“Makna Persahabatan”

Mrk. 2:1-12;

“Teman bisa membawamu ke Surga tinggi, tetapi bisa juga menenggelamkanmu dalam nereka.
” Ikatkanlah persahabatan dengan Sabda Tuhan agar Yesuslah yang menuntun persahabatan itu.”


Bagi mereka yang membawa teman yang lumpuh kepada Yesus dengan cara membuka atap rumah dan menurunkannya di hadapan Yesus, mau mengatakan kepada kita bahwa tidak ada yang mustahil bila mereka percaya. Imanlah yang mendorong mereka untuk membuat sebuah tindakan nekat, dan hasil dari iman mereka adalah kesembuhan total yang dialami oleh teman mereka.

Kita pun tidak bisa mengelak kenyataan bahwa kita hidup dengan dan bersama teman-teman. Pengaruh mereka bisa bersifat positif pun negatif sesuai dengan sifat dan karakter masing-masing. Mensyukuri persahabatan adalah tindakan terpuji, tetapi berani memilih dan memilah apa yang harus dibuat dalam persahabatan adalah sebuah kebijaksaan. Bagaikan kita diundang ke pesta makan di mana tersedia banyak hidangan. Tuan pesta telah menyediakan semuanya itu untukmu, tetapi hal makan atau tidak makan makanan tertentu bukan tergantung dari tuan pesta melainkan dari keputusan pribadi Anda sendiri. Demikian pun dalam persahabatan; teman menawarkan berbagai macam menu kehidupan tetapi saatnya Anda harus membuat pilihan yang bijaksana demi kebahagian dan keselamatanmu.

Bacaan hari ini bisa memberikan pencerahan bagi kita dalam menjalin persahabatan tetapi juga bisa memberikan nilai positif lain bahwa iman teman-teman bisa menyelamatkan dan menyembuhkanmu. Karena itu, bangunlah persahabatanmu di atas dasar Sabda Tuhan agar Tuhanlah yang mengendalikan persahabatanmu menuju kepada Dia Yang adalah sumber kehidupan kekal.

Jumat, 14 Januari 2011

Teriring salam dan doa kecilku untumu selalu,

Rinnong

“Apa yang Anda wartakan?”

Mrk. 1:40-45; 
“Mewartakan kejelekan dan kekurangan orang lain itu lebih mudah dan gencar kita lakukan daripada kebaikan-kebaikan mereka.”


          Sebuah kisah singkat namun sarat makna kita bisa renungkan lewat bacaan Injil hari; Di mulai dari kedatangan seorang yang sakit kusta dan mohon kesembuhan dari Yesus dengan berkata: “Jika Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku.” Yesus membalasnya dengan mengatakan: “Aku mau, tahirlah engkau! Orang itu pun menjadi tahir/sembuh dan walaupun dilarang tapi ia pergi keluar dan mewartakan pengalaman ini kepada orang lain di kotanya.

            Hal yang pantas kita renungkan hari ini adalah “apakah kita pun berani mewartakan Yesus walaupun resikonya mungkin saja nyawa kita?” Ataukah ketika ada tantangan dan hambatan, kita malah mundur dan lari dari tugas pewartaan kita? Di lain pihak, bacaan hari ini pun memberi pencerahan kepada kita bahwa Yesus bukan semata seorang Penyelamat tapi Ia juga seorang tabib/dokter atau Penyembuh. Ini yang terjadi; jika kita disembuhkan maka itulah tandanya bahwa kita pun diajak untuk berjuang mendapatkan keselamatan. Sebaliknya keselamatan yang kita dapatkan juga bisa serentak mendatangkan kesembuhan baik jiwa maupun raga (fisik dan psikis).
           
            Pengalaman si kusta yang disembuhkan seharusnya mengemabalikan kita pada inti dan hakekat iman kita bahwa “hanya kepada Tuhanlah kita berharap.” Di dalam Tuhan kita bisa mendapatkan kesembuhan jiwa bahkan badan jika kita percaya kepada-Nya dengan sungguh-sungguh. Semoga di tengah derita, iman kita tidak menjadi lemah melainkan dikuatkan untuk selalu berharap kepada-Nya. Biarlah nama Tuhan kita wartakan lewat kata dan perbuatan kita setiap saat.

 

Kamis, 13 Januari 2011

Teriring salam dan doa kecilku untukmu selalu,

Rinnong

“Adakah waktu di hidupmu untuk Tuhan”


Mrk. 1:29-39; 

“Mencari tempat sunyi di celah kesibukan harian untuk berkomunikasi dengan Tuhan
adalah saat terindah untuk mengisi kembali energy kekuatan kita.”


          Semalam aku ingin menelpon seseorang tapi ada peringatan bahwa bateray hpku hampir habis sehingga tidak bisa membuat panggilan keluar. Dengan peringatan ini, aku tahu apa yang harus kuperbuat yakni “harus mencharging bateray sebelum menggunakannya.” “Charging”  adalah kegiatan mengisi kekuatan baru dalam bateray hp agar aku bisa menggunakannya untuk menelepon keluar. Itu pulalah yang kita lakukan ketika kita merasa haus dengan meneguk segelas air atau ketika kita lapar dan harus mencari makanan yang bisa disantap.

            Hari ini, Injil menawarkan sebuah bacaan yang rasanya biasa-biasa saja jika kita membaca sambil berlalu saja tanpa merenungkannya. Yesus mengunjungi rumah Simon; menyembuhkan ibu mertua Simon yang sedang sakit; Ia keluar untuk berdoa; pergi lagi ke desa-desa lain untuk mengajar memperkenalkan Kerajaan Allah. Kegiatan-kegiatan ini dilakukan oleh Yesus dalam putaran hari-hari hidup-Nya. Kalau kita memperhatikan secara saksama maka “doa” menjadi pusat seluruh aktivitas-Nya. Doa menjadi kesempatan untuk mendapatkan sumber inspirasi dan kekuatan dalam tugas pewartaan-Nya. Di balik kesibukan-Nya, Yesus selalu menjalin komunikasi pribadi dengan Bapa-Nya, Yang adalah sumber kekuatan Diri-Nya.

            Banyak kali kita mengeluh karena sibuk sepanjang hari dan hampir tidak ada waktu dalam hidup untuk menjalin komunikasi pribadi dengan Allah. Apakah benar bahwa kita tidak memiliki ruang dan waktu untuk Tuhan, ataukah kita membiarkan diri terlena dalam kesibukan sehingga waktu untuk Tuhan pun kita abaikan? Bacaan hari mengajar kita untuk tahu  mengatur waktu dan memberikan prioritas kepada “pembangunan relasi pribadi dengan Tuhan” sebagai sumber inspirasi dan kekuatan dengan Allah. Tuhan senang bila melihat kita sibuk bekerja untuk kelanjutan hidup keluarga kita, tetapi Ia sungguh merasa terharu bila di tengah kesibukan itu, kita masih memberikan bahkan bila cuma “menyisihkan” sedikit waktu untuk-Nya. Sahabatku, Tuhan sedang menanti kedatanganmu dalam doa hari ini.

Rabu, 12 Januari 2011

Teriring salam dan doa kecilku untukmu selalu,

Rinnong

“Jangan termakan Pujian”

Mrk. 1:21b-28; 

“Pujian dan pengakuan memang dibutuhkan oleh manusia,
tetapi jika Anda tidak hati-hati maka pujian bisa menjadi
sumber kesombongan diri.”

          Siapa yang tidak membutuhkan pengakuan dan pujian dari orang lain? Setiap manusia pasti membutuhkannya karena dengan itu, apa yang kita perbuat atau katakan mendapatkan pengakuan dari pihak lain. Pujian dan pengakuan pun bisa menambah daya dan kekuatan bagi yang dipuji untuk berbuat yang lebih, yang terbaik bagi orang lain.

            “Apa urusan-Mu dengan kami? Aku tahu siapa Engkau: Yang Kudus dari Allah.” Demikianlah seruan roh jahat yang ada  dalam diri orang yang kerasukan ketika bertemu dengan Yesus. Mau tahu apa reaksi Yesus? Pengakuan dan pujian ini diterimanya, namun tidak serta merta membuat-Nya lupa diri karena termakan pujian murahan seperti ini. Mengapa? Karena iblis mengungkapkan pujian ini bukan sebagai sebuah ungkapan jujur dari hatinya, melainkan sebuah “trik” untuk terhindar dari kuasa Yesus untuk melenyapkannya. Keluarlah dari padanya, demikian balasan Yesus. Setan itu pun keluar dan orang itu mendapatkan kesembuhannya.

            Hidup yang kita jalani pun tak lepas dari pujian dan pengakuan dari orang lain. Banyak orang sedang mencari untuk mendapatkan pengakuan dari pihak lain, dan ketika menemukannya maka segalanya dilupakan. Karena itu, sejauh pujian dan pengakuan dijadikan sebagai tujuan sebuah pencarian jiwa, maka kesombongan akan menjadi buah-buahnya. Membaca bacaan hari ini, mengingatkan kita bahwa segalanya harus kita terima dengan rasa syukur dan rendah hati. Kita membutuhkan pujian dan pengakuan, tetapi haruslah diubah menjadi energi positif yang memungkinkan kita untuk berbuat dan memberikan yang terindah dan terbaik bagi Tuhan. Inti pewartaan kita adalah agar nama Tuhan dimuliakan oleh setiap orang, dan bukannya pujian dan pengakuan diarahkan kepada  pribadi yang mewartakan. Marilah kita beriman dengan rendah hati agar hanya Tuhanlah yang disembah dan dimuliakan dalam hidup setiap orang.

Selasa, 11 Januari 2011

Teriring salam dan doaku untukmu selalu,

Rinnong

“Ada misi dalam Panggilan”

Mrk. 1:14-20; 
“Perutusan selalu ada dalam panggilan.
Kita dipanggil bukan untuk tinggal menjadi anggota Gereja pasif
melainkan untuk diutus.”

           Menjadi anggota Gereja serentak kita diemban 3 tugas utama Gereja untuk memimpin, mengajar dan menguduskan. Rasanya kita yang kerdil ini tak sanggup dan pantas untuk mengemban misi besar itu, namun bila Anda sadari maka di sana ada sebuah nilai kepercayaan dari Tuhan lewat Gereja-Nya kepada kita yang merasa diri kecil dan rapuh ini. Tuhan tahu bahwa kita mampu makanya Ia memanggil kita menjadi anggota Gereja-Nya agar kemulian Tuhan dimuliakan oleh setiap insan lewat kehadiran kita, lewat tutur kata dan perbuatan baik kita setiap saat.

            Bacaan hari ini menampilkan moment panggilan kepada murid-murid yang pertama; Petrus, Andreas, Yakobus dan Yohanes. Kepada mereka, Yesus hanya mengatakan “Ikutilah Aku dan kamu akan kujadikan penjala manusia.” Kalimat pendek ini sudah merangkum semua yang harus dilakukan oleh seorang yang terpanggil menjadi murid Yesus. Kita dipanggil menjadi anggota Gereja. Di sana kita dibentuk dan dibekali lewat ajaran dan baca Kitab Suci, dan kemudian kita pun di utus mewartakan kepada sesama Tuhan yang kita kenal lewat Gereja kita. Dengan kata lain, setiap orang dipanggil dan kepadanya diberikan misi untuk mewartakan sabda Tuhan kepada orang lain lewat kata dan perbuatan kita.

            Oleh karena itu, membaca dan merenungkan bacaan ini, kisah panggilan murid-murid yang pertama selalu mengingatkan kita untuk mengevaluasi kembali keterlibatan kita dalam tugas perutusan kita masing-masing dengan bertanya; “Apa yang telah, sedang dan akan saya lakukan untuk Tuhan dan Gereja-Nya?” Atau bagiku cukup saja menjadi seorang anggota Gereja tanpa sebuah misi/tugas perutusan? Aku mengharapkan keselamatan pribadi tanpa berbuat sesuatu untuk dan demi keselamatan orang lain? Semoga saja kesadaran akan hakekat panggilan kita, membuat kita siap sedia setiap saat untuk mengemban misi mewartakan sabda Tuhan kepada orang lain di sekitar kita lewat tutur kata dan perbuatan baik kita setiap saat.

Senin, 10 Januari 2011

Teriring salam dan doa kecilku untumu selalu,

Rinnong

Mendapatkan Pengakuan

Mat.3:13-17; 
 “Mendapatkan pengakuan atau penerimaan dari seseorang atas hasil kerja kita pasti mendatangkan kebanggaan. Akan tetapi mendapatkan pengakuan dari Allah adalah sebuah tindakan keselamatan.”

           Menurut pandangan Katolik, pembaptisan memiliki 3 fungsi penting sebagai berikut; Menjadikan yang dibaptis sebagai anak Allah; Membersihkan yang dibaptis dari noda dosa asal dan Menajdikan yang dibaptis anggota gereja Katolik. Berhubung karena Katolik mengizinkan pembaptisan bayi maka semuanya ini didapatkan si bayi lewat ekspresi iman orang tua yang membawa anak mereka untuk mendapatkan sakramen pembaptisan. Karena itu, dengan pembaptisan yang diterima sang bayi, ada pengakuan di sana bahwa Allah adalah Pencipta dan Bapanya dan gereja adalah ibu spiritualnya yang akan menuntunnya kepada persatuan mesra dengan Sang Bapa melalui Yesus Putra-Nya, yakni lewat Gereja yang didirikan oleh tangan-Nya sendiri.

            Hari ini, Gereja mengajak kita untuk merayakan pesta Pembaptisan Tuhan di sungai Yordan. Peristiwanya tertulis secara singkat seperti laporan Matius dalam Injilnya yang kita renungkan hari ini, sebagai berikut: Yesus datang kepada Yohanes di sungai Yordan untuk dibaptis. Awalnya Yohanes menolak karena perasaan ketidak-layakan untuk membaptis Tuhannya, tetapi akhirnya, Yohanes menerima juga setelah mendengar penjelasan Yesus. Setelah dibaptis ada suara yang berseru dari langit: “Inilah Anak-Ku yang Kukasih, kepada-Nyalah Aku berkenan.” Inilah pengakuan dari Allah Bapa sebagai tanda bahwa Yesus adalah Putra-Nya dan misi untuk menyelamatkan manusia pun dimulai di hadapan umum.

            Setiap dari kita pun telah mendapatkan pengakuan seperti ini ketika air dituangkan di atas kepala kita oleh para romo atau pun orang lain dalam keadaan darurat dengan rumusan: “Aku membaptis engkau dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus.” Sebuah pertanyaan singkat untuk direnungkan kembali yakni: “Apakah kita telah melaksanakan tugas perutusan/misi kita?” Namun, pertanyaan penting nan mendasar adalah “Apakah kita sendiri sadar dan tahu misi kita?” Kita hanya bisa berjuang mewujud-nyatakan misi kita ketika kita mengetahui seperti apakah misi kita atau setidak-tidaknya ada orang yang harus memberitahukan kepada kita. Karena itu, hal penting sekarang yang harus kita laksanakan adalah “temukanlah misi Anda, dan kemudian berjuanglah untuk mewujudkannya di tahun yang baru ini.”

Selamat berhari minggu.

Minggu, 9 Januari 2011

Pada Pesta PEMBAPTISAN TUHAN

Teriring salam dan doa kecilku untukmu selalu,

Rinnong

Nilai Kerendahan Hati

Yoh.3:22-30; 
 “Tidak semua orang beragama dapat bersifat rendah hati dalam hidupnya. Akan tetapi jika seseorang diantaramu memiliki sifat rendah hati maka Anda dapat mengetahui seberapa dalam iman dia.”

           Apa yang kurang dari seorang Yohanes sebagai nabi terakhir Perjanjian Lama dan nabi pertama Perjanjian Baru? Yohanes menjadi penghubung dua masa yang semuanya berpusat pada Allah, yakni melalui Yesus Putra-Nya (Emanuel: Allah beserta kita). Yohanes menjadi perintis jalan bagi Tuhannya yang datang kemudian daripadanya sehingga membuka tali kasut-Nya pun sebagai seorang hamba, Yohanes merasa tidak layak untuk melakukannya. Tapi apa yang kurang dari seorang nabi besar seperti Yohanes? Ia memiliki segudang alasan untuk berbangga diri karena diutus ke dunia sebagai nabi yang special. Akan tetapi, apakah untuk semuanya itu, Yohanes mau berbangga diri? Tidak! “Biarlah Dia makin besar, dan aku harus makin kecil”  demikianlah jawabannya ketika murid-muridnya bertanya tentang identitas dirinya dengan cara membandingkannya dengan Yesus. Bahkan di tempat lain ketika ia melihat Yesus, ia berkata: “Lihatlah Anak Domba Allah sambil menunjuk kepada Yesus.”

            Wow, bila direnungkan tentang segala yang melekat dalam diri Yohanes Pembaptis maka kita akan belajar semua sifat yang seharusnya menjadi syarat bagi seorang murid Tuhan dalam arti yang sesungguhnya, dan salah satu yang paling menonjol adalah sifat “kerendahan hatinya.” Karena itu, dengan berani aku menegaskan bahwa tidak semua orang beragama memiliki sifat rendah hati dalam dirinya. Akan tetapi bila Anda mendapati seseorang yang memiliki sifat rendah hati maka Anda akan mengukur seberapa dalam imannya akan Allah. Iman adalah ungkapan dan reaksi hati dan pikiran atas tawaran cinta Allah, dan justru ketika Anda memiliki kerendahan hati maka Anda selalu berada dekat dengan Tuhan seperti kedekatan Yohanes dan Yesus sebagai Tuhannya.

            Oleh karena itu, jika hari ini kita ditawari bacaan ini untuk direnungkan maka pantaslah kita kembali bertanya diri; “Sejauh manakah aku sebagai seorang beragama berjuang untuk memiliki sifat rendah hati seperti seorang Yohanes Pembaptis?” Anda bisa memilikinya bila Anda mau. Yakinlah dan Anda pun akan memilikinya sebagai harta yang takan terambil dari padamu.


Selamat berakhir pekan untuk para sahabat.

Sabtu, 8 Januari 2011

Teriring salam dan doa kecilku untukmu selalu,

Rinnong

“Tuhan mau jika Anda minta dengan Sungguh”

Luk.5:12-16;

“Pertolongan-Nya akan mendatangimu di saat Ia menghendakinya.”

          Mengakhiri tahun 2010 dan mengawali tahun 2011 dengan cuma berbaring di tempat tidur sungguh menjadi pengalaman yang memilukan bagi setiap orang. Demikianlah pemberontakan kecil yang terjadi dalam hati dan pikiranku ketika aku harus jatuh sakit pada malam penutupan tahun dan masuk opname dengan  total 8 botol infus dari tanggal 1 sampai 5 Januari 2011. Rasanya Tuhan tidak adil bagiku, tapi dari sanalah imanku berada dalam proses pemurnian, sehingga aku cuma berpasrah kepada-Nya kapan saat penyembuhan itu diberikan kepadaku bila Ia menghendakinya.

            Injil hari ini mengisahkan tentang pertemuan Yesus dengan seorang yang sakit kusta yang menghampiri-Nya dan meminta sesuatu kepada-Nya, katanya: “Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku.” Reaksi Tuhan pun diberikan dalam sekejab: “Aku mau, jadilah engkau tahir.” Apa yang terjadi setelah kata-kata ini keluar dari mulut Yesus? Orang kusta itu pun menjadi tahir/sembuh.

            Saya percaya bahwa setiap orang tak luput dari pengalaman kesakitan dan penderitaan, serta juga mengalami peristiwa penyembuhan dengan berbagai cara yang mempesona. Selama 6 hari aku harus bergulat dengan sakit dan derita, dan pada hari ke tujuh Ia mengizinkanku mengalami kesembuhan yang berasal dari-Nya lewat berbagai cara  dan teman-teman yang mengagumkan segala bantuannya. Ini adalah rahmat dan berkat Tuhan, maka mulutku takan pernah berhenti bersyukur dan mewartakannya kepada kalian sahabat-sahabatku, agar  kalian pun percaya bahwa dalam derita apa pun yang Anda alami saat ini, yakinlah bahwa Tuhan selalu ada di sana untuk Anda. Ia merasakan deritamu. Ia mengertimu. Ia mendengarkan setiap jeritan yang keluar dari mulutmu.

            Karena itu, jangan pernah putus asa atau patah semangat bila pertolongan itu tidak datang pada saat Anda merasa sangat membutuhkannya. Ia tahu yang terbaik untukmu, bukan hanya untuk tubuhmu semata tapi terlebih untuk jiwamu. Yakinlah selalu bahwa Ia takan pernah meninggalkanmu sendirian.

Jumat, 7 Januari 2011

Teriring salam dan doa kecilku untukmu,

Rinnong

“Wartakanlah apa yang Anda lihat dan alami”

Luk.2:16-21; 
               “Banyak pewarta gagal karena mereka tidak mewartakan dari apa yang mereka alami dan lihat, melainkan dari apa yang mereka pikirkan tentang Tuhan.”

Para gembala kecil itu pun pergi ke kandang dan melihat serta menyembah bayi yang diberitakan oleh malaikat kepada mereka. Setelah itu, mereka pergi dan menceritakan segala sesuatu yang mereka lihat dan alami dan banyak orang terheran-heran mendengarnya. Itulah kisah singkat para gembala kecil di pinggiran kota Betlehem. Mereka sungguh pewarta yang sejati karena mereka mewartakan apa yang mereka lihat dan alami, dan bukannya apa yang mereka pikirkan tentang Anak Allah yang lahir di kandang Betlehem itu.

Kisah para gembal kecil ini menjadi kritik sekaligus ajakan bagi kita semua untuk mengevaluasi kembali cara dan gaya pewartaan kita sebelumnya dengan bertanya; “Apa yang kita wartakan tentang Tuhan? Apakah Tuhan yang kita pikirkan ataukah Tuhan yang kita alami dalam hidup kita? Karena dalam kenyataannya banyak pewarta gagal karena mereka bukan mewartakan apa yang mereka sungguh-sungguh alami, melainkan apa yang mereka cuma pikirkan tentang Allah. Allah hanyalah sebuah konsep atau teori yang diciptakan oleh kepintaran otak, dan bukan Allah yang dialami lewat pengalaman doa, terutama dalam Ekaristi.

Karena itu, jika kisah para gembala dijadikan bahan refleksi kita di hari ini maka alangkah baiknya kita harus kembali bermenung “sejauh manakah relasi pribadiku dengan Tuhan? Jika aku memiliki relasi yang akrab dengan Tuhan lewat doa dan meditasi maka Allah yang aku wartakan adalah Allah yang benar-benar kualami dan bukan Allah yang kuciptakan dari hasil kerja otakku semata. Semoga Bunda Maria yang pestanya kita rayakan hari ini sebagai Bunda Allah mau mendoakan kita dan menghantar kita untuk semakin mengenal Yesus, putra-nya.


SELAMAT TAHUN BARU 2011

Sabtu, 1 Januari 2011

PESTA MARIA BUNDA ALLAH

Teriring salam dan doaku untukmu,

Rinnong

“Terang Hidup”

Yoh.1:1-18; 
 “Allah adalah Terang dan Hidup. Ia memberikan terang dan hidup itu kepada kita yang berada dalam kegelapan dosaagar kita pun memiliki terang dan hidup itu.”

          Bacaan hari ini sungguh memberikan keterangan yang jelas tentang siapakah Yesus yang datang dalam pesta Natal yang kita rayakan seminggu yang lalu dan yang gemanya masih membahana dalam hati kita masing-masing sampai saat ini. Dalam Injil hari ini Yesus memaklumkan Diri-Nya sebagai sumber terang dan hidup yang datang dari Allah, yang memberikan terang dan hidup itu kepada semua orang yang berada dalam kegelapan karena dosa, agar mereka dapat melihat terang itu dan memiliki hidup yang berasal dari-Nya. Apa yang selanjutnya diharapkan oleh Sang Pemberi terang dan hidup adalah agar kita yang telah memiliki terang dan hidup itu dapat memberikan cahaya dan hidup yang sama kepada orang lain agar kita semua tanpa terkecuali hidup dalam terang yang satu dan sama, yakni terang dan hidup Allah.

            Akan tetapi sangat disayangkan bahwa tidak semua orang ingin memiliki terang dan hidup dari Allah. Sebagian orang yang terlena dalam dosa dan tertarik pada pesona duniawi lebih cenderung hidup dalam kegelapan dosa dan menjauh dari keinginan baik untuk melaksanakan perintah-perintah Allah. Kekacauan, iri hati, dendam, petengkaran, amarah, peperangan dan lain sebagainya adalah ekspresi dari mereka yang hidup dalam kegelapan dosa dan tidak mau memiliki terang dan hidup yang ditawarkan oleh Allah kepada manusia lewat Yesus Kristus, Putra-Nya.

            Akhir tahun ini kiranya menjadi sebuah kesempatan lagi bagi kita untuk melihat kembali diri sepanjang tahun yang akan lewat ini dengan bertanya; “Apakah saya telah betul-betul hidup dalam terang yang diberikan oleh Yesus, ataukah hidup saya telah banyak dikuasai oleh dosa-dosaku. Hanya mau mengingatkanmu sebagai saudaraku bahwa bagi manusia mungkin kita telah terlambat, tetapi tidak bagi Allah. Bagi-Nya, tidak ada kata terlambat untuk sebuah perbaikan hidup yang kita sebut pertobatan. Allah selalu menantikan kita kapan saja untuk datang kepada-Nya melalui pintu pertobatan hati. Hanya ini pesanku kepadamu sebagai saudaraku, biarlah kita mengakhiri tahun ini dan memulai tahun yang baru dengan suka cita dan damai. Biarlah terang dan hidup Allah menyinari dirimu agar damai-Nya selalu bersamamu kapan saja dan sepanjang hidupmu.


Selamat menyambut Tahun Baru 2011,

Jumat, 31 Desember 2010
Salam dan doaku untukmu selalu,

Rinnong

Popular Posts Widget