“Lahir untuk Diutus”

Senin, 18 Oktober, 2010
Pesta St. Lukas, Pengarang Injil
Luk.10:1-9: “Lahir untuk Diutus”


“Kelahiran menjadi saatnya seseorang memulai kehidupan di luar rahim ibunya,
dan kehidupan menandakan saat seseorang mulai menjalankan misi yang
diberikan oleh Sang Pencipta.”


Panggilan dan perutusan tak pernah dipisahkan dari kehidupan kita sebagai orang Kristen. Setiap orang lahir dengan misinya sendiri, tapi sayangnya tidak setiap orang bisa menemukan misinya, apalagi untuk menjalankannya.

Injil hari ini menceritakan secara detail tentang tugas perutusan oleh Yesus kepada murid-murid-Nya, bahkan apa yang hendak dibawa pun apa dan apa yang perlu dibuat dalam misi mereka disebutkan secara detail oleh-Nya. Yang paling penting dari semua aturan yang ditetapkan oleh Yesus adalah “kepasrahan dan penyerahan total kepada penyelenggaraan Ilahi bila Tuhan memanggil dan mengutusmu.” Jangan membawa ini atau itu, diutus bagaikan anak domba ke tengah serigala, adalah ungkapan, bukan hanya soal kepasrahan, melainkan keyakinan bahwa Dia yang mengutusmu tahu apa yang Anda butuhkan dalam tugas perutusanmu. Ia takan pernah mengutus dan membiarkan engkau menderita dalam tugas perutusanmu. Segalanya yang menyangkut hidupmu berada dalam kuat kuasa dan penyelenggaraan Ilahi-Nya. Hal yang paling penting adalah apa yang ditekankan oleh Yesus dalam bagian lain dari Injil yakni “Cari dulu Kerajaan Allah dan yang lain akan ditambahkan kepadamu.”

Zaman ini menjadi kesempatan di mana kita ditantang untuk menjadi seorang murid Tuhan. Ketika banyak orang mengandalkan harta benda mereka, ketika banyak orang mencari jabatan dan kedudukan dengan cara yang tidak adil, bahkan kasar dan tak beradab, ketika banyak orang mulai meninggalkan Tuhan (penyangkalan akan keberadaan dan campur tangan Tuhan dalam hidup mereka), maka setiap orang Kristen dipanggil untuk membuktikan imannya. Ya, bagaikan anak domba yang diutus ke tengah kawanan serigala, demikianlah misi dan tugas kita sebagai orang Kristen zaman ini. Tantangan dan cobaan pasti akan menyertai kita sepanjang tugas perutusan kita, tapi hendaklah kepercayaan bahwa Tuhan yang mengutus tak pernah meninggalkan kita, tetap menjadi kekuatan bagi kita dalam setiap derita dan tantangan hidup.

Karena itu, tantangan hendaknya tidak membuat surut imanmu melainkan semakin menantangmu untuk membuktikan diri bahwa imanmu lebih besar dari apapun derita yang Anda alami. Jika derita adalah sebuah batu kerikil yang hendak diinjaki sewaktu berjalan demi mencapai tujuan, maka rasa sakitnya akan menjadi kesukaan, karena hanya dengan melewati dan merasakan sakitnya ketika tertusuk, kebahagiaan dan kedamaian hidup menjadi milikmu. Di atas semua itu, keyakinan bahwa Tuhan tak pernah meninggalkanmu hendaknya menjadi kekuatan bagimu setiap saat dalam menjalankan tugas perutusanmu.


Teriring salam dan doa kecilku untukmu selalu,

Rinnong

0 komentar:

Posting Komentar

Popular Posts Widget