Syarat ikut Yesus.

Rabu, 3 November, 2010
Luk.14:25-33: “Syarat ikut Yesus.”

“Adalah pengalaman banyak orang bahwa mengikuti Yesus secara total
adalah sebuah salib.”

            Pada waktu merapi meletus dan pilihan untuk bertahan di rumahnya, dan akhirnya meninggal dunia telah menimbulkan pro-kontra terhadap pilihan Mbah Marijan. Ada yang mengatakan bahwa itu sebuah kebodohan, sementara yang lain menyatakan kebanggaan terhadap pilihan seperti itu, walupun resiko yang harus diterima adalah kematian. Menanggapi hal itu, saya cuma berkomentar bahwa ketika cinta telah memenuhi  dan menjadi dasar sebuah pilihan maka kadang membuat seseorang mengambil jalan konyol yang bagi banyak orang adalah sebuah kebodohan, namun bagi orang yang mengalaminya, adalah sebuah resiko dari pilihan hidupnya. Kita tidak bisa mengerti pilihan-pilihan seperti itu secara tuntas sampai kita sendiri mengalami pengalaman yang sama. Yesus dan pilihan kematian-Nya di salib adalah sebuah kebodohan dalam alam pikiran logis manusia, namun menjadi sebuah resiko dari cinta-Nya yang berkobar-kobar untuk menyelamatkan manusia. Ia tahu bahwa Ia akan mati, tetapi pengetahuan-Nya ini  tidak menimbulkan rasa takut yang menuntun-Nya pada sebuah pilihan lain selain Ia harus menerima peristiwa kematian, bukan untuk Diri-Nya sendiri melainkan untuk dan demi orang lain. Cinta sejati menuntut korban, dan Yesus memilih berkorban demi membuktikan kesejatian cinta-Nya kepada manusia.

            Injil hari ini, atas salah satu cara mau menjelaskan akan realitas di atas di mana membuat prioritas dalam hidup terhadap sebuah nilai lebih penting daripada mempertahankan apa yang kita miliki. “Barangsiapa mencintai orang tuanya, sanak-saudaranya, istri atau suaminya lebih daripada-Ku, ia tak layak bagi-Ku, atau barangsiapa tidak memikul salib dan mengikuti Aku tidak layak menjadi murid-Ku.” Yesus tetap menghormati hubungan antara manusia sebagai satu keluarga, tetapi menjadi murid Tuhan dengan melakukan kehendak Allah, jauh lebih penting daripada relasi kemanusiaan yang terjalin di antara sesama manusia. Memprioritaskan Allah dan kehendak-Nya adalah sebuah pilihan dan pilihan tanpa sebuah resiko pasti bukanlah sebuah pilihan pada hakekatnya.

            Pelajaran yang bisa kita petik hari ini adalah perlunya sikap keberanian untuk membuat sebuah prioritas dan menerima segala resiko dari pilihan dan prioritas kita itu. Panggilan dasar manusia adalah menjadi bahagia, tetapi jika salib/penderitaan harus dilalui sebagai sebuah syarat untuk menggapai kebahagiaan itu, maka mengapa harus ditolak? Yesus tahu bahwa pengalaman di Taman Getsemani, pengadilan di rumah Pilatus dan penderitaan sepanjang jalan menuju Golgota dan akhinrya penderitaan Salib akan dialami, tapi kemenangan paskah jauh lebih penting dari semuanya itu. Jika tujuan hidup telah nampak di ujung sebelah maka apa pun aral melintang di sepanjang jalan menuju pencapaian itu akan dihadapi dan dilalui. Karena itu, biarlah kita mintakan Tuhan untuk selalu memperkokoh bahu kita untuk selalu kuat dan tabah memikul setiap beban yang menjadi resiko dari pilihan untuk mengikuti-Nya. Bukankah Ia pernah berkata, “Pikuklah kuk yang Kupasang dan belajarlah daripada-Ku karena Aku lemah lembut, dan pasti bebanmu akan terasa ringan.” Beban salib karena mengikuti Yesus pasti sangat berat, tetapi jika cinta ada dalam hati kita maka apapun rintangan yang kita hadapi takan mampu memisahkan kita dari pada-Nya. Korbankanlah tubuh dan keinginan-keinginan duniawimu agar kebahagiaan jiwa kelak menjadi hakmu untuk dinikmati dalam Kerajaan-Nya.


Teriring salam dan doa kecilku untukmu selalu,

Rinnong

0 komentar:

Posting Komentar

Popular Posts Widget