1 Petrus 3:12

1 Petrus 3:12
Sebab mata Tuhan tertuju kepada orang-orang benar, dan telinga-Nya kepada permohonan mereka yang minta tolong, tetapi wajah Tuhan menentang orang-orang yang berbuat jahat.

1 Petrus 3:10-11

1 Petrus 3:10-11
Siapa yang mau mencintai hidup dan mau melihat hari-hari baik, ia harus menjaga lidahnya terhadap yang jahat dan bibirnya terhadap ucapan-ucapan yang menipu.
Ia harus menjauhi yang jahat dan melakukan yang baik, ia harus mencari perdamaian dan berusaha mendapatkannya.

Kolose 2:7

Kolose 2:7
Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur.

1 Petrus 3:8

1 Petrus 3:8
Dan akhirnya, hendaklah kamu semua seia sekata, seperasaan, mengasihi saudara-saudara, penyayang dan rendah hati.

Menghindari Kesalahpahaman

Rubrik Inspirasi Kitab Suci

Menghindari Kesalahpahaman

“….Ia tidak akan menghakimi dengan sekilas pandang saja atau menjatuhkan keputusan menurut kata orang.” (Yes. 11:3b)

Dalam sebuah seminar, seorang pembicara yang terkenal taat beragama tiba-tiba berkata, “Saya akan membuat sebuah pengakuan. Saya pernah dekat dengan seorang wanita yang telah bersuami. Kami pernah tinggal bersama dan saya sangat mencintainya.
Mendengar pengakuan sang pembicara, bahkan sebelum ia menyelesaikan kalimatnya sudah ada beberapa orang keluar dari ruangan itu dengan raut wajah yang penuh dengan rasa kecewa.
Melihat reaksi para pendengarnya, pembicara itu melanjutkan “Saya akan memberitahukan siapa wanita itu. Dia adalah ibu saya.” Para pendengar pun langsung tertawa terbahak-bahak.

Sahabat, tanpa sadar kita pun sering menghakimi orang tanpa terlebih dahulu mendengar dengan lebih seksama atau mencari tahu lebih lanjut mengenai kebenaran berita yang kita dengar.

Mari kita belajar dari sosok Sang Raja damai yang dibicarakan oleh nabi Yesaya pada hari ini. Mari berusaha untuk tidak menghakimi orang berdasarkan peristiwa atau berita yang belum jelas kebenarannya. Bangunlah kebiasaan baru untuk lebih banyak mendengarkan daripada berbicara agar kita tidak mudah salah paham atau memberi penilaian negatif kepada orang lain.

PERCIKAN HATI
Selasa, 1 Desember 2015

MAKSUD SEBENARNYA

Bacaan: Markus 7:5-13
NATS: Yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan (Matius 23:23)
_________________________________________________________________________________

Di daerah koloni Amerika Utara, William Penn dikenal sebagai anggota Quaker baik hati yang jujur terhadap penduduk asli Amerika. Saat ia pulang ke Inggris, anak-anaknya tidak ikut serta. Sayang, mereka tidak mewarisi integritas bapaknya. Bahkan tak lama kemudian, mereka merancang maksud jahat untuk menipu sebuah suku di Delaware. Mereka memperlihatkan sebuah kontrak lama yang menyatakan bahwa orang-orang Indian tersebut setuju untuk menjual sebidang tanah yang dapat dikelilingi seseorang dalam satu setengah hari.

Saat suku itu menyetujui perjanjian nenek moyang mereka, anak-anak Penn merasa gembira. Mereka lalu mengupah tiga pelari tercepat. Salah seorang pelari itu mencapai jarak 110,05 km dalam 18 jam. Mereka benar-benar tidak menghormati surat itu dan maksud sebenarnya dari perjanjian tersebut. 

Pada zaman Yesus, orang-orang Farisi dan ahli Taurat merasionalisasikan pelanggaran mereka terhadap maksud Taurat Allah yang sebenarnya. Yesus membongkar kemunafikan mereka saat mengutip perintah "hormatilah ayahmu dan ibumu" (Markus 7:10-13). Mereka mengatakan bahwa sebagian dari pendapatan mereka merupakan "hadiah kepada Allah" sehingga pendapatan mereka itu tidak dipakai untuk merawat orangtua mereka yang lanjut usia.

Alkitab bukan alat untuk memenuhi keinginan kita. Sebaliknya, kita harus meminta Allah supaya menolong kita memahami maksud yang sebenarnya. Pastikan kita tidak mengabaikan hal terpenting dalam hukum Taurat, yaitu keadilan, belas kasihan, dan kesetiaan (Matius 23:23) --HDF

MENAATI APA YANG TERTULIS DALAM HUKUM ITU BAIK NAMUN MENAATI SEMANGAT HUKUM JAUH LEBIH BAIK

Lihatlah Sisi Positifnya

Rubrik Motivasi Kerja & Usaha

Lihatlah Sisi Positifnya

Suatu ketika seorang pembicara diundang untuk memberikan motivasi kepada penduduk sebuah kota yang sedang lesu perekonomiannya.
Sang pembicara mulai melakukan presentasi. Ia mengambil sebuah kertas putih dan membuat lingkaran kecil di tengah-tengah kertas itu dengan menggunakan spidol.
Kemudian ia mengangkat kertas itu dan menunjukkannya pada mereka yang hadir sambil bertanya, “Apa yang kalian lihat?”. Sebagian besar menjawab mereka melihat sebuah titik hitam.
Dengan kecewa, sang pembicara itu menjawab, “Kalian telah melewatkan hal terpenting. Kalian tidak melihat kertas putih yang ukurannya sebenarnya lebih besar daripada titik hitam ini.”

Sahabat, pengalaman gagal, belum berhasil atau penolakan itu seperti sebuah titik hitam kecil yang berada di tengah kertas putih. Bila kita terlalu fokus pada kemalangan yang kita alami itu, maka kita tidak akan mampu melihat berkat besar yang berada di balik itu semua.

Mari belajar dari pengalaman. Jika belum berhasil, kita berusaha lagi. Justru ketika gagal, mata kita mampu terbuka lebar untuk melihat penyebab kegagalan itu sehingga di kemudian hari kita tidak akan mengulanginya lagi. 

Lihatlah sisi positif dari setiap kegagalan yang kita alami. Lalu fokuslah untuk meraih kesempatan yang masih terbuka lebar untuk kita. Jangan terpaku pada kegagalan. Jika jatuh, kita bangkit lagi untuk berusaha dengan lebih baik.

PERCIKAN HATI
Senin, 30 November 2015

SINAR YANG MEMUDAR

Bacaan: 2Korintus 3:5-18
NATS: Sebenarnya apa yang dahulu dianggap mulia, jika dibandingkan dengan kemuliaan yang mengatasi segala sesuatu ini, sama sekali tidak mempunyai arti (2Korintus 3:10)

Dalam beberapa hal, hukum Taurat Musa bagi orang kristiani sama seperti kruk bagi seorang atlet. Keduanya baik apabila diperlukan dan digunakan dengan benar. Namun, kruk tidak dapat digunakan untuk memenangkan perlombaan lari cepat 90 meter. Demikian juga bersandar pada sebuah sistem hukum tidak pernah dapat membawa kemenangan rohani bagi kita.

Paulus menekankan penyusutan kebesaran hukum Perjanjian Lama dengan membandingkannya dengan kemuliaan hidup dan kebebasan di dalam Roh yang tiada taranya. Mengacu pada wajah Musa yang bersinar setelah menerima Sepuluh Perintah Allah, Rasul Paulus berkata bahwa memudarnya sinar wajah Musa sama seperti wahyu di Gunung Sinai yang diterimanya. Wahyu itu bersifat sementara dan tidak lengkap. Orang Israel akan segera menyadari bahwa pesan Allah dari gunung itu juga standar yang akan digunakan untuk menghakimi mereka.

Namun, di mana Roh Kudus memerintah, di sana terdapat anugerah yang melimpah, dan keagungan-Nya jauh melebihi keagungan Taurat itu. Bayangkan sebatang korek api yang menyala di dalam sebuah tempat yang gelap gulita. Munculnya nyala api yang tiba-tiba itu memberikan sebuah pertunjukan sinar yang mengesankan. Namun, jika Anda menyalakan sebuah korek api di bawah terik sinar matahari, percikan sinarnya akan tampak tidak berarti.

Kesepuluh perintah tersebut bersifat menuntut dan pada akhirnya menghakimi. Akan tetapi, hidup di dalam Roh membawa pengalaman kuasa Allah yang mengubahkan ke dalam hati kita --MRD 

PUDARNYA KEAGUNGAN TAURAT TIDAK SEBANDING DENGAN KEMULIAAN ANUGERAH ALLAH

MELIHAT KE DUA ARAH

Bacaan: Yosua 1:1-9 
NATS: Hamba-Ku Musa telah mati; sebab itu bersiaplah sekarang (Yosua 1:2) 

Selama kebaktian Perjamuan Kudus pada Malam Tahun Baru di gereja, kami mengucapkan doa bersama-sama: “Bapa, kami serahkan tahun yang telah berlalu ini kepada-Mu. Kami menyerahkan kegagalan, penyesalan, dan kekecewaan kami kepada-Mu, karena semuanya itu tidak lagi berguna bagi kami. Sekarang, jadikan kami manusia baru, melupakan yang ada di belakang dan memusatkan pada apa yang di depan kami. 

“Kami serahkan kepada-Mu semua harapan dan impian kami akan masa depan. Murnikan semuanya itu dengan Roh-Mu supaya kehendak kami benar-benar mencerminkan kehendak-Mu untuk kami. 

“Saat kami berdiri di ambang tahun baru, doronglah kami dengan keberhasilan-keberhasilan masa lampau, tantanglah kami dengan kuasa firman-Mu, dan bimbing kami dengan hadirat Roh Kudus-Mu.

” Melihat ke dua arah pada setiap masa peralihan adalah sesuatu yang baik. Ketika Yosua memimpin Israel, Allah berfirman kepadanya supaya mempertimbangkan masa lampau dan masa depan: “Hamba-Ku Musa telah mati; sebab itu bersiaplah sekarang, seberangilah Sungai Yordan ini, engkau dan seluruh bangsa ini, menuju negeri yang akan Kuberikan kepada mereka, kepada orang Israel itu” (Yosua 1:2). Kemudian Dia berjanji, “Seperti Aku menyertai Musa, demikianlah Aku akan menyertai engkau …. Janganlah kecut dan tawar hati, sebab Tuhan, Allahmu, menyertai engkau, ke mana pun engkau pergi” (ayat 5,9). 

Dengan percaya kepada Allah, kita dapat menoleh ke belakang dan menatap ke depan, lalu melangkah dengan berani memasuki tahun baru —David McCasland 

KEMENANGAN-KEMENANGAN MASA LALU MEMBERI KEBERANIAN UNTUK MENGHADAPI MASA DEPAN

Berjaga-jaga

Rubrik Motivasi Rohani

Sadarkah kita bahwa kadang kejatuhan seseorang atau keluarga itu terjadi bukan karena banyaknya masalah, tetapi justru saat sedang berada dalam kelimpahan, nyaman dalam berbagai hal yang akhirnya membuat orang lengah.

Untuk itulah kita perlu selalu waspada. Kitab Suci menyebut sikap demikian sebagai kemauan untuk selalu berjaga-jaga. Kita berjaga-jaga karena kita tidak pernah tahu kapan kejatuhan itu akan menimpa kita, kita berjaga-jaga karena kita tidak tahu kapan hari Tuhan itu datang.

Sahabat, oleh sebab itu mari kita selalu membiasakan diri untuk hidup di dalam Tuhan. Berdoalah agar kita selalu punya kekuatan untuk berjaga-jaga. Karena sumber kekuatan itu datangnya hanya dari Tuhan. Bila kita tekun berdoa dan terus membangun hubungan dengan Tuhan, Roh Kudus akan memberi kekuatan dan melindungi kita.

Tapi doa dan hubungan yang erat dengan Tuhan yang dimaksud bukan hanya sekedar rutinitas saja, tapi benar-benar merupakan ungkapan hati kita untuk bersyukur, untuk memohon rahmat penyertaan Tuhan dalam perjalanan hidup kita setiap hari. Doa dan kedekatan dengan Tuhan akan melahirkan pertobatan, yang akan memampukan kita untuk menjadi orang yang lebih baik setiap harinya.

Selamat memasuki Masa Adven, selamat mempersiapkan diri untuk menyambut Sang Penebus, tapi juga selamat membaharui hati dan hidup kita agar semakin berkenan di hadapan Tuhan dan sesama.

PERCIKAN HATI
Minggu, 29 November 2015

Popular Posts Widget