Melihat membutuhkan kejernihan dan kebeningan "Mata"

"Melihat" memang membutuhkan kejernihan dan kebeningan "Mata" Sepasang pengantin muda menyewa sebuah apartemen. Suatu pagi ketika sarapan sang istri melihat dari jendela seorang wanita muda tengah menjemur pakaian. sang istri kemudian berkomentar "cuciannya masih kotor , perempuan itu tidak tahu bagaimana mencuci baju dengan benar. mungkin dia butuh sabun yang baik." suaminya melihat itu tapi diam saja. setiap kali perempuan tetangganya menjemur baju, selalu saja ia berkomentar demikian sebulan kemudian, istrinya terkejut melihat bahwa baju yang dijemur tentangganya kelihatan bersih. ia kemudian berkata kepada suaminya. "akhirnya ia belajar juga cara mencuci baju yang benar ,, hmm sapa ya yang mengajari dia ?". suaminya menjawab : " aku bangun pagi pagi dan membersihkan kaca jendela apartemen kita" (dr paulo coelho)

Sebatang bambu

Sebatang Bambu Sebatang bambu yang indah tumbuh di halaman rumah seorang petani. Batang bambu ini tumbuh tinggi menjulang di antara batang-batang bambu lainnya. Suatu hari datanglah sang petani yang empunya pohon bambu itu. Dia berkata kepada batang bambu, "Wahai bambu, maukah engkau kupakai untuk menjadi pipa saluran air, yang sangat berguna untuk mengairi sawahku?" Batang bambu menjawabnya, "Oh tentu aku mau bila dapat berguna bagi engkau, Tuan. Tapi ceritakan apa yang akan kau lakukan untuk membuatku menjadi pipa saluran air itu." Sang petani menjawab, "Pertama, aku akan menebangmu untuk memisahkan engkau dari rumpunmu yang indah itu. Lalu aku akan membuang cabang-cabangmu yang dapat melukai orang yang memegangmu. Setelah itu aku akan membelah-belah engkau sesuai dengan keperluanku. Terakhir aku akan membuang sekat-sekat yang ada di dalam batangmu, supaya air dapat mengalir dengan lancar. Apabila aku sudah selesai dengan pekerjaanku, engkau akan menjadi pipa yang akan mengalirkan air untuk mengairi sawahku sehingga padi yang kutanam dapat tumbuh dengan subur." Mendengar hal ini, batang bambu lama terdiam, kemudian dia berkata kepada petani, "Tuan, tentu aku akan merasa sangat sakit ketika engkau menebangku. Juga pasti akan sakit ketika engkau membuang cabang-cabangku, bahkan lebih sakit lagi ketika engkau membelah-belah batangku yang indah ini, dan pasti tak tertahankan ketika engkau mengorek-ngorek bagian dalam tubuhku untuk membuang sekat-sekat penghalang itu. Apakah aku akan kuat melalui semua proses itu, Tuan?" Petani menjawab batang bambu itu, "Wahai bambu, engkau pasti kuat melalui semua itu, karena aku memilihmu justru karena engkau yang paling kuat dari semua batang pada rumpun ini. Jadi tenanglah." Akhirnya batang bambu itu menyerah, "Baiklah, Tuan. Aku ingin sekali berguna bagimu. Ini aku, tebanglah aku, perbuatlah sesuai dengan yang kau kehendaki." Setelah petani selesai dengan pekerjaannya, batang bambu indah yang dulu hanya menjadi penghias halaman rumah petani, kini telah berubah menjadi pipa saluran air yang mengairi sawahnya sehingga padi dapat tumbuh dengan subur dan berbuah banyak. Pernahkah kita berpikir bahwa dengan masalah yang datang silih berganti tak habis-habisnya, mungkin Allah sedang memproses kita untuk menjadi indah di hadapan-Nya. Sama seperti batang bambu itu, kita sedang ditempa, Allah sedang membuat kita sempurna untuk dipakai menjadi penyalur berkat. Dia sedang membuang kesombongan dan segala sifat kita yang tak berkenan bagi-Nya. Tetapi jangan kuatir, kita pasti kuat karena Allah tak akan memberikan beban yang tak mampu kita pikul. Jadi maukah kita berserah pada kehendak Allah, membiarkan Dia bebas berkarya di dalam diri kita untuk menjadikan kita alat yang berguna bagi-Nya? Seperti batang bambu itu, marilah kita berkata, "Ini aku ya Allah, jadilah padaku menurut kehendak-Mu."

Sebuah Kursi Kosong

Sebuah Kursi Kosong Seorang gadis mengundang Pastor Parokinya untuk datang ke rumahnya agar memberikan Sakramen Perminyakan bagi ayahnya yang sedang sakit. Pada saat Pastor datang, ia mendapati seorang bapak tua yang sedang berbaring lemah di tempat tidur, dan sebuah kursi kosong di depannya. "Tentu Anda telah menanti saya", kata si Pastor. "Tidak, siapakah Anda?", tanya Bapak itu. Pastorpun memperkenalkan diri, kemudian dia berkata, "Saya melihat kursi kosong ini, saya kira Bapak sudah tahu kalau saya akan datang." "Ooh, kursi itu," kata si Bapak, "Maukah Pastor menutup pintu kamar itu?" lanjut si Bapak. Sambil bertanya-tanya dalam hati, Pastorpun menutup pintu kamar. "Saya mempunyai sebuah rahasia, tidak ada seorangpun yang mengetahuinya, bahkan putri tunggal sayapun tidak tahu," kata si Bapak. "Seumur hidupku saya tidak pernah tahu bagaimana caranya berdoa. Di gereja saya pernah mendengarkan homili Pastor tentang bagaimana caranya berdoa, tetapi semuanya itu berlalu begitu saja dari kepala saya." "Semua cara sudah saya coba, tapi selalu gagal," lanjut si Bapak, "Sampai pada suatu hari, tepatnya 4 tahun yang lalu, seorang sahabat karib saya mengajari suatu cara yang amat sederhana untuk dapat bercakap-cakap dengan Tuhan Yesus." Dia mengajari saya begini: "Duduklah di kursi, letakkan sebuah kursi kosong di depanmu, lalu bayangkan Tuhan Yesus duduk di atas kursi tersebut. Ini bukan hantu-Nya lho, karena Ia telah berjanji ‘akan senantiasa besertamu', kemudian berbicaralah biasa seperti halnya kamu sedang bercakap-cakap dengan saya saat ini." "Sayapun mencoba cara yang diberikan teman saya itu, dan sayapun dapat menikmatinya. Setiap hari saya melakukannya sampai beberapa jam. Semuanya itu saya lakukan secara sembunyi-sembunyi, agar putri saya tidak menganggap saya gila kalau melihat saya bercakap-cakap dengan kursi kosong." Si Pastor sangat tersentuh akan cerita Bapak itu, dan memberi dorongan agar si Bapak tetap melanjutkan kebiasaan berdoa tersebut. Setelah berdoa bersama, dan memberinya Sakramen Perminyakan, Pastorpun pulang. Dua hari kemudian, si gadis memberitahu Pastor kalau ayahnya telah meninggal tadi siang. "Apakah ia meninggal dengan damai?" tanya si Pastor. "Ya, saat saya pamit untuk membeli beberapa keperluan ke toko siang itu, ayah memanggil saya dan mengatakan bahwa ia sangat mencintai saya, lalu mencium kedua pipi saya. Satu jam kemudian, pada waktu saya pulang dari berbelanja, saya mendapati ayah sudah meninggal." "Tetapi ada suatu kejadian yang aneh waktu ayah meninggal. Ia meninggal dalam posisi duduk di atas tempat tidur dengan kepala tersandar pada kursi kosong yang ada di sebelah tempat tidur. Bagaimana pendapat Pastor?" Sambil mengusap air matanya, Pastorpun berkata, "Saya berharap kita semua kelak dapat meninggal dengan cara itu."

Isi Kopet

Isi koper Seorang manusia meninggal... Ketika ia menyadarinya, ia melihat Tuhan mendekati dirinya dg sambil memegang sebuah koper di tangan-Nya. Berikut dialog antara TUHAN & arwah manusia tersebut: Tuhan: "Mari kita pergi." Arwah: "Begitu cepat? Tapi saya masih memiliki banyak rencana." Tuhan: "Maaf, waktumu sudah habis, saatnya untuk pergi." Arwah: "Apakah isi koper yg Engkau pegang itu?" Tuhan: "Benda kamu." Arwah: "Benda saya? Maksudnya barang2 saya? Spt baju saya, uang saya, perhiasan saya?" Tuhan: "Bukan, barang itu tak pernah menjadi milikmu. Itu milik Dunia." Arwah: "Apakah itu ingatan & kenangan saya?" Tuhan: "Bukan, itu milik Waktu." Arwah: "Apakah itu bakat & kesuksesan saya?" Tuhan: "Bukan juga, itu milik Anugerah." Arwah: "Apakah itu istri & anak2 saya?" Tuhan: "Tidak juga, itu milik hatimu." Arwah: "Kalau begitu, itu pasti tubuh saya." Tuhan: "Tidak, bukan... Tubuhmu milik Debu Tanah." Arwah: "Jika demikian isinya tentu jiwa saya." Tuhan: "Kamu salah besar nak, sebab jiwamu itu milik-KU." Tuhan lalu menyerahkan koper tersebut ke sang Arwah. Dengan kebingungan & dengan ketakutan sang Arwah membuka koper tersebut Dan ternyata isinya KOSONG...!!! Dengan hati kecewa & airmata berlinang sang Arwah bertanya pd Tuhan, "Maksud Tuhan, saya tak pernah memiliki apapun?!" Tuhan menjawab: "Iya, benar. Sesungguhnya kamu itu tak pernah memiliki apapun..." Arwah: "Lalu..., apa yg menjadi milikku, Tuhan...?!" Tuhan: "WAKTU-mu! Saat-saat di waktu kamu HIDUP... itulah milikmu...!!!" Sahabatku semua, Hidup adalah waktu. Hargai waktu yg ada tersisa, Jalani hidup dengan penuh rasa syukur & kebahagiaan. Berhentilah bersungut-sungut dan mengomel. Nikmatilah setiap saat-saat yang dilalui bersama pasangan dan anak-anakmu, dan bahagiakan mereka selagi kamu masih punya waktu. Jangan simpan kebencian, dendam, kepahitan... Tetaplah menjadi baik sampai akhir hidup...

Gadis Penjual Apel

Gadis Penjual Apel

Beberapa tahun lalu sebuah grup salesman menghadiri sebuah konferensi di Chicago. 
Mereka telah berjanji kepada istri masing-masing akan tiba di rumah pada hari Jumat malam untuk makan malam bersama. 
Hal ini membuat mereka terburu-buru mengejar pesawat mereka sambil membawa koper-kopernya. 
Namun saat menuju tempat boarding pass tanpa sengaja salah seorang salesman itu menyenggol sekotak apel yang dijajakan. 
Apel-apel itu berhamburan kemana-mana. 
Namun para salesman itu tetap bergegas mengejar pesawat mereka, 
karena jika tidak maka mereka akan terlambat.

Tapi satu orang diantara mereka berhenti. 
Dia berhenti sejenak dan mengambil nafas dalam-dalam, 
dia mencoba mendengarkan suara hatinya dan ia merasakan belas kasihan pada gadis yang menjual apel-apel itu. 
Dia segera memberitahu teman-temannya untuk berangkat tanpa dirinya, 
dia meminta salah satu dari mereka untuk menghubungi istrinya bahwa ia akan terlambat pulang. 
Pria itu kemudian kembali ke terminal dimana apel-apel tadi berhamburan ke lantai.

Pria itu bersyukur telah membuat keputusan yang benar. 
Gadis penjual apel itu ternyata buta! Gadis itu menangis dan rasa frustasi terlihat jelas diwajahnya. 
Dia mencoba meraba-raba mencari apel-apelnya. 
Ia berseru meminta pertolongan untuk mengumpulkan barang dagangannya, 
namun tidak seorang pun yang peduli.

Salesman itu berlutut memunguti apel itu bersama gadis itu, 
setelah mengumpulkannya, 
ia membantu menatanya kembali 
di meja. 
Saat ia melihat banyak diantara apel itu yang rusak, 
ia memisahkannya. 
Saat telah selesai, 
ia berkata kepada gadis itu, 
“Ini uang 40 dolar, 
tolong ambil ini untuk mengganti kerusakan yang terjadi. 
Apakah kamu baik-baik saja?”

Gadis itu menghapus air matanya.

Pria itu kemudian berkata, 
“Aku harap apa yang kami lakukan tidak merusak harimu sedemikian buruk.”

Ketika pria itu hendak pergi meninggalkan gadis buta itu, 
gadis itu memanggilnya kembali.

”Tuan..” Pria itu berbalik menatap gadis itu.

”Apakah engkau Yesus?” 
tanya gadis itu.

Pria itu hanya tertegun dan tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Perlahan dia pergi ke arah penjual tiket untuk pulang ke rumahnya dengan pesawat selanjutnya. 
Namun pertanyaan gadis itu terus terdengar di telinganya, 
“Apakah engkau Yesus?”

Banyak orang di dunia ini seperti gadis itu, 
mereka dalam keadaan buta dan membutuhkan pertolongan. 
Namun kita yang telah dicelikkan oleh Yesus Kristus jarang yang mau berhenti sejenak dan menolong mereka. 
Jika kita menyatakan mengenal Yesus seharusnya kita berjalan dan hidup sebagaimana Yesus hidup. 
Sehingga ketika kehidupan seseorang bersentuhan dengan hidup kita, dia dapat merasakan kasih Yesus itu. Sudahkah hidup kita mencerminkan kehidupan Yesus?

«Mematikan Dosa untuk Hidup Baru»

(*) Rubrik Renungan

«Mematikan Dosa untuk Hidup Baru»

:) Suatu ketika, di lereng gunung terjadi kebakaran hebat. Barulah keesokan harinya api itu dapat dipadamkan. Ketika sedang memeriksa daerah bekas kebakaran, para relawan mendengar suara burung di tanah. Setelah mencari-cari akhirnya mereka menemukan tiga ekor anak burung yang dilindungi oleh abu tebal. Rupanya itulah induk mereka yang telah hangus terbakar karena melindungi ketiga anaknya. Induk burung itu rela mati agar ketiga anaknya dapat selamat.

:) Hari ini kita pun mengenang pengorbanan Yesus yang rela menderita sengsara bahkan wafat di kayu salib agar kita dapat terbebas dari kuasa dosa. Karena kasih-Nya yang besar, Yesus rela wafat untuk menebus kita yang berdosa.

:) “Sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggung-Nya, dan kesengsaraan kitalah yang dipikul-Nya (Yes.53:4). Yesus rela menderita dan wafat di salib karena ketaatan-Nya pada kehendak Bapa untuk menyelamatkan manusia.

:) Sahabat, Yesus telah mengorbankan diri-Nya demi keselamatan kita. Namun anugerah itu akan menjadi sia-sia jika kita tidak pernah menyadari segala dosa dan kesalahan kita. Malahan, penderitaan Yesus akan semakin bertambah jika kita tidak bertobat dan memperbaiki diri.

:) Oleh sebab itu, mari kita menyadari segala kebiasaan hidup, tutur kata maupun perilaku hidup kita yang keliru, yang bisa saja menyakiti hati orang lain. Mohonkanlah pengampunan Tuhan untuk segala dosa dan kelalaian kita itu dan mari kita bangun hidup yang baru.

:) Seperti sebuah biji yang harus mati di dalam tanah untuk menumbuhkan tunas yang baru, begitu juga hidup kita di dalam Tuhan. Mari kita matikan segala kebiasaan hidup yang keliru agar tunas kehidupan baru dapat tumbuh dan berkembang dalam hidup kita.

<3 PERCIKAN HATI
«Jumat Agung, 25 Maret 2016»

«Semangat Kebangkitan»

(*) Rubrik Motivasi Rohani

«Semangat Kebangkitan»

:) Di beberapa tempat, peristiwa Paskah sering digambarkan seperti sebuah telur yang menetas. Secara sederhana, telur yang utuh melambangkan makam Tuhan kita dan ketika telur terbuka/menetas itulah lambang kehidupan baru yang dibawa oleh Tuhan Yesus.

:) Maka tidak heran apabila telur dijadikan lambang, bahwa oleh kebangkitan Kristus, hidup kita pun harus diperbaharui. Lebih daripada itu, sesungguhnya Paskah adalah perayaan kemenangan Kristus, yang mengalahkan kuasa maut (kematian) melalui kebangkitan-Nya.

:) Tanpa kebangkitan Yesus, iman kita menjadi sia-sia. Dan tanpa cara hidup kita yang bangkit secara baru, maka makna kebangkitan Kristus itu sama sekali tidak memberi pengaruh untuk kita. Yang ada kita hanya merayakan Paskah sebagai rutinitas belaka.

:) Sahabat, perayaan Paskah bagi kita semestinya menjadi saat untuk membaharui iman. Kita diingatkan lagi agar tidak hanya mempunyai iman yang dangkal, yang mengikuti misa/kebaktian hanya sebagai kewajiban saja, atau mengikuti kegiatan rohani sebagai gaya hidup saja, terlibat dalam pelayanan hanya sekedar menjalankan tugas, atau sekedar ikut kumpul-kumpul ketika ada acara bahkan lebih parah lagi kalau hanya melihat kegiatan rohani sebagai beban saja.

:) Seharusnya iman kita akan Kristus yang bangkit itulah yang senantiasa menyemangati kita, menghidupkan kita dan menggerakkan kita untuk melakukan sesuatu yang berarti. Bukan karena kewajiban, bukan karena keterpaksaan, bukan karena ada maksud lain, dan bukan karena beban.

:) Marilah menata hidup kita agar senantiasa dijiwai oleh semangat kebangkitan. Marilah kita tinggalkan cara hidup lama yang bertentangan dengan semangat kebangkitan dan mari kenakan semangat baru. Bersama Yesus, kita bangkit untuk kehidupan yang mulia.

<3 Selamat Pesta Paskah, 27 Maret 2016.

«Mencintai Pekerjaan»

(*) Rubrik Motivasi Kerja & Usaha

«Mencintai Pekerjaan»

:) Bekerja adalah bagian dari kehidupan kita sebagai manusia. Oleh sebab itu, sering disebut bahwa bekerja adalah panggilan jiwa.

:) Tapi bagaimana cara kita memaknai kerja sebagai panggilan jiwa, jika kita bekerja dengan rasa bosan, dengan wajah yang penuh beban, dan dengan hati yang bersungut-sungut.
Jika demikian, bekerja bisa menjadi hal yang menyiksa tubuh dan jiwa.

:) Mari belajar untuk mencintai pekerjaan yang dimiliki sebagai panggilan jiwa. Mulailah dengan mensyukuri apa yang ada saat ini.

:) Jika apa yang kita kerjakan belum sesuai dengan harapan dan cita-cita hidup kita, janganlah mudah menyerah dan kecewa. Temukanlah hal-hal yang bisa disyukuri ketika kita bekerja di suatu tempat, misalnya: lingkungan tempat kerja, rekan-rekan kerja yang menyenangkan, letak tempat kerja yang strategis dan dekat dengan rumah atau atasan yang pengertian.

:) Percayalah, hati yang bersyukur pasti akan memampukan kita untuk selalu bekerja dengan gembira dan penuh semangat.

<3 PERCIKAN HATI
«Senin, 28 Maret 2016»

«Melayani Tuhan Seumur Hidupku»

(*) Rubrik Cerita Bermakna

«Melayani Tuhan Seumur Hidupku»

:) Kurang lebih dua ratus tahun yang lalu, perbudakan adalah hal yang diterima oleh masyarakat di Inggris. Biasanya orang kaya akan memilih budak yang mendatangkan banyak manfaat baginya.

:) Suatu ketika, William Wilberforce, sedang mencari seorang budak. Ia menghampiri salah satu pedagang yang mempunyai banyak koleksi budak. Pedagang itu pun segera menawarkan koleksi budak yang ia miliki. Tapi langkahnya terhenti ketika William berkata: “Tunjukkanlah padaku budak paling jelek yang engkau miliki”.

:) Sebelumnya pedagang itu sudah memperingatkan William bahwa budak ini kelakuannya beringas, selalu mengumpat bahkan akan meludah ke muka pembeli. Tapi William dengan penuh keyakinan tetap ingin membeli budak itu.

:) Sepanjang jalan budak itu terus mengumpat. Bahkan ketika mereka sampai di rumah William, budak itu mengancam akan memporak-porandakan seisi rumah jika ia tetap dipekerjakan sebagai budak. Tapi dengan penuh kesabaran William memintanya untuk menunggu. Ternyata ia justru memberikan surat pembebasan  bagi budak itu.

:) Budak itu amat gembira dan segera berlari keluar dari rumah. Tapi beberapa waktu kemudian setelah ia lelah merayakan kebebasannya, ia bingung hendak kemana. Ia takut bila berkeliaran ia justru akan ditangkap dan menjadi budak lagi.

:) Sambil merenungkan kebebasan yang baru diterimanya, ia teringat pada orang yang telah memberikan kebebasan untuknya. Ia pun memutuskan untuk kembali ke rumah bangsawan itu dan berkata: “Tuan, aku telah Tuan beli dengan harga yang telah Tuan lunasi, sekarang ijinkanlah aku untuk melayani Tuan seumur hidupku.”

:) Sahabat, kita pun telah ditebus Tuhan Yesus dengan darah yang mahal. Pengorbanan-Nya telah membuka pintu keselamatan bagi kita. Maka mari kita manfaatkan anugerah yang besar ini dengan berkata: "Ya Tuhan, ijinkanlah aku untuk melayani Engkau seumur hidupku."

<3 PERCIKAN HATI
«Sabtu, 26 Maret 2016»

«Jangan Kuatir»

(*) Rubrik Inspirasi Kitab Suci

«Jangan Kuatir»

:) “Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.” (Flp. 4:6-7)

:) Kebahagiaan dan kedamaian hati selalu disediakan Tuhan untuk kita. Tapi jika kita selalu cemas dan khawatir akan segala sesuatu, maka itu bisa mengurangi kebahagiaan bahkan pula mengganggu kesehatan tubuh kita.

:) Lakukanlah sesuatu agar kita selalu bisa mengendalikan pikiran dan mengurangi stress. Jangan biarkan kesulitan, persoalan bahkan kekhawatiran membelenggu pikiran dan hidup kita. Berusahalah semaksimal mungkin dan serahkanlah segala usaha itu kepada Tuhan lewat doa.

:) Ketahuilah ketika kita memilih untuk mengurangi stress dengan tidak mengkhawatirkan sesuatu yang telah kita usahakan dengan kemampuan terbaik, maka itu berarti kita sedang membuka hati untuk melihat hal-hal baik lainnya yang disediakan Tuhan untuk kita.

<3 PERCIKAN HATI
«Selasa, 29 Maret 2016»

Popular Posts Widget