UNTUK SAHABAT

Kasih berbuah tak kenal musim...
Dapat dipetik setiap hari oleh setiap orang...
Walau Kasih tak slalu dibalas manis,,
janganlah pernah berhenti berbuat Kasih kepada sesama...
Hiduplah dalam Kasih,,
sebab Kasih itu indah,,
membawa Damai,,
sukacita &
Harapan di hari-hari hidup kita . . . 
(30.5.2011 07:56:36)



 



Hidup ini terdiri dari kebahagiaan-kebahagiaan kecil... Tatapan sayang....
saling berbagi dengan sesama,
senyum tulus pada setiap yg menyapa...
kehadiran yg saling menguatkan tanpa banyak kata...
Temukan kebahagiaan dlm hari-hari mu saat ini dgn penuh ucapan syukur...
(29.5.2011 08:18:22)


“Milikilah Terang di Matamu!”

Mat. 6: 19 – 23;


 Ada ungkapan, “hati mempunyai mata, tapi sayangnya mata tidak mempunyai hati.” Di balik benar tidaknya makna ungkapan di atas tapi satu hal yang pasti bahwa Tuhan memberikan kita otak dan hati sebagai alat kontrol segala nafsu dan keinginan kita. Saya selalu senang untuk melambangkannya dengan televisi yang memiliki banyak chanel dan remote control. Televisi tidak bisa aktif tanpa sentuhan jari-jarimu pada remote control yang ada padamu. Pilihan untuk menonton sebuah chanel atau pun menggantinya sangat tergantung pada pencetan jari-jarimu pada nomor channel yang Anda sukai.


Pagi ini Yesus berbicara tentang bagaimana kita mengontrol harta benda, pun kata dan perbuatan kita. Ungkapan yang indah ini kiranya mengungkapkan maksud-Nya; “Di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.”  Syukur kalau orang masih memiliki hati di mana hartanya berada, tapi kalau tidak ada lagi hati di sana, maka yang ada hanyalah nafsu belaka. Masalahnya tidak sesederhana penjelasan di atas, karena yang dimaksudkan oleh Yesus, bisa saja hati menjadi korban dari harta kita, hati bisa saja dibutakan oleh sinaran harta kita sehingga fungsi kontrolnya menjadi mandul. Karena itu, semoga saja kita tidak diikat oleh harta yang kita miliki melainkan sebaliknya mengontrolnya.


Bacaan hari ini pun mengajak kita untuk selalu bersikap positif kepada saudara-saudari kita, apa pun kesalahan dan dosa-dosa mereka yang kita ketahui. Allah menciptakan manusia sesuai citra-Nya. Hal ini berarti setiap manusia itu baik pada dirinya. Menjadi baik atau buruk adalah pilihan bebas manusia itu sendiri. Biarlah di hari ini tanpa mengatakan bahwa yang jahat dalam diri orang lain; istri, suami, anak, orang tua, sahabat-sahabat dibiarkan saja (bisa saja orang terlena dengannya) tapi baiklah kita melihat hal-hal positif dalam diri mereka hari ini dan memuji serta menguatkannya agar mereka pun bangga dengan diri mereka dan tetap memperjuangkan yang baik. Kritik, apalagi dengan cara yang keras dan kasar kadang membuat yang dikritik malah semakin menjadi-jadi dalam sikap buruknya. Sebaliknya, hanya cinta yang mampu mengubah orang (harap saja tidak ada orang yang menyalahgunakan cinta kita). Kritik selalu melihat keburukan dan kekurangan dalam diri orang lain, sebaliknya cinta selalu menciptakan ruang bagi penghargaan kepada orang lain sebagai manusia. Cinta selalu menciptakan sesuatu yang positif dalam hati dan jiwa mereka yang dicintai.


            Semoga saja di hari ini kita memiliki mata yang terang dan indah untuk mampu melihat kebaikan dalam diri sesama kita. Biarlah hari ini lewat kata dan perbuatan kita, orang lain merasa dikuatkan dan disemangati untuk memulai kehidupan mereka yang baru. “Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu; Jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu.”  Karena itu, sebelum berharap dapat melihat mata orang lain yang terang, maka buatlah matamu sendiri lebih dulu menjadi terang. Bagaimana mungkin engkau dapat melihat terang di mata saudaramu jika matamu sendiri terhalang oleh balok besar? Keluarkan balok itu, dan biarlah sinar terang matamu menyinari hati dan pikiran orang lain hari ini. Jadilah berkat untuk mereka. Kamu pasti bisa!

Jumat, 17 Juni 2011

Teriring salam dan doa kecilku untukmu selalu,



Romo Inno

“Mereka tidak pernah meminta pengakuan darimu, tapi mereka sunnguh membutuhkannya.”

Minggu, 20 Maret 2011 Hari Minggu Prapaskah II
Mat 17:1-9
 
      Bukankah air mata kebahagiaan istrimu menetes di pipinya atau setidak-tidaknya ia tersenyum bahagia ketika sebagai suami engkau memuji kecantikan atau keahliannya memasak di depan teman-temanmu yang datang menyantap makan malam di rumahmu? Tapi, sayang ada yang tidak pernah mendapatkan pujian karena memang tidak tahu masak...hehehe....Atau, pernahkah engkau melihat betapa suamimu merasa berarti dan berlipat ganda semangatnya ketika engkau memujinya di antara teman-temanmu? Atau bukankah hati anakmu berbunga-bunga ketika engkau memuji kecantikan atau ketampanannya? Ataukah, bukankah temanmu yang sedang menghadapi problem mengalami kelegaan dan meneteskan air mata ketika engkau datang mengatakan kepadanya; Kawan, engkau sungguh luar biasa karena tetap sabar dalam deritamu? Di balik contoh-contoh ini aku hanya mau mengatakan bahwa secara manusiawi; istri, suami, anak, orang tua, sahabat kenalan, walaupun mungkin mereka tidak mengatakan dengan kata-kata kebutuhan untuk mendapatkan penghargaan dan pengakuan darimu, tapi sungguh mereka juga membutuhkannya.
     
Kisah transfigurasi Yesus di gunung yang disaksikan oleh Petrus, Yohanes dan Yakobus atas salah satu cara mau mengatakan tentang hal yang disebutkan di atas. Coba renungkanlah kata-kata ini; “Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia.” Oke, kata-kata ini memang ditujukan kepada Yesus, akan tetapi, coba rasakanlah di dalam hatimu saat ini, jika setelah Anda melakukan sebuah pekerjaan berat, lalu Anda mendengarkan seseorang berkata kepadamu; “Inilah istriku, suamiku, orang tuaku, anakku, sahabatku tercinta yang aku kasihi.” Bukankah air mata kebahagiaan akan menetes di pipimu, atau, setidak-tidaknya hatimu berbunga-bunga mendengarkan pengakuan lewat kata-katanya? Sahabatku, mereka mungkin tidak memintanya tapi sungguh mereka sangat membutuhkan pengakuan darimu.
     
Oleh karena itu, jika bacaan Injil ini hadir sebagai bahan refleksi kita hari ini, maka aku hanya mau bertanya kepadamu; “Sudahkah Anda memberi pujian atau lebih tepatnya pengakuan kepada istri/suami/anak/orang tua/sahabatmu atas kerja keras dan pengorbanan mereka kepadamu?” Ataukah, kekeliruan, kesalahan bahkan dosa-dosa merekalah yang selalu menjadi perhatianmu setiap saat ketika engkau berhadapan dengan mereka? Sahabatku, aku tidak mengajakmu untuk mengabaikan kejelekan, kekurangan dan kesalahan mereka kepadamu. Kita tentu harus mengingatkan mereka agar tidak akan mengulanginya lagi. Akan tetapi, biarlah di hari ini, kita melupakan segala kekurangan dan kelemahan mereka yang kita jumpai, dan mengatakan sepata kata saja kepada mereka; “Istriku, suamiku, sahabatku, anakku, engkau sungguh berarti di dalam hidupku.” Biarlah aroma kebahagiaan dirasakan oleh mereka, walaupun cuma untuk hari ini saja bila engkau tidak mampu mengatakannya lagi kepada mereka untuk saat-saat yang akan datang. Biarlah cuma kata-kata indah yang menguatkan dan menyenangkan keluar dari mulutmu hari ini kepada mereka yang hidup di sekitarmu. Buatlah hari ini menjadi hari spesial yang takan pernah dilupakan oleh istri/suami/anak/orang tua/sahabat dan kenalanmu sepanjang hidup mereka. Ingat, luka teriris atau terpotong bisa sembuh dan tidak ada bekas di kulit, tetapi luka karena kata-kata sulit terlupakan sepanjang hidup seseorang. Demikian pun, kata-kata pengakuan yang keluar dari mulutmu hari ini akan terkenang sepanjang hidup bila engkau mau mengatakannya kepada seseorang hari ini. Sahabatku, inilah kesempatan bagimu untuk membuat hati orang lain merasakan kebahagiaan. Dan, sungguh, aku percaya bahwa Anda mampu melakukannya hari ini. Sahabatku, jangan menundanya untuk esok, karena jika hari ini Anda dapat melakukannya kepada mereka yang Anda jumpai maka inilah yang terjadi; Anda telah membawa pengalaman transfigurasi 2000 tahun lalu di atas gunung itu ke masa sekarang. Pengalaman Petrus, Yakobus dan Yohanes sungguh dialami oleh mereka yang memandang wajahmu, mendengarkan kata-katamu dan mengalami kehadiranmu yang menyenangkan.


Salam dan doa kecilku untukmu selalu,

Rinnong

“Firman-Nya Abadi”

Mrk. 4:26-34;

“Manusia, hewan dan tumbuhan akan berlalu sesuai dengan waktu Tuhan, tetapi Firman-Nya tetap abadi selamanya.”

            Kita kagum akan buatan tangan manusia seperti kecanggihan sarana komunikasi internet (facebook) atau kita terheran-heran ketika melihat keindahan dan keunikan alam semesta. Meskipun demikian, baik kita yang menciptakan dan hasil ciptaan kita akan punah termakan waktu, tetapi DIA yang menjadi sumber penciptaan adalah kekal abadi untuk selamanya. Dialah Allah kita yang sungguh ajaib itu.
           
            Bacaan hari ini berbicara tentang hal Kerajaan Allah dan pertumbuhannya. Allah adalah Sumber yang memberi pertumbuhan, tetapi menjadi sesuatu yang indah dan membanggakan bahwa kita manusia diberi kesempatan untuk berpartisipasi dalam pertumbuhannya. Oleh karena itu, menjadi sesuatu yang sungguh membanggakan jika setiap dari kita mau dan rela memberi yang terbaik sesuai dengan talenta yang kita miliki. Inilah kepercayaan Allah, maka hendaknya kepercayaan ini digunakan secara tepat dan benar.

            Marilah kita berjuang, khususnya dalam tugas dan pengabdian kita di hari ini, agar kita pun mampu untuk membawa Kerajaan Allah itu kepada orang lain lewat tutur kata, sikap dan tingkah laku kita. Pastikan bahwa Allah tak pernah membiarkanmu sendirian ketika Anda mau berpartisipasi dalam menyebarkan Kerajaan-Nya.

 

Jumat, 28 Januari 2011

Salam dan doa kecilku untukmu selalu,
Rinnong

“Allah tak pernah Berhenti”

Mrk. 4:21-25;

“Ketika Anda memiliki cinta di dalam hatimu maka Anda akan selalu terdorong untuk mencintai orang lain. 
Cinta adalah gerakan jiwa yang tidak akan tenang sebelum mencinta.”


            Jika Anda mempunyai telinga, mendengarlah. Jika Anda mempunyai hati, mencintailah. Jika Anda mempunyai pikiran, mengertilah. Dan jika Ada alasan untuk menari maka menarilah selama itu tak dilarang.

            Bacaan hari ini menunjukkan sisi lain dari menjadikan diri sebagai berkat bagi orang lain. Cinta itu bagaikan seberkas cahaya yang siap menerangi mereka yang berada dalam kegelapan. Cinta selalu mendorong seseorang mengambil jalan ekstrim dalam hal yang tak lazim;
seorang dokter melepaskan kesempatan untuk bekerja di kota besar dan memutuskan untuk bekerja bagi masyarakat desa. Seorang  lulusan terbaik Universitas Harvard meninggalkan dunia yang menjamin posisi, harta dan kesejahteraan dan memutuskan untuk menjadi imam. Seorang yang rela menyerahkan nyawa bagi gereja dan Tuhan. Semua contoh di atas mau menunjukkan sisi misterius dari mereka yang memiliki cinta sejati di dalam dirinya, dan untuk hal seperti ini kadang kita orang luar tak mampu mengertinya selain orang yang menjalaninya.

            Oleh karena itu, jika Anda memiliki cinta maka hatimu akan selalu tertarik kepada situasi atau mereka yang membutuhkan uluran bantuanmu. Jiwamu tidak akan merasa tenang sebelum Anda membantu orang lain, menjadikan dirimu terang yang ditempatkan di atas kaki dian untuk menerangi jalan orang lain untuk bertemu dengan Allah. 

Kamis, 27 Januari 2011

Teriring salam dan doaku untukmu selalu,

Rinnong

“Allah tak pernah Berhenti”

Mrk. 4:1-20; 

“Satu hal yang pasti dari pihak Allah yakni Ia tak pernah berhenti mencintaimu, siapa pun Anda dan Apa pun yang Anda lakukan terhadap-Nya.”

             Saya selalu senang untuk mengatakan kepada para peniten yang datang mengaku dosa di kamar pengakuan bahwa “Allah itu sungguh Allah yang maha pengampun.” Apa yang dilakukan oleh Allah ketika seseorang berdosa adalah “Ia selalu mengambil jalan lain untuk mencintaimu jika Anda berdosa kepada-Nya. Dengan kata lain, pada saat yang sama ketika Anda berdosa, itulah saatnya bagi Allah untuk menawarkan cara lain dalam hal memberikan cinta-Nya kepadamu. Inilah yang sesungguhnya Allah perbuat kepadamu, yakni Ia lebih suka berpikir tentang keselamatanmu daripada dosa-dosamu, walaupun dosa-dosamu sendiri melukai hati-Nya yang penuh cinta.

            Bacaan hari menceritakan tentang sang penabur yang pergi penabur dalam waktu apa saja dan dalam kondisi tanah apa saja. Itulah sikap Allah yang tak pernah berhenti untuk mencintai walaupun Ia kadang ditolak oleh mereka yang dicintai-Nya; itulah sikap Allah yang selalu mengampuni walaupun luka karena dosa tetap dilakukan oleh manusia terhadap-Nya; Ia selalu menyediakan jalan keselamatan bagi manusia, walaupun manusia menolak jalan yang ditawarkan-Nya. Intinya, untuk segala sesuatu menyangkut keselamatan manusia, Allah akan selalu berkorban seperti yang dilakukan-Nya di kayu Salib agar manusia percaya akan cinta-Nya, percaya akan Diri-Nya sebagai Allah, Sang Penyelamat.

            Semoga saja dalam hidup kita pun, mencintai sampai terluka; mengampuni dengan tiada batas dan membantu tiada jenuh, selalu menjadi sikap dasar kita terhadap sesama kita. Jika Allah melakukannya dengan cuma-cuma kepada kita, maka hendaknya dengan cara yang sama kita pun melakukan kepada sesama kita.

 

Rabu, 26 Januari 2011

Salam dan doa kecil untukmu selalu,

Rinnong

“Adakah Ia menemukannya lagi?”

Mrk. 16:15-18; Pesta Bertobatnya St. Paulus,    Selasa, 25 Januari 2011

                   “Mereka mati dengan gagah berani tanpa meninggalkan iman mereka.
Inilah yang menggugah hati seorang Saulus.”


            Hari ini Gereja mengajak kita untuk merayakan sekaligus merenungkan peristiwa bertobatnya Santo Paulus yang sebelumnya disebut Saulus. Saulus diberi hak istimewa oleh para penatua bangsanya untuk membunuh semua yang mengaku diri sebagai Kristen. Sungguh inilah yang berkenan di hati seorang Saulus ketika mereka yang disiksa menerima siksaan dengan suka cita; mereka yang dibunuh rela mati dengan tersenyum; mereka yang diancam tak pernah meninggalkan iman mereka. Sungguh ini menjadi sebuah pengalaman yang merasuk kalbu seorang Saulus sampai akhirnya ia menjadi seorang Paulus, Rasul bagi bangsa-bangsa.

            Rasul Pauluslah yang menjalankan amanat Yesus dalam Injil hari ini dengan gemilang, “pergilah ke seluruh dunia dan wartakanlah Injil kepada semua makluk.” Paulus yang menyeberang ke suku bangsa lain untuk mewartakan Injil, membawa Yesus kepada mereka dan membawa orang-orang asing (diluar) Yahudi kepada Yesus, sungguh menjadi seorang rasul yang besar, bukan hanya karena keberhasilannya mewartakan Injil, melainkan karena derita-derita yang diterimanya dengan senang hati karena Nama Yesus. Semuanya telah kuanggap rugi karena pengenalan akan Yesus Kristus, demikian hasil permenungannya.

            Amanat yang sama seperti yang didengar oleh para Rasul dan dijalankan oleh Santo Paulus tetap menjadi tugas setiap anggota Gereja sampai dewasa ini. Seperti yang biasanya saya sebutkan bahwa kita dipanggil dengan misi untuk membawa Yesus kepada orang lain dan membawa saudara-saudari kita kepada Yesus, maka pengalaman Paulus sungguh menjadi cermin bagi kita untuk mengevaluasi diri, sejauh manakah saya menjadi contoh yang baik dalam mengikuti dan berkorban demi Yesus dan Injil-Nya seperti Paulus? Semoga saja lewat merenungkan semangat pewartaan dan pengorbanan Paulus demi Yesus dan Injil-Nya,  menyemangati setiap dari kita untuk memberikan yang terbaik kepada Yesus. Kiranya kata-kata Paulus ini tetap menjadi dorongan bagi kita untuk mewartakan sabda Tuhan, “upahku adalah bekerja tanpa upah.” Paulus percaya bahwa upah besar telah disediakan oleh Yesus Yang memanggilnya di surge kelak.


Salam dan doa kecilku untukmu selalu,

Rinnong

“Penyakit Menuduh”

Mrk. 3:22-30; 

 “Melemparkan kesalahan adalah kelegaan sesaat
tapi tetap menjadi hantu sepanjang hayat.”
           
            Menuduh orang lain terhadap sebuah kesalahan bahkan dosa kiranya menjadi pengalaman banyak orang. Orang lebih cenderung berbangga jika tuduhannya membuat yang tertuduh tersudut dan malu atas sebuah kesalahan atau dosa. Di lain pihak, yang dituduh, jika benar ia tidak melakukan apa yang dituduhkan kepadanya maka perlu membuat tindakan pembelaan; perbersihan nama atas tuduhan yang dilimpahkan kepadanya.

            Setelah mengajar dan menyembuhkan banyak orang, maka timbullah kecemburuan dalam diri beberapa orang yang menuduh bahwa Yesus menggunakan kuasa penghulu setan dalam tindakan penyembuhannya. Dalam tradisi Yahudi, setan selalu identik dengan kejahatan atau roh yang  bertentangan dengan Allah, kendatipun setan memiliki kuasa yang melebihi manusia. Terhadap tuduhan seperti ini, Yesus mencoba membela diri dengan menjelaskan tentang perbedaan Dirinya dan setan; tidak mungkin ia menggunakan kuasa setan untuk melawan setan. Karena itu, jika Ia mengusir setan dari banyak orang, berarti kuasa mengusir dan yang diusir pasti saling bertentangan satu dengan yang lain.

            Injil hari ini memperingatkan kita akan kecenderungan untuk menuduh orang lain tanpa ada alasan atau bukti yang jelas. Lebih indah melakukan kebaikan daripada menyibukkan diri dengan kecenderungan untuk menuduh orang lain atas sesuatu yang mungkin mereka sendiri tidak pernah lakukan. Karena itu, gunakanlah semua yang Tuhan berikan kepadamu sebagai talentamu untuk melayani Tuhan daripada untuk mempermalukan orang lain atas tuduhan-tuduhan yang tak berasalan.

Senin, 24 Januari 2011

Teriring salam dan doa kecilku untukmu selalu,

Rinnong

Penyakit Menuduh

Mrk. 3:22-30; “Penyakit Menuduh”



“Melemparkan kesalahan adalah kelegaan sesaat
tapi tetap menjadi hantu sepanjang hayat.”

           
            Menuduh orang lain terhadap sebuah kesalahan bahkan dosa kiranya menjadi pengalaman banyak orang. Orang lebih cenderung berbangga jika tuduhannya membuat yang tertuduh tersudut dan malu atas sebuah kesalahan atau dosa. Di lain pihak, yang dituduh, jika benar ia tidak melakukan apa yang dituduhkan kepadanya maka perlu membuat tindakan pembelaan; perbersihan nama atas tuduhan yang dilimpahkan kepadanya.

            Setelah mengajar dan menyembuhkan banyak orang, maka timbullah kecemburuan dalam diri beberapa orang yang menuduh bahwa Yesus menggunakan kuasa penghulu setan dalam tindakan penyembuhannya. Dalam tradisi Yahudi, setan selalu identik dengan kejahatan atau roh yang  bertentangan dengan Allah, kendatipun setan memiliki kuasa yang melebihi manusia. Terhadap tuduhan seperti ini, Yesus mencoba membela diri dengan menjelaskan tentang perbedaan Dirinya dan setan; tidak mungkin ia menggunakan kuasa setan untuk melawan setan. Karena itu, jika Ia mengusir setan dari banyak orang, berarti kuasa mengusir dan yang diusir pasti saling bertentangan satu dengan yang lain.

            Injil hari ini memperingatkan kita akan kecenderungan untuk menuduh orang lain tanpa ada alasan atau bukti yang jelas. Lebih indah melakukan kebaikan daripada menyibukkan diri dengan kecenderungan untuk menuduh orang lain atas sesuatu yang mungkin mereka sendiri tidak pernah lakukan. Karena itu, gunakanlah semua yang Tuhan berikan kepadamu sebagai talentamu untuk melayani Tuhan daripada untuk mempermalukan orang lain atas tuduhan-tuduhan yang tak berasalan.


Teriring salam dan doa kecilku untukmu selalu,

Rinnong, 

“Bawalah Terang ke Dunia.”

Bacaan I               : Yes 8:23-9:3
Bacaan II              : 1 Kor 1:10-13,17
Injil                            : Mat. 4:12-23;


“Dipanggil mewartakan cinta kasih Allah kepada dunia adalah bagaikan membawa lilin di tengah kegelapan.”


          Bacaan pertama dari kitab nabi Yesaya mewartakan sebuah harapan kepada kita tentang terang bagi mereka yang hidup dalam kegelapan dunia dan dosa. Yesaya mengajak umat untuk percaya bahwa terang telah datang dan mereka yang hidup dalam kegelapan dosa akan melihat terang yang sesungguhnya.

            Bacaan Injil menceritakan tentang panggilan murid-murid yang pertama dari seorang penjala ikan yang akan dijadikan Yesus sebagai penjala manusia. Yesus sendiri menujukkan diri-Nya sebagai seorang penjalan manusia yang handal lewat pengajaran dan penyembuhan yang diberikan-Nya. Dengan ini, Yesus menjadikan Diri-Nya pemebuhan dari apa yang dinubuatkan oleh nabi Yesaya bahwa sebuah terang telah datang ke dunia, dan betapa Dia mengharapkan para murid-Nya menerima cahaya-Nya itu dan kemudian membawanya untuk menerangi hidup orang lain, yang masih hidup dalam kegelapan dosa. Lewat pengajaran dan penyembuhan yang diberikan oleh-Nya, Ia mewartakan sebuah harapan akan kesembuhan dan pengampunan dosa kepada umat. Ia meyakinkan umat bahwa Allah kita adalah Allah yang Maha pengampun yang akan memberikan tempat di hati-Nya untuk orang-orang berdosa yang bertobat.

            Dalam buku baru dari Paus Benediktus XVI, sebagai hasil wawancara wartawan Jerman Peter Seewald, Paus menekankan banyak hal seperti tentang penggunaan kondom, tentang dialog, tentang rahasia kepemimpinannya, dan berbagai hal lain. Menyimak dari semuanya itu, Peter Seewald merangkumnya dalam sebuah judul yang indah dan penuh inspirasi, yakni “Light of the World.” Intinya, kita dipanggil untuk membawa terang kepada dunia dan kita seharusnya menjadikan diri kita terang itu lewat kata dan perbuatan kita setiap hari. Semoga saja Injil hari ini memberikan dorongan yang lebih kepada kita sekalian untuk menjadi terang dan membawa terang kepada orang lain.


Selamat berhari minggu.                     Minggu, 23 Januari 2011

Salam dan doa kecilku untukmu selalu,

Rinnong

Popular Posts Widget