The Winner and the looser

The winner sees an answer for every problem. The looser sees the problem in every answer.

Dalam memperjuangkan apa yg kita impikan, perjalanan kadang tdk semulus yg kita rencanakan, Tdk semudah yg diharapkan. Selalu saja ada hambatan, kesulitan, gangguan, kekeliruan, bahkan menemui kegagalan. Apa bedanya, org sukses dgn org gagal (pecundang) dalam menghadapi kondisi demikian? Bedanya, Ada pada cara masing-masing menyikapi aral yg ada di hadapannya. Bedanya, Ada pada sikap mental mereka dalam melihat masalah tsb. Bedanya, Ada pada siapa yg bermental menang & siapa yg bermental kalah.
The looser, jika dihantam kesulitan, mereka selalu bisa membuat 1001 alasan mengapa dia gagal. Dalih itu muncul silih berganti, seakan tiada habisnya. Dia slalu bisa menemukan alasan mengapa dia gagal. Hampir smuanya menunjuk menyalahkan pihak di luar dirinya. Itulah mental pecundang. Jelas, org gagal dan pecundang selalu kelebihan 1 alasan. Sebaliknya, the winner jika di hadapkan pada rintangan, halangan, kesulitan, kegagalan, akan melihat ke dalam terlebih dahulu melakukan introspeksi diri. Dia akan mencari penyebabnya dari dalam, menilai mencari kekurangan atau kesalahan dari apa yg mjd penyebab timbulnya masalah kegagalan. Jika sebab ditemukan, dia akan mencari cara u/ memperbaikinya. Itulah sebabnya, org sukses terus bertambah sukses. Memang org sukses selalu kelebihan 1 cara. Kesuksesan sejati adalah akumulasi dari kegagalan-kegagalan kecil yg mampu kita atasi, Sehingga halangan, kesulitan, kegagalan justru merupakan sarana terbaik dalam melatih mematangkan mental kita Tangan yg lamban membuat miskin, Tetapi tangan orang rajin menjadikan kaya. Orang sukses (pemenang) selalu kelebihan 1 cara, Orang yang gagal (pecundang) selalu kelebihan 1 alasan !!! Termasuk yg mana diri Anda? Selamat pagi Sobat.... Tetap semangat!!

FOKUS

Beberapa ksatria Pandawa sedang belajar memanah seekor burung yang sedang bertengger di ranting pohon. Sang guru (SG) bertanya kepada setiap ksatria setiap kali mereka hendak memanah,
Apa yang kau lihat muridku?
Yudistira menjawab, Saya melihat dahan, dedaunan dan burung.
Bima menjawab, Saya melihat pohon, ranting dan burung.
Ketika tiba giliran Arjuna (A), sang guru kembali mengajukan pertanyaan yang sama:
(A): Saya melihat burung,Guru.
(SG): Apakah engkau melihat pohon?
(A):Tidak Guru.
(SG): Apakah kau lihat dedaunan?
(A): Tidak, Guru. Saya hanya melihat burung, Guru!
(SG) tersenyum sambil berkata,
Bagus muridku, kamu tidak perlu memanahnya, sebab aku tahu panahmu pasti tepat sasaran.
Kisah diatas menekankan pentingnya sebuah FOKUS. Kalau kita fokus, maka yang kita lakukan akan tepat sasaran. Kalau kita terlalu banyak memperhatikan hal2 di luar sasaran dan tidak fokus, kita akan sangat sulit mengenai sasaran.
Halangan, tantangan dan rintangan memang selalu ada, namun fokuskan perhatian kita hanya pada apa yang ingin kita capai. Kata2 negatif, berita2 pesimis, pikiran2 yg membuat kita kerdil dan ejekan2 barangkali berseliweran di telinga kita. Meski demikian, jangan pernah kehilangan fokus! Fokuslah dgn sasaran yg ingin kita capai, maka langkah kita akan tepat menuju sasaran..
Selamat pagi Sobat...Tetap semangat!!!

FILOSOFI POHON


Rubrik Kebijaksanaan Hidup

(*) Filosofi Pohon(*) 

Ada seorang bijak yang bercerita tentang filosofi sebuah pohon. Berikut ini beberapa pelajaran yang bisa petik ketika melihat sebuah pohon :

:) Pohon memperoleh makanan dari tanah melalui akar-akarnya yang bekerja dari dalam. Semakin dalam akarnya, maka semakin banyak pula nutrisi yang diambil. Hal ini mengumpamakan relasi kita dengan Tuhan sebagai Sumber Kehidupan.

:) Bila kita kurang memiliki hubungan yang erat dengan Tuhan, maka hidup kita pun sulit untuk berbuah. Hidup kita sulit untuk berubah menjadi lebih baik jika tanpa campur tangan Tuhan.

:) Pohon senantiasa memberi. Pohon tidak tersinggung ketika buahnya dipetik. Terkadang kita protes dan kecewa karena bukan kita yang menikmati segala kerja keras dan jerih payah yang sudah kita usahakan.

(y) Nah, inilah pentingnya kerelaan untuk memberi. Percayalah kita bekerja bukan hanya untuk diri kita sendiri saja, tapi juga untuk memberi sesuatu kepada orang lain, terlebih mereka yang lebih membutuhkan.

(y) Buah yang dihasilkan pohon memiliki biji. Dan dari biji itu pula kehidupan baru dimulai. Ini berbicara tentang bagaimana hidup kita memberi inspirasi dan pengaruh kepada orang lain. Laksana sebuah biji yang mendatangkan kehidupan baru, hendaknya pula hidup kita senantiasa membawa sukacita dan damai bagi sesama.  

PERCIKAN HATI
Rabu, 23 Desember 2015

Menghargai Waktu

Rubrik Motivasi Kerja & Usaha

Menghargai Waktu

Ada satu ungkapan bijak yang menarik untuk kita renungkan bersama: Waktu lebih berharga daripada uang. Anda dapat memperoleh uang lebih banyak, tetapi Anda tidak dapat memperoleh waktu lebih banyak.

Kita mungkin bisa punya banyak kesempatan untuk melakukan berbagai hal, tapi yang pasti kita hanya punya satu momentum waktu untuk setiap peristiwa.

Untuk itu, nikmatilah setiap momen kehidupan yang harus kita lalui. Manfaatkanlah waktu yang diberikan Tuhan sebagai anugerah yang hendaknya kita syukuri dan kita isi dengan hal-hal yang bermanfaat sebaik mungkin.

Jika di masa lalu kita kurang membuat prioritas, waktu kita banyak yang terbuang percuma, belajarlah dari pengalaman-pengalaman itu. Berusahalah untuk tidak melakukan lagi kesalahan yang sama. Aturlah waktu sedemikian rupa, sehingga semua tugas dan tanggung jawab kita dapat terlaksana.

Ketahuilah ketika kita punya kesadaran akan berharganya waktu, maka kita pasti akan bekerja dengan semangat yang baru untuk mencapai semua target yang ingin kita raih dan selesaikan.
Mari berusaha!

PERCIKAN HATI
Senin, 21 Desember 2015

Pembawa Damai

Rubrik Motivasi Rohani

Pembawa Damai

Perjalanan dari Nazaret ke kota Karem di Yudea bukanlah perjalanan yang mudah untuk dilalui. Apalagi bunda Maria tengah hamil muda. Namun itu tidak menyurutkan semangat dari bunda Maria untuk bertemu dengan Elisabet, saudarinya yang juga tengah mengandung.

Tentu saja kunjungan ini amat menggembirakan bagi Elisabet. Bahkan ketika Maria memberi salam, anak di dalam rahim Elisabeth melonjak kegirangan. Elisabeth pun dipenuhi Roh Kudus dan mengakui Maria sebagai ibu Tuhan.

Sahabat, dalam masa penantian ini, kita pun diharapkan dapat melakukan “perjalanan” seperti yang dilakukan oleh Bunda Maria.  Kita perlu berjuang untuk menaklukkan kebiasaan-kebiasaan buruk yang bisa saja sudah tinggi seperti gunung namun tidak kita sadari. Kita mesti berusaha untuk perlahan-lahan mengurangi kebiasaan-kebiasaan buruk itu.

Jika kita mampu melakukannya itu berarti sedikit demi sedikit kita akan membawa kabar yang menggembirakan bagi sesama yang berada di sekitar kita. Dan kita akan semakin merasakan bahwa kita sedang berjalan membawa Yesus yang kehadiran-Nya senantiasa membawa damai serta sukacita bagi sesama. Semoga!

PERCIKAN HATI
Minggu, 20 Desember 2015

Harga Lebih untuk Kebaikan

Rubrik Cerita Bermakna

Harga Lebih untuk Kebaikan

Sepasang suami-istri menyewa sebuah rumah. Sejak awal tidak ada pohon di halaman rumah itu, untuk itu sang istri menyarankan agar menanam beberapa pohon.

Tapi rupanya ide ini tidak disetujui sang suami. Padahal mudah saja baginya untuk membeli beberapa bibit tanaman atau untuk berjalan ke hutan sekitar, menggali pohon-pohon kecil, kemudian menanam pohon-pohon itu di halaman rumah. Ia berkata, tugas mereka hanya membayar uang sewa rumah itu.

Tahun demi tahun telah berlalu tapi sang suami tak pernah menanam satu pohon pun. Selama 25 tahun, ia hanya membayar uang sewa rumah. Suatu ketika, ia mampu membeli rumah itu. Sekarang rumah itu telah menjadi miliknya, tetapi tidak ada sebatang pohon pun di halaman rumahnya.

Padahal jika sang suami mau menunjukkan kemurahan hati dan kebaikan dengan berbuat lebih banyak dari apa yang menjadi tugasnya, maka ia pasti akan memiliki pohon-pohon di halaman rumah yang dapat memberikan kesejukan baginya.  

Sahabat, terkadang kita harus membayar dengan harga yang lebih untuk sebuah kebaikan. Itulah pengorbanan. Tapi ketahuilah tidak ada pengorbanan yang sia-sia. Pengorbanan demi kebaikan yang kita lakukan dengan penuh ketulusan pasti bisa menjadi berkat bagi orang lain tapi juga untuk diri kita sendiri.

PERCIKAN HATI
Sabtu, 19 Desember 2015

Belajar Taat

Rubrik Renungan

Belajar Taat

“Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya.” (Mat. 1:24)

Yusuf, suami bunda Maria dan bapa piara dari Yesus adalah pribadi yang istimewa. Sungguh tidak salah apabila bunda Maria bertunangan bahkan pula menjadi istrinya.

Bagaimana tidak? Santo Yusuf berkenan memikul tanggung jawab yang berat yaitu mengambil Maria sebagai isteri yang telah mengandung sebelum mereka hidup bersama.

Belum lagi ditambah dengan kabar dari malaikat yang menyatakan bahwa Anak yang dikandung Maria akan menjadi penyelamat umat manusia dari dosa.

Sebagai seorang ayah, tentu tanggung jawab ini tidak ringan. Tapi santo Yusuf tidak menolak tugas ini. Sesudah mendapat kabar dari malaikat lewat mimpi, ia melaksanakan semua yang diperintahkan oleh malaikat Tuhan. Yusuf sungguh taat pada kehendak Allah.

Sahabat, terkadang bila berhadapan dengan tugas dan tanggung jawab yang berat, kita mudah menolaknya. Padahal jika apa yang dipercayakan kepada kita itu memang sesuai dengan kompetensi, pengetahuan dan kemampuan kita, maka sudah selayaknya bila kita menerima tugas itu.

Rasa takut dan cemas ketika berhadapan dengan tugas yang berat akan berkurang jika kita senantiasa memohon penyertaan Tuhan dalam doa. Pandanglah setiap tugas dan tanggung jawab sebagai panggilan yang diberikan Tuhan agar nama-Nya semakin dimuliakan lewat pekerjaan ataupun pelayanan yang dipercayakan kepada kita.

Jika demikian, kita pasti akan selalu dimampukan untuk melaksanakan setiap tanggung jawab yang dipercayakan kepada kita.

PERCIKAN HATI
«Jumat, 18 Desember 2015»

Mari Berbuat Baik

Rubrik Kata Mutiara

Mari Berbuat Baik!

Bila Anda tak dapat memberi makan seratus orang, berilah makan satu orang saja.

Salah satu hambatan terbesar ketika orang ingin berbuat baik adalah pikiran-pikiran negatif  yang sering membuat kita akhirnya tidak jadi melaksanakan niat baik itu. Padahal belum tentu apa yang kita pikirkan itu akan terjadi.

Apalagi untuk maksud baik, pasti selalu ada jalan yang diberikan Tuhan agar apa yang kita rencanakan itu dapat terwujud.

Oleh sebab itu, mari kita biasakan untuk tidak menunda kebaikan yang dapat kita lakukan hari ini atau bahkan saat ini. Bila kita belum mampu untuk melakukan sesuatu yang besar, tidak usah berkecil hati.

Kebaikan yang kecil sekalipun, yang kita lakukan dengan penuh ketulusan pasti bisa menjadi berkat bagi orang lain.

PERCIKAN HATI
Kamis, 17 Desember 2015

Menemukan Tuhan dalam pernikahan

Rubrik Hidup Keluarga

Menemukan Tuhan dalam Pernikahan

Setiap orang yang memutuskan untuk menikah tentu menginginkan sebuah rumah tangga atau pernikahan yang harmonis dan bahagia. Itu adalah hal yang sangat wajar dan manusiawi.

Namun kenyataan membuktikan bahwa dalam hidup pernikahan tidak selalu ada keharmonisan dan kebahagiaan. Ada saat di mana hidup pernikahan menjadi berantakan karena ada persoalan tertentu. Akhirnya orang tidak merasa bahagia dengan pilihan hidupnya itu.

Padahal, keluarga bahagia itu tidak terbentuk begitu saja. Perlu ada usaha dan perjuangan untuk mewujudkannya.
Bahkan sebagai umat beriman, hidup pernikahan harus dilihat melampaui keinginan untuk mencari kebahagiaan dan kesenangan yaitu untuk mencari dan menemukan kehendak Tuhan di dalamnya.

Agar kita bisa menemukan Tuhan dan kehendak-Nya dalam hidup pernikahan, pertama kita harus menciptakan keluarga sebagai tempat yang kudus, dimana kasih Tuhan hidup dan tinggal di dalamnya.

Praktikkanlah kasih, sapalah dengan penuh kasih sayang agar cinta dan kasih senantiasa terpelihara di tengah keluarga.

Lalu pandanglah pasangan sebagai pribadi yang berharga. Jangan remehkan pasangan apapun itu kelemahannya. Dan yang terpenting berpeganglah pada komitmen nikah yang telah dibuat bersama.

Berusahalah untuk setia satu sama lain, taburlah kasih, maka kita bisa menemukan kehendak Tuhan yang indah di tengah keluarga kita.

PERCIKAN HATI
Rabu, 16 Desember 2015

Jangan tawar hati

Rubrik Inspirasi Kitab Suci

Jangan Tawar Hati

“Jika engkau tawar hati pada masa kesesakan, kecillah kekuatanmu.” (Ams. 24:10)

Tawar hati sama artinya dengan menyerah pada keadaan. Memang ada beberapa hal yang tidak dapat diubah atau diperbaiki tapi pasti ada juga hal-hal yang masih bisa kita ubah dan perbaiki.

Jika kita menyerah begitu saja, itu berarti menyia-nyiakan kesempatan baik bagi kita untuk bertumbuh menjadi pribadi yang lebih kuat, menjadi pribadi yang lebih tangguh bahkan tidak menutup kemungkinan bagi kita untuk menjadi orang yang punya keterampilan lebih karena berhasil mengatasi kesulitan dan tantangan.

Untuk itu, mari kita hadapi setiap kesulitan dan kesesakan hidup dengan hati yang teguh. Jangan mau dikalahkan oleh keadaan. Tapi berusahalah sebisa mungkin dengan menemukan inovasi baru atau dengan mencoba cara-cara yang baru untuk mengatasi setiap kesulitan.

Semangat, inovasi atau cara yang baru itu hanya dapat kita peroleh jika kita mampu menguasai diri, tetap tenang dan tentu saja selalu memohon kekuatan dari Tuhan lewat doa. Sebab kekutan terbesar kita dalam menghadapi setiap badai kehidupan hanya berasal dari Tuhan.

Dalam penyertaan Tuhan, kita pasti akan mampu melewati masa-masa sulit dan keluar menjadi pribadi yang lebih kuat dan tangguh dalam hidup.

PERCIKAN HATI
Selasa, 15 Desember 2015

Popular Posts Widget