun. Pengusaha muda tersebut heran melihat anak kecil ini masuk melewati sebuah lorong kecil. Karena penasaran, ia mengikuti sang anak dari belakang. Betapa terkejutnya ia ketika melihat anak kecil ini menaruh bunganya di sebuah gundukan tanah kuning yang masih basah.

Kemudian ia bertanya, “Nak, ini kuburan siapa?”

Anak kecil itu kemudian menjawab, “Oom, hari ini mama ulang tahun. Tetapi sayang, mama baru saja meninggal dua hari yang lalu. Oleh sebab itu saya datang ke tempat ini untuk membawakan mama bunga dan mengucapkan selamat ulang tahun.”

Pengusaha muda begitu tersentak dengan perkataan anak ini.

“Apakah isteriku masih hidup saat ini?” tanyanya dalam hati.

Segeralah ia berlari masuk ke mobil, mengendarainya dengan kecepatan tinggi dan menuju ke toko tadi. Dengan terengah-engah ia berkata kepada pelayan toko, “Mana bunga yang tadi saya beli? Bunganya tidak usah dikirim, biar saya saja yang langsung memberikannya ke tangan isteri saya.”

Dengan cepat ia menyambar bunga tersebut dan menyetir pulang. Sampai di rumah, ia segera berlari mendapatkan isterinya. “Puji Tuhan! Isteriku masih hidup!” Sambil memberikan bunga ia berkata, “Isteriku, selamat ulang tahun”. Kemudian ia mencium dan memeluk isterinya kuat-kuat sambil mengucap syukur kepada Tuhan. Sambil menangis ia berkata, “Terima kasih, Tuhan. Engkau masih memberikan kesempatan kedua kepadaku.”

Banyak diantara kita terlalu sibuk dengan aktifitas sehari-hari. Aktifitas dan rutinitas ternyata sudah ‘membunuh’ perhatian dan momen-momen penting yang harus dinikmati bersama orang-orang yang kita kasihi; orang tua, suami, isteri, anak-anak, dan saudara-saudara kita.

Demi mengejar karier, uang dan jabatan bahkan pelayanan banyak orang melupakan keluarga. Seorang businessman hanya berpikir bahwa memenuhi kebutuhan materi isteri dan anak-anak sudah membuatnya merasa menjadi ayah yang baik. Seorang pelayan Tuhan berpikir bahwa dengan sibuk dalam pelayanan dan dikenal di mana-mana sudah membuatnya merasa menjadi orang yang benar di dalam keluarganya. Kita tidak sadar, kita sudah salah jika berpikir demikian.

Hari ini, kalau kita masih diberi kesempatan untuk hidup semua hanyalah kasih karunia Tuhan. Oleh sebab itu, jangan tunggu sampai besok untuk menunjukkan kasih dan sayang kita kepada orang-orang disekitar kita, terutama orang-orang yang paling dekat dengan kita. Jangan tunggu mereka mati kita baru menyadarinya. Jangan tunggu sampai besok! Karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi dengan hari esok. Jika kita masih hidup pada hari ini berarti ini kesempatan kedua buat kita. Ambil kesempatan kedua yang Tuhan anugrahkan buat kita hari ini.

Tuhan memberkati.
 
From: Cahaya Lilin kecil II

Berjaga-jagalah

Minggu, 28 November, 2010
Minggu Pertama Advent
Mat.24:37-44: “Berjaga-jagalah”

“Hati tergetar menantikan kehadiran-Nya.
IA pasti datang tapi apakah ada tempat di hatimu bagi-Nya?”


      Kerinduan hati untuk menantikan seseorang atau menantikan sesuatu pastilah selalu menjadi pengalaman mendebarkan hati setiap orang yang sedang menanti. Hari ini kita memasuki Minggu Adven yang pertama; sebuah masa khusus yang ditentukan oleh bunda Gereja bagi putra-putrinya untuk mempersiapkan hati menyambut kedatangan Sang Penyelamat Jiwa, Anak Manusia seperti yang kita dengar dalam Injil hari ini.

        Rasanya setiap tahun peristiwa ini mendatangi kita sehingga telah menjadi sesuatu yang rutin, yang akan dilalui dengan perasaan biasa-biasa saja. Meskipun demikian, segala sesuatu yang datang dari luar diri, bermakna atau tidaknya bagi jiwa, bukan semata tergantung dari kualitas atau bentuk apa yang datang namun pada reaksi kita terhadapnya. Misalnya; kata orang roti bakar itu manis dan enak, tetapi karena saya tidak suka roti bakar maka ketika dihidangkan bagiku untuk menjadi santapan pagiku, saya pasti tidak akan menikmati keenakanya seperti menyatap nasi goreng, makanan kesayanganku. Contoh ini mau mengatakan bahwa masa Adven yang hadir setiap tahun memberikan kesan atau tidak, sangatlah tergantung pada reaksi kita untuk memaknai masa yang penuh rahmat itu.

    Injil hari ini berbicara tentang bagaimana caranya membuat masa itu menjadi masa berahmat bagi kita, yakni dengan sikap berjaga-jaga karena tidak seorang pun yang tahu akan saat kedatangan Anak Manusia. Banyak orang terlena dengan kenyataan ini; karena saatnya tidak diketahui maka hidup pun dijalani dengan biasa-biasa saja; makan pagi, siang dan malam menjadi sesuatu yang rutin tanpa makna; pergi ke kantor atau ke sekolah adalah sesuatu yang rutin, dan lain sebagainya. Banyak orang terlalu yakin bahwa mereka akan berada di hari esok, karena itu apa yang harus dipikirkan tentang hari ini demi memasuki hari esok? Tidak ada.

    Masa Advent mengajak kita untuk memberikan yang terbaik bukan pertama-tama untuk tubuh kita, melainkan untuk jiwa kita. Langkah terbaik untuk memasuki hari esok, yakni dengan melakukan yang terbaik di hari ini. Karena itu, berjaga-jagalah adalah kata yang mengandung makna bahwa persiapan hendaknya dilakukan demi sebuah perbaikan hidup. Pertobatan menjadi sebuah kesempatan untuk mempersiapkan hati menjadi tempat bagi Sang Penyelamat jiwa. Semoga kesempatan ini menjadi sebuah kesempatan berahmat bagi jiwa yang merindukan kehadiran Sang Penyelamatnya.


Selamat memasuki masa Adven,


Teriring salam dan doa kecilku untukmu selalu,

Rinnong

Tebarkanlah jalamu

Selasa, 30 November, 2010
Peringatan St. Andreas
Mat.4:18-22: “Tebarkanlah jalamu”


“Membawa orang lain kepada Yesus adalah tugas setiap orang Kristen,
namun kadang kita tidak mampu meniru Yesus dalam
sikap dan tingka laku kita setiap hari.”

            Panggilan menjadi seorang romo dan suster itu kadang mendatangi seseorang dalam bentuk dan cara yang aneh; Ada yang sejak awal sudah merasa terpanggil; ada juga yang setelah bekerja sebagai karyawan atau pegawai dan menduduki puncak karier tapi akhirnya memilih meninggalkan semuanya dan menjadi seorang romo/suster; Yang lain karena pengalaman penderitaan tertentu merasa terpanggil untuk menjadi romo atau suster. Pokoknya, tanyakanlah kepada para suster dan romo maka mereka pasti akan bercerita tentang awal mula panggilannya dalam versi yang berbeda satu dengan yang lain.

            Kisah Andreas yang pestanya kita peringati hari ini dan teman-temannya juga terjadi atas cara yang sederhana dan aneh. Masakan ketika Yesus melewati tempat mereka melabuhkan perahu dan jala mereka, dan hanya dengan sepenggal kata pendek; “Ikutlah Aku dan kamu akan kujadikan penjala manusia,” serentak mereka meninggalkan semuanya dan mengikuti-Nya. Tapi itulah kenyataannya. Kadang aneh, kadang lucu, tapi itulah rahasia panggilan.
            Menjadi sebuah permenungan bagi kita di hari ini untuk untuk menyadari kenapa kita terpanggil dan untuk apa panggilan itu. Yesus mengatakan kepada Andreas dan teman-teman; “Ikutilah Aku dan kamu akan kujadikan penjala manusi.” Sebuah ajakan untuk menjadi jala dan penjala yang mampu membawa orang lain kepada Yesus dan membawa Yesus kepada orang-orang di sekitar kita. Mungkin menjadi sangat gampang untuk membawa orang lain kepada Yesus, tetapi hal membawa Yesus kepada orang lain tidaklah semudah yang kita bayangkan. Meskipun kedua hal ini sangat erat kaitannya, tetapi ketika Anda renungkan lebih mendalam maka Anda akan menemukan bedanya pada hal ini; Bisa saja mewartakan dan meyakinkan orang lain bahwa Yesus adalah penyelamat dengan gampang akan mempengaruhi orang lain, namun hal menjadi seperti Yesus dalam sikap hidup, tidak semua orang dapat melakukannya dengan baik. Oleh karena itu, mengapa Yesus mengeritik para Farisi dengan berkata; “Kamu meletakkan beban di atas pundak orang tapi kamu sendiri tidak menyentuhnya.” Demikian pun kepada orang-orang yang mendengarkan pengajaran para Farisi, Yesus ingatkan; “Dengarlah apa yang mereka katakana tapi jangan ikuti apa yang mereka perbuat.”

            Semoga saja masa advent ini menjadi kesempatan bagi saudara dan saya untuk menjadi seorang penjala yang baik dan bijaksana, yang bukan hanya menangkap dan membawa orang lain dengan kata-kata, tetapi juga dengan perbuatan kita setiap hari. Hanya sekedar mengingatkan bahwa “kesaksian hidup adalah bentuk pewartaan yang paling jitu di zaman ini.” Di tengah kriris keteladan, masyarakat (umat) membutuhkan figur pemimpin dan teman yang bisa tampil sebagai seorang pembenar, yang mampu menyesuaikan kata-kata dan perbuatannya setiap saat.


Teriring salam dan doa kecilku untukmu selalu,

Rinnong

Hiasilah Jiwamu, kawan


Sabtu, 27 November, 2010
Luk.21:34-36: “Hiasilah Jiwamu, kawan.”


“Dewasa ini banyak orang berjuang merias diri/tubuh menjadi cantik dan tanpan,
namun hanya sedikit yang menghiasi jiwanya menjadi tempat yang indah
bagi Sang Penyelamat.”


            Mendatangi pusat pertokoan di mana saja, Anda akan melihat kenyataan ini; sebagian besar tempat disediakan khusus untuk peralatan yang berfungsi untuk merias tubuh/badan, seperti; parfum, sabun, sampo, dan lain sebagainya dalam beragam merek dan kualitas. Hal yang lebih mengasyikan bahwa banyak orang, terutama kaum perempuan pergi ke sana, menghabiskan banyak waktu dan uang untuk membeli alat-alat itu. Untuk apa? Ya, untuk merias tubuh/badan mereka agar tetap kelihatan cantik dan tampan. Bahkan di pasar ikan pun kita menemukan mereka yang sementara membersihkan kuku kaki mereka dengan bayaran yang lumayan. Lagi, semuanya demi ketampanan dan kecantikan. Rasanya tidak ada yang salah dengan semuanya itu. Tapi...

            Injil hari ini mengingatkan jika akan betapa pentingnya merawat dan merias jiwa agar menjadi tempat tinggal-Nya Sang penyelamat. “Jagalah jiwa agar tidak terjerat oleh kemabukan dan hal-hal duniawi.” Apa yang sering dilupakan yakni sebagian besar dari kita lupa untuk merias jiwa kita menjadi tempat yang suci. Di satu pihak, ketika banyak waktu dan uang dihabiskan demi merias badan/tubuh, sementara di lain pihak, orang mengabaikan perintah Tuhan untuk menjaga jiwa mereka. Seandainya jiwa itu bagaikan tangan, mata, hidung atau alat tubuh lainnya maka pasti mendapatkan perawatan yang cukup, namun jiwa adalah roh dan kehendak yang tidak nampak tapi tetap ada sangat berpengaruh. Ia selalu dilupakan karena ia tak pernah terlihat oleh cermin kecantikan, melainkan oleh kesucian hati itu sendiri.

            Semoga hari ini, kita memberikan sebuah kesempatan untuk merias jiwa kita menjadi tempat yang indah bagi Sang Pencipta, Sang Penyelamat.


Selamat berakhir pekan.
Salam dan doa kecilku untukmu selalu,

Rinnong

“Milikilah Hidup yang akan datang?”

Rabu, 24 November, 2010
Peringatan St. Andreas Dung Lac, Imam dan teman-temannya
Luk.21:12-19: “Milikilah Hidup yang akan datang?”


“Rambut adalah sebuah organ tubuh yang tidak memberi hidup bagi seseorang,
tetapi menambah keindahan tubuh.”

            Kata orang: “rambut adalah mahkota para wanita.” Aku tidak tahu bagaimana seorang wanita mengamini kata-kata ini, tapi aku punya pengalaman nyata dengan seseorang teman beberapa tahun lalu. Ia pergi ke salon dan menggunting rambutnya di sana. Karena tidak memperhatikan dengan saksama maka hasilnya, ia tampil layaknya seorang laki-laki dengan potongan rambut seperti itu. Ia menangis tersedu-sedu dan rasanya tidak ada seorang pun yang bisa menghiburnya selama beberapa hari atas pengalamannya itu.

            Hari ini Yesus menegaskan sesuatu yang indah di akhir wejangannya tentang akhir zaman, ketika Ia berkata: “Tetapi tidak sehelai rambut kepalamu akan hilang.” Rambut bukanlah organ vital dalam tubuh seseorang, walaupun itu tetap penting. Ada atau tidak adanya rambut tidak membuat seseorang hidup atau mati. Rambut hanyalah sesuatu yang menambah keindahn penampilan lahiriah seseorang. Meskipun demikian, sesuatu yang kurang penting dari tubuh itu, kini mendapatkan apresiasi yang tinggi dari seorang Yesus. Kita bisa menyimpulkan sesuatu dari kata-kata Yesus di atas bahwa “walaupun rambut hanya sesuatu yang sekunder dalam tubuh, tetapi sangat dihargai oleh Yesus, bagaimana dengan jiwamu? Bukankah ia menjadi lebih penting untuk sebuah kehidupan di akhirat nanti?

            Jika hari ini Yesus  menekankan betapa berartinya rambutmu sehingga tak sehelai pun akan hilang atau dihancurkan, maka pikiran kita hendaknya ditujukan pada betapa berartinya jiwa kita kelak bila kita mengikuti dan melaksanakan perintah-perintah-Nya. Ia berkata: “jangan cari harta duniawi yang dapat binasa tetapi carilah harta surgawi yang tak dapat dimakan ngengat.” Yesus memberikan jaminan kepada kita bahwa ada kehidupan setelah kematian badan/tubuh. Tubuh akan hancur dan kembali ke tempat dari mana ia terbuat, tetapi jiwa akan mendapatkan tempat peristirahatan yang kekal bersama Allah Sang Penciptanya. Jika rambut yang tak membuat kita hidup saja diperhitungkan Tuhan, maka pasti jiwamu akan mendapatkan tempat yang istimewa di mata Allah. Moga hari ini kita pun diinspirasikan oleh bacaan ini untuk tetap berjuang menghargai setiap anggota tubuh kita, baik yang menjadi miliki kita sendiri maupun milik orang lain. Jika tubuh diperhatikan maka apa yang hendak Anda perbuat untuk jiwamu? Ingat...hanyalah jiwalah yang akan kembali ke pangkuan Bapa, Sang Pencipta dan bukan tubuhmu.


Teriring salam dan doa kecilku untukmu selalu,

Rinnong

Sabtu, 30 Oktober, 2010
Luk.14:1.7-11; “Syarat masuk Kerajaan Allah”

“Surga diperuntukkan bagi mereka yang merendahkan hati.”

            Dunia Timur Tengah, terutama bangsa Yahudi mengenal dan menghidupi apa yang disebut sebagai “budaya rasa hormat dan rasa malu.”  Kedua hal ini didapatkan oleh seseorang sangatlah tergantung pada kata dan perbuatannya dalam masyarakat. Kata dan perbuatan baik mendatangkan rasa hormat bagi seseorang, tetapi kebalikan sikap dan tingka laku akan menyebabkan rasa malu.

            Yesus mengenal dengan baik budaya yang dihidupi oleh masyarakat-Nya ini, sehingga makan bersama yang diadakan oleh seorang Farisi bagi-Nya, digunakan untuk menerangkan tentang pentingnya Kerajaan Allah dari latar belakang budaya “rasa hormat dan malu” yang telah disebutkan di atas. Meskipun demikian, Yesus tidak sedikit pun memaksudkan pembicaraan tentang soal mencari tempat duduk dalam pesta berhubungan dengan masalah sikap dan tingka laku yang pantas ketika seseorang mengundangmu dalam sebuah pesta, melainkan lebih menyangkut soal “sikap dan tingka laku yang dituntut oleh seseorang demi mendapatkan Kerajaan Allah,” dengan berkata, “Barangsiapa yang meninggikan dirinya akan direndahkan, tetapi yang merendahkan dirinya akan ditinggikan.”

          Kerendahan hati  hendaknya menjadi faktor utama dalam kehidupan seorang murid Yesus. “Kerendahan hati dituntut bukan pertama-tama untuk mendapatkan penghormatan dalam dan selama hidup seseorang di dunia ini, melainkan lebih demi keselamatan jiwa dalam Kerajaan Allah kelak.” Di titik inilah kita semua diundang oleh Yesus hari ini untuk mengoreksi diri karena terkadang “soal kerendahan hati” sulit untuk kita temukan, apalagi dalam diri kita yang berpangkat, bergelar dan berstatus dalam masyarakat.” Semua orang beriman tapi tidak semua bisa memiliki sikap rendah hati dalam dirinya, terutama  dalam relasinya dengan orang lain. Banyak orang terluka karena mereka tidak dihormati dalam relasinya dengan orang lain, namun yang benar hendaklah tunjukanlah sikap rendah hatimu maka penghormatan akan datang dengan sendirinya, bahkan sikap seperti inilah yang menjadi syarat untuk mendapatkan “Kerajaan Allah ”kelak.

Karena itu, jadikanlah kerendahan hati sebagai sikap dasarmu, sebagai hartamu yang tak bernilai bukan semata-mata untuk mendapatkan rasa hormat, melainkan karena imbalan yang akan disediakan oleh Allah sendiri kepada mereka yang memiliki sikap rendah hati.

Selamat berakhir pekan untuk para sahabat.


Teriring salam dan doa kecilku untukmu selalu,

Rinnong

“Panggilan kepada Pertobatan”

Sabtu, 23 Oktober, 2010
Luk.13:1-9: “Panggilan kepada Pertobatan”

“Jika hidupmu masih berlangsung sampai saat ini maka sadarlah bahwa itu adalah anugrah Tuhan Yesus untuk sebuah pertobatan.”

Perumpamaan Yesus hari ini dengan jelas merujuk pada pentingnya sebuah pertobatan. Kata tuan itu; “Sudah tiga tahun aku datang mencari buah pada pohon ara itu dan aku tidak menemukannya. Tebanglah pohon itu; Untuk apa ia hidup?” Ini bukan tanda bahwa ”kesabaran itu ada batasnya” dari pihak Allah, melainkan penghakiman itu adalah sesuatu yang pasti dalam akhir hidup manusia. Tetapi apa yang indah dari Yesus, ialah Ia selalu memperjuangkan nasib dan keselamatan kita di hadapan Bapa-Nya dengan memohon “Tuan, biarkanlah ia tumbuh tahun ini lagi, aku akan mencangkul tanah sekelilingnya dan memberi pupuk kepadanya.” Lihatlah! Betapa Yesus memperhatikan keselamatan kita sehingga Ia selalu memohon kemurahan Bapa-Nya agar kita diberi kesempatan untuk membangun sebuah pertobatan dengan perpanjangan hidup. Jika hidup itu masih terberi sampai saat ini, maka tujuannya hanya satu, yakni “Pertobatan.”

Dengan demikian, apa yang kita bisa renungkan tentang inti hidup kita sampai saat ini, yakni tidak lain dan tidak bukan adalah sebuah kesempatan tambahan yang dimohonkan oleh Yesus kepada Allah, Bapa-Nya untuk sebuah pertobatan. Banyak orang mengabaikan panggilan pertobatan ini sehingga kadang mereka berlalu dari dunia ini tanpa merasakan indahnya sebuah kematian. Kematian itu menjadi indah jika dilalui dengan sebuah pertobatan batin. Banyak orang mencoba menyanggah pernyataan ini dengan mengatakan bahwa “saat mati kan kita tidak merasakan apa-apa lagi?” Benar! Jika Anda berpikir bahwa kematian adalah akhir dari segalanya. Namun jika Yesus mengajarkan sesuatu tentang kehidupan di akhirat bersama Bapa, berarti jiwa akan kembali ke haribaan-Nya bersama Allah, dan disitulah penyesalanmu akan menjadi sesuatu yang sangat terlambat.

                Karena itu, semoga di akhir pekan ini sebuah kesadaran baru muncul bahwa “pertobatan hendaknya dilaksanakan dengan segera bila kita masih diberi kesempatan untuk hidup di dunia ini.” Jika Yesus saja sangat mencintai kita dan menghendaki keselamatan dengan meminta kemurahan hati Allah Bapa-Nya agar perpanjangan hidup dianugerahkan kepada kita, maka hendaklah ini menyadarkan kita untuk membangun sebuah pertobatan batin.



Selamat berakhir pekan para sahabat.



Teriring salam dan doa kecilku untukmu selalu.


Rinnong

“Kerinduan sebuah Hati”

Selasa, 16 November, 2010
Peringatan Sta. Margareta dari Skotlandia dan Sta. Getruda, perawan
Luk.19:1-10: “Kerinduan sebuah Hati”

“Pertemuan adalah obat kerinduan,
tapi keselamatan adalah mahkotanya kerinduan.”

“Turunlah Zahkheus, karena hari ini aku akan menumpang di rumahmu.” Kata-kata ini membuat jiwa melonjak kegirangan, air mata kegembiraan menetes di pipi sambil memandang haru kepada Dia yang bersabda. Maka segeralah rasa malu karena kedapatan oleh banyak orang sedang duduk di atas pohon pun tak dihiraukannya. Ia pun turun dan menemani Dia yang bersabda ke rumahnya. Makanan terbaik pun dihidangkan kepada-Nya sebagai tanda ucapan syukur, tapi janji untuk bertobat menjadi gerbang keselamatan. Kemudian, Ia bersabda lagi: “Hari ini keselamatan telah datang kepada penghuni rumah ini karena engkau menunjukkan sebuah bentuk pertobatan yang indah.” Wow...air mata kegembiraan itu kembali deras mengucur dan jiwa pun bersorak gembira karena sekarang jiwa mendapatkan jaminan keselamatan dari Sang Penyelamat sendiri. Demikianlah kisah Zakheus, sang perindu yang mendapatkan obat kerinduan lewat pertemuan dengan sosok yang dirindukan, dan Yang dirindukan memahkotai pertemuan mereka dengan janji keselamatan. Jadilah semuanya indah karena kehadiran Sang Penyelamat, bukan hanya di rumah tubuh tapi terlebih di ruang jiwa yang merana mencari tempat peraduan kekal.

Cerita Zakheus selalu menjadi contoh terindah betapa sebuah kerinduan akan kehadiran Yesus menjadi jalan bagi kita untuk bertemu dengan Dia. Pengalaman Zakheus, syukurlah bila dialami secara fisik, tetapi rasanya pengalaman batin akan ditemukan oleh setiap perindu kehadiran Yesus dalam hidup dan hati mereka. Karena itu, bila kita enggan untuk membersihkan rumah jiwa kita, maka kerinduan akan membuat Tuhan sendirilah yang berinisiatif untuk mengunjungi jiwa kita, bahkan lebih indah lagi karena Ia sendirilah yang membersihkan jiwa kita menjadi tempat tinggal-Nya untuk selamanya.

Marilah kita mengobarkan kerinduan untuk bertemu dengan Yesus itu setiap saat, sehingga jiwa tetap mempersiapkan tempat yang layak bagi Yang dirindukan. Karena benarlah penegasan di atas, “pertemuan adalah obatnya kerinduan, tetapi hanya keselamatanlah yang menjadi mahkota abadinya.” Moga hari ini dan setiap saat, jiwa kita tetap mendengar bisikan Yesus ini; “Sobat, bukalah pintu jiwamu karena Aku ingin masuk dan tinggal di dalamnya.” Jika Ia mau tinggal di sana, maka alangkah indahnya saat-saat itu kita lalui bersama-Nya.


Teriring salam dan doa kecilku untukmu selalu,

Popular Posts Widget