“Apa yang sulit, cobalah untuk membuatnya menjadi mudah; Apa yang mudah, cobalah untuk jangan dipersulit.”



Selasa, 22 Maret 2011
Mat 23:1-12




Dalam percapakan dengan seorang teman dalam group “Perkat” yang terkesan dengan kata-kata peneguhan dalam renungan kemarin, ia berkomentar; “Romo, kalau memang setiap peniten bisa mendengarkan dan merasakan betapa berartinya mereka di hadapan Allah dalam kamar pengakuan, dan bukannya merasa terhukum dan ditekan lagi oleh kata-kata sebagian bapa pengakuan maka saya percaya kamar pengakuan tidak akan kosong atau menakutkan.” Menjawabnya, saya mengatakan; Untuk datang saja di kamar pengakuan, itu sudah hal yang luar biasa dalam nilai rasa imanku sebagai seorang bapa pengakuan. Aku selalu bertanya; “Siapa yang menyuruhmu mengaku dosa hari ini?” Sebagian menjawab; karena diajak teman, yang lain datang karena kemauan diri sendiri atau karena tuntutan dari sekolah atau group tertentu.” Saya selalu menguatkan mereka dengan berkata; “Benar! Ini kemauan Anda tapi rasakanlah saat ini bahwa Tuhan, Sang pemilik rahmat pengampunan itu, sendirilah mengundangmu ke sini. Jika Tuhan sendiri yang mengundangmu, mengapa aku harus menahan bahkan tidak memberikan apa yang Tuhan sendiri sediakan dan hendak berikan kepadamu? Aku di sini hanyalah seorang distributor rahmat itu dan bukan pemiliknya. Meskipun demikian, aku tahu hukum Gereja tentang bagaimana harus menjadi tegas dalam menegakkan aturan tapi lembut dalam pembahasaan kepada para peniten. Maafkanlah aku, Tuhan, bila ini sudah pada level pamer diri sendiri. Namun maksud saya sederhana saja bahwa “apa yang sulit, cobalah untuk buat menjadi mudah; dan apa yang mudah, janganlah dipersulit.”

Injil hari ini menjadi tamparan yang keras kepada mereka yang menyebut diri pemimpin, dan tentunya kepada kami para romo, atau setidak-tidaknya menjadi peringatan bagi kita semua. Banyak kebusukan sikap dan tingka laku para Farisi dikritik secara pedas oleh Yesus; ikutilah kata-kata mereka tapi jangan perbuatannya, mereka selalu mencari tempat terhormat, mencari tempat duduk terdepan dalam pesta, dan beragam kritik keras dan pedas lainnya. Daripada cenderung untuk melebelkan semuanya ini kepada para pemimpin, para romo kita, maka biarlah aku sebagai saudaramu mengajakmu untuk menerapkannya pada diri sendiri, sejauh manakah kita cenderung untuk mempraktekan apa yang diingatkan secara keras dan tegas oleh Yesus di atas dalam hidup kita masing-masing. Kita merasa terbebas dari kritikan Yesus di atas karena kita bukan seorang Farisi, bukan seorang pemimpin atau seorang romo, tapi kuingatkan engkau sebagai saudaraku bahwa “banyak kesempatan dalam hidup, kita pun cenderung melakukan praktek-praktek di atas; berapa banyak orang dewasa yang menyepelekan anak-anak atau orang muda hanya karena ingin dihormati? Berapa kalikah kita sebagai teman menaruh beban di pundak teman-teman kita lewat kata dan perbuatan kita tanpa menyentuhnya? Berapa kalikah dalam hidup, kita mencari untuk dihormati daripada menghormati, dan kalau tidak mendapatkannya maka kita pun ngambek untuk berpartisipasi dalam kehidupan bermasyarakat, pun dalam lingkungan hidup menggereja? Mungkin nasehat lama ini tetap perlu diingat terus; “menunjuk kesalahan teman/orang lain dengan satu jari telunjuk, ingatlah bahwa empat jari lain menunjuk arah terbalik kepada dirimu,” kecuali Anda sadar sehingga meluruskan semua jari Anda, tapi kan rasanya aneh.

Oleh karena itu, prinsipku di kamar pengakuan menjadi sangat sederhana; Anda datang untuk melepaskan beban dan bukan untuk membawa beban baru lagi hanya karena kata-kataku. Saya ingin agar setiap peniten yang keluar dari kamar pengakuan benar-benar merasakan pengalaman transfigurasi, penghiburan dan kekuatan, dan lebihnya dari itu mereka dapat merasakan bahwa Allah itu sungguh maha pengampun, yang dapat mengampuni dan melupakan dosa-dosamu yang banyak itu. Untuk menyadarkannya, ungkapan ini selalu kugunakan; Renungkanlah ini anakku; Anda berdosa berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun, tapi hari ini, engkau harus menyadari dan bersyukur untuk satu hal ini saja: Allah mengampuni dosamu yang banyak itu hanya dalam sekejab waktu.

Sebagai saudaramu, saya menutup refleksi ini dengan mengulangi kata-kata tercetak tebal di bagian awal renungan ini; “Apa yang sulit, cobalah untuk membuat menjadi mudah; Apa yang mudah, cobalah untuk jangan dipersulit.” Kita dihormati bukan karena jabatan atau posisi kita yang kita praktekan dengan tegas dank eras, melainkan ketika kita mau dan rela untuk menjadi seorang pelayan bagi orang lain dalam kata dan tindakanlah. Rasa hormat dari orang lain itu akan datang dengan sendirinya bila Anda mampu melayani dengan suka cita dan penuh cinta. Semakin Anda mencarinya semakin itu akan menjauh darimu. Sebaliknya, semakin Anda melayani dengan suka cita maka semuanya Tuhan akan sediakan bagimu. Saudaraku; hidup itu sudah sulit, maka janganlah menambah kesulitan baik bagimu, maupun bagi orang lain. Buatlah mudah bagi orang lain untuk mencintaimu. Buatlah kebaikan itu menjadi mudah untuk dialami dan senyummu menjadi murah didapatkan oleh orang lain hari ini. Dan, aku menyakinkanmu sebagai saudaraku; Sungguh, engkau akan menjadi kaya dan sangat berarti di mata Allah dan sesamamu. Dengarkanlah bisikanku sebagai saudaramu di kedalaman jiwamu saat ini; “Aku percaya bahwa Anda pun mampu melakukannya hari ini. Lakukanlah! Jangan menundanya sampai hari esok, saudaraku!”


Teriring salam dan doa kecilku untukmu selalu,

Rinnong

0 komentar:

Posting Komentar

Popular Posts Widget